MAKALAH LIPID
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penyusun ucapkan kehadirat Allah SWT, shalawat dan salam Allah semoga tetap dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Makalah ini membahas mengenai Lipid yang bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Mikrobiologi Perikanan dan sebagai bahan bagi mahasiswa dalam mempelajari mengenai Lipid.Lipid merupakan senyawa yang tidak larut dalam air yang diekstrak dari organisme hidup menggunakan pelarut yang kepolarannya lemah. Jenis lipid yang paling banyak adalah lemak dan triasilgliserol, yang merupakan bahan bakar utama bagi hampir semua organisme.
Makalah ini disusun dengan berbagai literatur khususnya mata kuliah Biokimia, buku-buku yang dianggap relevan, serta pengetahuan dari penyusun sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik sesuai yang diharapkan.
Akhir kata dengan segala kerendahan hati penyusun mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah Biokimia Perikan yang telah memberikan bantuannya dalam penyusunan makalah ini. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, maka bagi para pembaca yang terhormat kami mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan dalam penyusunan yang selanjutnya.
Jatinangor, September 2013
Penyusun
Kelompok 4
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Metabolisme adalah segala proses reaksi kimia yang terjadi di dalam makhluk hidup. metabolism meliputi proses sintesis (anabolisme) dan proses penguraian senyawa (katabolisme) atau komponen dalam sel hidup. untuk melakukan proses metaboliseme sangat membutuhkan berbagai senyawa salah satunya adalah lipid.
Lipid adalah sekelompok senyawa organik yang terdapat dalam tumbuhan,hewan, maupun manusia dan memegang peranan penting dalam struktur dan fungsi sel. senyawa lipid tidak mempunyai rumus empiris tertentu atau struktur yang serupa,tetapi terdiri atas beberapa golongan.berbeda dengan karbohidrat dan protein, lipid mempunyai sifat tidak larut dalam air, tapi larut dalam pelarut organik non polar seperti eter,kloroform,aseton dan benzena. berdasarkan sifat demikian, lipid dapat diperoleh dengan cara ekstraksi dari jaringan hewan atau tumbuhan menggunakan eter atau pelarut non polar lainnya.
Lipid merupakan komponen yang memilik peranan biologis penting dalam yakni sebagai komponen struktur membrane, lapisan pelindung pada beberapa jasad, bentuk energy cadangan, sebagai lapisan pelindung, dan lain sebagainya ,oleh karena itu untuk menggambarkan kegunaan dan fungsi lipid, dan segala aspeknya dibutuhkan pengkajian yang ilmiah dan relevan. karna dari itulah pada makalah ini akan diulas tentang tentang fungsi lipid, penggolongan lipid, reaksi-reaksi kimia yang terjadi pada lipid, dan lain sebagainya.
1.2 Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu supaya:
a. Mengetahui pengertian dari lipid
b. untuk mengetahui penggolongan berbagai jenis lipid
c. untuk mengetahui fungsi dan kegunaan dari lipid
d. Mengetahui reaksi-reaksi kimia yang terjadi pada lipid
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Lipid
Lipid didefinisikan sebagai senyawa yang tidak larut dalam air yang diekstrak dari organisme hidup menggunakan pelarut yang kepolarannya lemah atau pelarut nonpolar. Lipid tidak larut dalam pelarut polar seperti air, tetapi larut dalam pelarut nonpolar seperti alkohol, eter, dan kloroform. untuk memberikan definisi yang jelas tentang lipid sangat sukar, sebab senyawa yang termasuk lipid tidak mempunyai rumus struktur yang serupa atau mirip. sifat kimia dan fungsi biologisnya juga berbeda-beda. walaupun demikian, para ahli biokimia sepakat bahwa Lemak dan senyawa organik lain yang mempunyai sifat fisik seperti lemak dimasukan dalam suatu kelompok yang disebut Lipid. adapun sifat fisik yang dimaksud ialah : (1) Tidak Larut dalam air, tapi larut dalam satu atau lebih dari suatu pelarut orrganik misalnya eter, aseton,kloroform, dan benzene yang sering disebut “pelarut lemak“.
(2) Ada hubungan dengan asam-asam lemak atau esternya.
(3) Mempunyai kemungkinan digunakan oleh makhluk hidup.
Lipid yang diperoleh sebagai sumber energi utamanya adalah dari lipid netral, yaitu trigliserid (ester antara gliserol dengan 3 asam lemak).
2.2 Fungsi Lipid
Fungsi biologis terpenting lipid di antaranya untuk menyimpan energi,sebagai komponen struktural membran sel, dan sebagai pensinyalan molekul. Lipid merupakan senyawa organik yang diperoleh dari proses dehidrogenasi endotermal rangkaian hidrokarbon.
Secara umum dapat dikatakan bahwa lipid memenuhi fungsi dasar, yaitu:
ü Menjadi cadangan energi dalam bentuk sel lemak.
ü Lemak mempunyai fungsi selular dan komponen struktural pada membran sel yang berkaitan dengan karbohidrat dan protein demi menjalankan aliranair ion, dan molekul lain, keluar dan masuk kedalam sel.
ü Lipid dapat berguna sebagai penyerap dan pembawa vitamin A, D, E dan K.
ü Berfungsi sebagai penahan goncangan demi melindungi organ vital dan melindungi tubuh dari suhu luar yang kurang bersahabat.
ü Lemak juga merupakan sarana sirkulasi energy di dalam tubuh dan komponen yang membentuk membrane semua jenis sel.
ü Sebagai hormon dan vitamin. Hormon mengatur komunikasi antar sel, sedangkan vitamin membantu regulasi proses-proses biologis
ü Pembentukan sel dan sumber asam lemak esensial; yang bersifat sebagai pemeliharadan integritas membran sel, mengoptimalkan transpor lipid (karena keterbatasanfosfolipid sebagai agen pengemulsi.
ü Lipid sebagai sumber steroid, yang sifatnya meningkatkan fungsi-fungsi biologisyang penting Contoh : Sterol (kolesterol) dilibatkan dalam sistem pemeliharaan membran, untuk transpor lipid dan sebagai prekursor vitamin D3 asam empedu dan,adrenal dan kortikosteroid).
ü Dari aspek teknologi makanan, lipid bertindak sebagai pelicin makanan yangberbentuk pellet, sebagai zat yang mereduksi kotoran dalam makanan dan berperan dalam kelezatan makanan
2.3 Penggolongan Lipid
Senyawa-senyawa yang termasuk lipid dapat dibagi dalam beberapa golongan. Bloor membagi lipid dalam tiga golongan besar yakni :
· Lipid Sederhana, yaitu ester atau ikatan asam lemak dengan berbagai alkohol, contohnya lemak atau gliserida dan lilin (waxes)
· Lipid Kompleks (Gabungan), yaitu ester asam lemak yang mempunyai gugus lain disamping alkohol dan asam lemak misalnya karbohidrat, fosfat, ataupun protein, contohnya fosfolipid,glikolifid,lipoprotein.
· Derivat Lipid yaitu senyawa yang di hasilkan oleh prosese hidrolisis lipid,contohnya asam lemak,gliserol,dan sterol.
Disamping itu, berdasarkan sifat kimia yang penting, Lipid dapat dibagi kedalam 2 golongan besar yaitu Lipid yang dapat disabunkan (dapat dihidrolisis dengan basa), contohnya lemak. dan Lipid yang tidak dapat disabunkan,contohnya steroid.
Dalam pembahasan yang akan dibahas di makalah ini, Lipid akan dibahas dibagi menjadi 3 bagian yakni Lemak, Fosfolipid dan Steroid, beserta lipid kompleks.
2.4 Lemak
Lemak adalah suatu molekul asam lemak yang terikat dengan gliserol. lemak terbentuk karna kelebihan kalori dalam tubuh. lemak terdiri dari sel-sel lemak yang disebut adiposit. sel ini berisi molekul lemak (trigeliserida) yakni R1-COOH,R2-COOH dan R3-COOH. molekul lemak atau trigeliserida ini dapat dipecah menjadi molekul yang lebih kecil yaitu gliserol dan tiga buah asam lemak. gliserol merupakan suatu trihidroksi alkohol yang terdiri atas tiga atom karbon, jadi tiap atom karbon mempunyai gugus –OH.
Description: fat.jpg
Gambar strukur lemak
sumber :http://lombok-jemprit.blogspot.com/2011/06/struktur-kimia-sel-makromolekul.html
Lemak pada hewan umumnya berupa padat pada suhu ruangan, sedangkan lemak pada tumbuhan berupa zat cair. Lemak yang mempunyai titik lebur tinggi mengandung asam lemak jenuh. sedangkan lemak cair atau yang biasa disebut minyak mengandung asam lemak tidak jenuh.untuk menentukan derajat ketidakjenuhan asam lemak yang terkandung didalamnya diukur dengan bilangan iodium. iodum dapat beraksi dengan ikatan rangkap dalam asam lemak.tiap molekul iodium mengadakan reaksi adisi pada suatu ikatan rangkap, oleh karnanya makin banyak ikatan rangkap, maka makin banyak pula iodum yang beraksi.
Bilangan iodium merupakan banyaknya gram iodium yang dapat bereaksi dengan 100 gram lemak.jadi makin banyak ikatan rangkap, maka makin besar bilangan iodium.
2.4.1 Asam Lemak
Asam lemak (bahasa Inggris: fatty acid) adalah senyawa alifatik dengan gugus karboksil. Bersama-sama dengan gliserol, asam lemak merupakan penyusun utama minyak nabati atau lemak dan merupakan bahan baku untuk semua lipid pada makhluk hidup. Asam ini mudah dijumpai dalam minyak masak/minyak goreng, margarin, atau lemak hewan. Secara alami, asam lemak bisa berbentuk bebas (sebagai lemak yang terhidrolisis) maupun terikat sebagai gliserida (terikat dengan gliserol)
Asam lemak merupakan asam organik berantai panjang yang mempunyai atom karbon dari 4 sampai 24.(biasanya asam lemak memiliki atom karbon yang selalu genap). asam lemak memiliki gugus karboksil tunggal dan ekor hidrokarbon nonpolar yang panjang, yang menyebabkan kebanyakan lipid bersifat tidak larut dalam air dan tampak berminyak atau berlemak. Rumus umum asam lemak, yaitu:
Description: kimpang8.JPG
R adalah rantai karbon yang jenuh atau tidak jenuh dan terdiri atas 4 sampai 24 buah atom karbon. Rantai karbon jenuh adalah yang tidak mengandung ikatan rangkap, sedangkan yang mengandung ikatan rangkap adalah rantai karbon tajenuh.
Description: Lemak pada manusia.JPG
Gambar struktur asam lemak
sumber : http://lombok-jemprit.blogspot.com/2011/06/struktur-kimia-sel-makromolekul.html
Asam lemak tidak terdapat secara bebas atau tunggal di dalam sel atau jaringan, tetapi terdapat dalam bentuk yang terikat secara kovalen pada berbagai kelas lipid yang berbeda. Asam lemak dapat di bebaskan dari ikatan ini oleh hidrolisis kimia atau enzimatik. Beberapa asam lemak juga memiliki cabang gugus metil.
Asam lemak tidak lain adalah asam alkanoat atau asam karboksilat dengan rumus kimia R-COOH or R-CO2H. Contoh yang cukup sederhana misalnya adalah H-COOH yang adalah asam format, H3C-COOH yang adalah asam asetat, H5C2-COOH yang adalah asam propionat, H7C3-COOH yang adalah asam butirat dan seterusnya mengikuti gugus alkil yang mempunyai ikatan valensi tunggal, sehingga membentuk rumus bangun alkana.
Asam lemak merupakan asam lemah, dan dalam air terdisosiasi sebagian. Umumnya berfase cair atau padat pada suhu ruang (27° Celsius). Semakin panjang rantai C penyusunnya, semakin mudah membeku dan juga semakin sukar larut. Karena berguna dalam mengenal ciri-cirinya, asam lemak dibedakan menjadi asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh.
2.4.1.1 Asam Lemak Jenuh
Asam lemak jenuh merupakan asam lemak yang hanya memiliki ikatan tunggal antara atom-atom karbon penyusunnya (tidak memiliki ikatan rantai ganda). Asam lemak jenuh bersifat lebih stabil (tidak mudah bereaksi) daripada asam lemak tak jenuh. Ikatan ganda pada asam lemak tak jenuh mudah bereaksi dengan oksigen (mudah teroksidasi). Karena itu, dikenal istilah bilangan oksidasi bagi asam lemak.
Asam lemak jenuh mempunyai atom hidrogen dua kali lebih banyak dari atom karbonnya, dan tiap molekulnya mengandung dua atom oksigen. Asam lemak jenuh mengandung semua atom hidrogen yang mungkin, dan atam karbon yang berdekatan dihubungkan oleh ikatan valensi tunggal. Asam lemak jenuh dapat dipandang berdasarkan asam asetat sebagai anggota pertama dari rangkaiannya.
Asam-asam lemak jenuh memiliki titik cair yang lebih tinggi dibandingkan dengan asam yang tidak jenuh, untuk atom C yang sama banyaknya. Rantai asam lemak jenuh yang lebih panjang memiliki titik cair yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang rantainya lebih pendek.
Tabel 1. Asam lemak jenuh beratom karbon ganjil dan genap
Nama Sistematik
Nama Umum
Rumus
Cara
tulis singkat
n-Butanoat
Butirat
CH3(CH2)2COOH
4 : 0
n-Heksanoat
Kaproat
CH3(CH2)4COOH
6 : 0
n-Oktanoat
Kaprilat
CH3(CH2)6COOH
8 : 0
n-Dekanoat
Kaprat
CH3(CH2)8COOH
10 : 0
n-Dodekanoat
Laurat
CH3(CH2)10COOH
12 : 0
n-Tetradekanoat
Miristat
CH3(CH2)12COOH
14 : 0
n-Heksadekanoat
Palmitat
CH3(CH2)14COOH
16 : 0
n-Oktadekanoat
Stearat
CH3(CH2)16COOH
18 : 0
n-Eikosanoat
Arakidat
CH3(CH2)18COOH
20 : 0
n-Dokosanoat
Behenat
CH3(CH2)20COOH
22 : 0
n-Pentanoat
Valerat
CH3(CH2)3COOH
5 : 0
n-Heptanoat
Enantat
CH3(CH2)5COOH
7 : 0
n-Nonanoat
Pelargonat
CH3(CH2)7COOH
9 : 0
n-Undekanoat
-
CH3(CH2)9COOH
4 : 0
n-Tridekanoat
-
CH3(CH2)11COOH
13 : 0
n-Pentadekanoat
-
CH3(CH2)13COOH
15 : 0
n-Heptadekanoat
Margarat
CH3(CH2)15COOH
17 : 0
Oksidasi Asam Lemak Jenuh
Lemak di dalam tubuh tidak hanya berasal dari makanan yang mengandung lemak, tetapi dapat pula berasal dari karbohidrat dan protein. Hal ini dapat Terjadi karena ada hubungan terhadap metabolisme karbohidrat lemak dan protein atau asam amino. Asam lemak yang terjadi pada proses hidrolisis lemak, mengalami proses oksidasi dan menghasilkan asetil koenzim A. Salah satu hipotesis yang dapat diterima ialah bahwa asam lemak tepotong 2 atom karbon setiap kali oksidasi. Oleh karena oksidasi terjadi pada atom karbon ᵝ, maka oksidasi tersebut dinamakan ᵝ oksidasi. Sebagai contoh asam heksanoat mengalami proses oksidasi yang tediri atas beberapa tahap.
Tahap-tahap reaksi yang terjadi, yaitu pembentukan heksanoil KoA (reaksi 1); pembentukn senyawa tidak jenuh dengan cara oksidasi (reaksi 2) ; hidrasi (reaksi 3); oksidasi (reaksi 4) dan pemecahan menjadi asetil KoA dan butiril KoA (reaksi 5). Reaksi 2 sampai dengan reaksi 5 terulang lagi untuk butiril KoA yang menghasilkan 2 molekul asetil KoA. Tahap-tahap reaksi tersebut akan dibahas satau persatu secara umum, yaitu :
1. Pembentukan asetil KoA dari asam lemak R-CH2CH2COOH berlansung dengan katalis enzim asil KoA sintetase atau disebut tiokinase dalam dua tahap.
Mula-mula asam lemak bereaksi dengan ATP dan enzim membntuk kompleks enzim-asiladenilat. Molekul asiladenilat terdiri atas gugus asil yang berikatan dengan gugus fosfat pada AMP. Molekul ATP dalam reaksi ini diubah menjadi AMP dan pirofossfat. Kemudian asil AMP bereaksi dengan koenzim A membentuk asil KoA. Pirofosfat dengan segera terhidrolisis menjadi dua gugus fosfat. Reaksi ini yang menyebabkan pembentukan asil KoA berlangsung dengan baik.
2. reaksi pembentukan enoil KoA dengan cara oksidasi. Enzim asil KoA dehidrogenase berperan sebagai katalis dalam reaksi ini. Perlu diperhatikan bahwa reaksi ini mempunyai kesamaan dengan reaksi pembentukan asam fumarat dari asam suksinat pada siklus asam sitrat. Ko enzim yang dibutuhkan dalam reaksi ini adalah FAD yang berperan sebagai akseptor hidrogen. Dua molekul ATP dibentuk untuk tiap pasang elektron yang ditransportasikan molekul FADH2melalui sistem transpor elektron.
3. Dalam enzim enoil KoA hidratase merupakan katalis yang menghasilkan L-hidroksiasil koenzim A. Reaksi ini adalah reaksi hidrasi terhadap ikatan rangkap antara C-2 dan C-3.
4. Reaksi keempat adalah reaksi oksidasi yang mengubah hidroksiasil koenzim A menjadi ketoasil koenzim A. Enzim L-hidroksiasil koenzim A dehidrogenase merupakan katalis dalam reaksi ini dan melibatkan NAD+yang direduksi menjadi NADH. Proses oksidasi kembali NADH ini melalui transpor elektron dapat membentuk tiga molekul ATP.
5. Tahap kelima adalah reaksi pemecahan ikatan C-C, sehingga menghasilkan asetil koenzim A dan asil koenzim A yang mempunyai jumlah atom C dua buah lebih pendek dari molekul semula.
Asil koenzim A yang terbentuk pada reaksi tahap kelima, mengalami metabolisme lebih lanjut melalui reaksi tahap kedua hingga tahap lima dan demikian seterusnya sampai rantai C pada asam emak terpecah menjadi molekul-molekul asetil koenzim A. Selanjutnya, asetil koenzim A dapat teroksidasi menjadi CO2 dan H2O melalui siklus asam sitrat atau digunakan untuk reaksi-reaksi yang memerlukan asetl koenzim A.
Dari reaksi-reaksi tahap 1 sampai tahap 5 tampak bahwa semua substrat adalah derifat dari asil koenzim A. Terbentuknya asil koenzim A dari asam lemak memerlukan energi yang diperoleh dari ATP. Perubahan ATP menjadi AMP berarti ada dua ikatan fosfat berenergi tinggi yang Digunakan untuk mEmbEntuk asetil koenzim A. Semua enzim yang bekerja dalam reaksi-reaksi tersebut terdapat dalam mitokondria, sehingga energi yang ditimbulkan dapat disimpan lebih efisien.
Asam lemak yang mempunyai jumlah atom C genap (2n) akan teroksidasi menjadi n molekul asetil KoA. Untuk asam lemak yang mempunyai jumlah atom C ganjil, maka hasil oksidasinya ialah beberapa molekul asetil KoA dan satu molekul propionil KoA. Propionil KoA dapat diubah menjadi suksinil KoA melalui beberapa reaksi.
Propionil KoA diubah menjadi D-metilmalonil KoA dengan karboksilasi yang menggunakan HCO3- dan ATP. Propionil KoA karboksilase adalah suatu enzim biotin yang menjadi katalis dalam reaksi tersebut. Kemudian isomer D dari metilmelonil KoA segera membentuk isomer L dengan katalis enzim metilmalonil KoA rasemase.
L-metilmalonil KoA pada reaksi berikutnya diubah menjadi suksinil KoA, dengan enzim metilmalonil KoA mutase sebagai katalis dan deoksiadenosilkobalamin sebagai koenzim (B12).
2.4.1.2 Asam Lemak Tak Jenuh
Asam lemak tak jenuh adalah asam lemak yang memiliki ikaran rantai ganda pada atom-atom penyusunnya.Keberadaan ikatan ganda pada asam lemak tak jenuh menjadikannya memiliki dua bentuk yakni bentuk cis dan trans. Semua asam lemak nabati alami hanya memiliki bentuk cis (dilambangkan dengan "Z", singkatan dari bahasa Jerman zusammen). Asam lemak bentuk trans (trans fatty acid, dilambangkan dengan "E", singkatan dari bahasa Jerman entgegen) hanya diproduksi oleh sisa metabolisme hewan atau dibuat secara sintetis. Akibat polarisasi atom H, asam lemak cis memiliki rantai yang melengkung. sedangkan Asamlemak tak jenuh- trans tidak mengalami efek polarisasi yang kuat dan rantainya tetap relatif lurus karna letak atom H nya bersebrangan.
Asam-asam lemak tidak jenuh mengandung lebih sedikit dari dua kali jumlah atom hidrogen sebagai atom karbon, serta satu atau lebih pasangan atom-atom karbon yang berdekatan dihubungkan oleh ikatan rangkap.
Description: Asam_lemak_jenuh_dan_tak_jenuh.JPG
Gambar struktur asam lemak jenuh & tak jenuh
sumber : http://lombok-jemprit.blogspot.com/2011/06/struktur-kimia-sel-makromolekul.html
Asam lemak tidak jenuh dapat dibagi menurut derajad ketidak jenuhannya, yaitu asam lemak tak jenuh tunggal (monounsaturated, monoetenoid, monoenoat), asam lemak tak jenuh banyak (polyunsaturated, polietenoid, polienoat). terjadi apabila beberapa pasang dari atom karbon yang berdekatan mengandung ikatan rangkap dan eikosanoid. Eikosanoid adalah senyawa yang berasal dari asam lemak eikosapolienoat, yang mencakup prostanoid dan leukotrien (LT). Prostanoid termasuk prostaglandin (PG), prostasiklin (PGI) dan tromboxan (TX). Eikosanoid adalah senyawa yang berasal dari asam lemak eikosapolienoat, yang mencakup prostanoid dan leukotrien (LT).
Prostanoid termasuk prostaglandin (PG), prostasiklin (PGI) dan tromboxan (TX). Istilah prostaglandin sering digunakan dengan longgar termasuk semua prostanoid.
Tabel 2. Asam Lemak Tak Jenuh
Nama sistematik
Nama umum
Rumus
Cara tulis singkat
Dek-9-noat
-
CH2CH(CH2)7COOH
10:1
Dodek-9-enoat
-
CH3CH2CH=CH(CH2)7COOH
12:1
Tetradek-9-enoat
Miristoleat
CH3(CH2)3CH=CH(CH2)7COOH
14:1
Heksadek-9-enoat
Palmitoleat
CH3(CH2)5CH=CH(CH2)7COOH
16:1
Oktadek-6-enoat
Petroselinat
CH3(CH2)10CH=CH(CH2)4COOH
18:1
Oktadek-9-enoat
Oleat
CH3(CH2)7CH=CH(CH2)7COOH
18:1
Oktadek-11-enoat
Vaksenat
CH3(CH2)5CH=CH(CH2)9COOH
18:1
Oktadeka-9:12-dienoat
Linoleat
CH3(CH2)4(CH:CHCH2)2(CH2)6COOH
18:ω6
Oktadeka-9:12:15-trienoat
Linolenat
CH3CH2(CH:CHCH2)3(CH2)6COOH
(18:3)ω3
Oktadeka-6:9:12-trienoat
ᵧ-linolenat
CH3(CH2)4(CH:CHCH2)3(CH2)3COOH
18:ω6
Oktadeka-9:11:13-trienoat
Elaeostearat
CH3(CH2)3(CH:CH)3(CH2)7COOH
(20:3)
Eikos-9-enoat
Gadoleat
CH3(CH2)9(CH:CH)(CH2)7COOH
(20:1)
Eikosa-5:8:11:14-tetraenoat
Arakidonat
CH3(CH2)4(CH:CHCH2)4(CH2)2COOH
(20:4)ω-6
Asam Erikosa-11:14:17-pentaenoat
EPA
CH3CH2(CH:CHCH2)5(CH2)2COOH
(20:4)ω-3
Dokos-13-enoat
Erusat
CH3(CH2)7CH:CH(CH2)11COOH
(22:1)
Asam Dokosa-13:16:19-
DHA
CH3CH2(CH:CHCH2)6(CH2)COOH
22:6ω3
Oksidasi Asam Lemak Tidak Jenuh
Seperti pada asam lemak jenuh, tahap pertama oksidasi asam tidak jenuh adalah pembentukan asil KoA. Selanjutnya molekul asil KoA dari asam lemak tidak jenuh tersebut mengalami pemecahan melalui proses ᵝ oksidasi asam lemak jenuh hingga terbentuk senyawa –sis-sis-asil KoA atau trans-sis-asil KoA, yang tergantung pada letak ikatan rangkap pada molekul tersebut. Untuk mendapatkan gambaran yang menyeluruh dari proses oksidasi, akan di berikan contoh oksidasi asam linoleat.
Linoleil KoA yang terbentuk pada tahap pertama, kemudian di pecah melalui proses ᵝ oksidasi, sehingga menghasikan 3 molekul aseti KoA dan Δ3sis-Δ6-sis-dienoil KoA, yang oleh enzim isomerase diubah menjadi Δ2 –trans- Δ6 –sis-dienoil KoA. Senyawa ini kemudian mengalami proses α oksidasi sehingga menghasilkan 2 molekul asetil KoA dan Δ2 –sis-enoil KoA yang oleh enzim hidratase diubah menjadi D(-) β- hidrosiasi KoA dan selanjutnya mengalami proses epimerisasi yang dibantu oleh enzim epimerase membentuk L(+) β- hidroksiasi KoA. Senyawa ini kemudian mengalami proses β oksidasi dan dengan terbentuknya 4 molekul asetil KoA maka selesailah rangkaian reaksi kimia pada proses oksidasi asam linoleat tersebut. Dari 1 molekul asam linoleat terbentuk 9 molekul asetil KoA.
Sintesis Asam Lemak
Sintesis asam lemak bukan berarti kebalikan dari jalur penguraian asam lemak, artinya pembentukan asam lemak sebagian besar berlangsung melalui jalur metabolik lain, walaupun ada sebagian kecil asam lemak yang dihasilkan melalui kebalikan darireaksi
· penguraian asam lemak dalam mitokondria.
Pada hakikatnya sintesis asam lemak berasal dari asetil KoA. Enzim yang bekerja sebagai katalis adalah kompleks enzim-enzim yang terdapat pada sitoplasma, sedangkan enzim pemecahasam lemak terdapat pada mitokondria. Reaksi awal adalah karboksilasi asetil KoA menjadi melonil KoA. Reaksi ini melibatkan HCO- dan energi dari ATP. Dalam sintesis malonil Koenzim A ini, malonil Koa karboksilase yang mempunyai gugus prostetik biotin bekerja sebagai katalis. Reaksi pembentukan malonil KoA sebenarnya terdiri atas dua reaksi. Biotin terikat pada suatu protein yang disebut protein pengangkat karboksilbiotin. Biotin karboksilase adalah enzim yang bekerja sebagai katalis dalam reaksi karboksilasi biotin. Reaksi kedua adalah pemindahan gugus karboksilat kepada asetil KoA. Katalis dalam reaksi ini adalah transkarboksilase.
Telah diteliti bahwa zat-zat antara dalam sintesis asam lemak diikat oleh suatu protein pengangkut asil (asyl carrier protein) atau ACP. Ikatan ini terjadi pada ujung molekul yang mengandung gugus –SH, yaitu gugus fosfopantoteinat. Gugus ini terdapat pula pada molekul koenzim A.
Sistem enzim yang bekerja sebagai katalis dalam sintesis asam lemak jenuh dari asetil koenzim A, malonil koenzim A dan NADPH disebut asam lemak sintetase dan merupakan suatu kompleks multienzim. Tahap berikutnya dalam sintesis asam lemak adalah tahap memperpanjang rangkaian atom C, yang dimulai dengan pembentukan asetil ACP dan malonil ACP, dengan katalis asetiltransasilase dan maloniltransasilase.
Maloniltransasilase bersifat sangat khas, sedaangkan asetiltransasilase dapat memindahkan gugus asilselain asetil, walaupun lambat. Asam lemak dengan jumlah atom C ganjil disintesis berawal dari propionil ACP dan malonil ACP bereaksi membentuk asetoasetil ACP, dengan enzim asil-malonil ACP kondensase sebagai katalis.
Asetil ACP + malonil ACP asetoasil ACP + ACP + CO2dibebaskan. Tahap selanjutnya adaalah reduksi gugus keto pada C nomor 3, dari asetoasil ACP menjadi 3-hidroksil butiril ACP dengan ketoasil ACP reduktase sebagai katalis. Kemudian 3-hidroksil butiril ACP dirubah menjadi kronil ACP dengan pengeluaran molekul air (dehidrasi).
Enzim yang bekerja pada reaksi ini adalah 3-hidroksil asil ACP dehidratase Pada reaksi kondensasi, senyawa 4 atom C.
2.4.1.3 TRIASILGLISEROL
Triasilgliserol adalah ester dari alkohol gliserol dengan tiga molekul asam lemak. Triasilgliserol adalah komponen utama dari lemak penyimpan atau depot lemak pada sel tumbuhan dan hewan, tetapi umumnya tidak dijumpai pada membran. Triasilgliserol merupakan molekul hidrofobik nonpolar, karena molekul ini tidak mengandung muatan listrik atau gugus fungsional dengan polaritas tinggi. Senyawa yang mengandung satu jenis asam lemak pada ketiga posisi disebut triasilgliserol sederhana. Contohnya adalah tristeroilgliserol, tripalmitoilgliserol, dan trioleilgliserol, yang mengandung asam stearat, asam palmitat, dan asam oleat, berturut-turut. Nama biasa yang umum digunakan untuk ketiga triasilgliserol sederhana ini adalah tristearin, tripalmitin dan triolein. Triasilgliserol yang mengandung dua atau lebih asam lemak yang berbeda disebut triasilgliserol campuran.
Triasilgliserol mudah larut didalam pelarut nonpolar, seperti khloroform, benzena, atau eter yang sering kali digunakan untuk ekstraksi lemak dari jaringan. Triasilgliserol akan terhidrolisis jika dididihkan dengan asam atau basa, atau jika diberikan enzim lipase yang disekresi ke dalam usus kecil oleh pankreas. Hidrolisis triasilgliserol oleh KOH dan NaOH disebut penyabunan yang berarti pembentukan sabun, menghasilkan suatu campuran sabun K+atau Na+ dan gliserol. Reaksi ini adalah reaksi kimia utama yang terlibat di dalam pembuatan sabun rumah tangga dari triasilgliserol.
Jika terkena udara, triasilgliserol yang mengandung asam lemak tidak jenuh cenderung mengalami proses auto-oksidasi. Molekul oksigen dapat bereaksi dengan asam lemak yang memiliki dua atau lebih ikatan ganda, mengasilkan produk kompleks yang menyebabkan rasa dan bau yang menyimpang pada lemak yang mengalami ketengikan. Auto-oksidasi lemak tidak jenuh secara normal tidak terjadi di dalam sel, karena adanya aktivitas hambatan dari vitamin e, enzim dan juga oleh asam askorbat. Akan tetapi, hal ini dapat terjadi pada beberapa penyakit, yang menyebabkan pembentukan deposit lipid abnormal pada jaringan tertentu.
2.5 Fosfolipid
Fosfolipid atau fosfatidat ialah suatu gliserida yang mengandung fosfor dalam bentuk ester asam fosfat, oleh karenanya fosfolipid ialah suatu fosfogliserida. senyawa-senyawa dalam golongan fosfogliserida ini dapat dipandang sebagai derivat asam a fosfatidat. gugus yang diikat oleh asam fosfatidat ini antara lain kolin,etanolamina,serin,dan inositol. dengan demikian senyawa yang termasuk fosfolipid ini ialah fosfatidilkolin,fosfatidiletanolamina, fosfatidilserin dan fosfatidinositol.
Description: fosfolipid-mata-rantai.jpg
Gambar struktur fosfolipid
Sumber : http://www.faktailmiah.com/2010/09/09/pembangkit-listrik-tenaga-surya.html
Fosfolipid bentuknya mirip dengan trigeliserida. jika trigeliserida terdiri dari gliserol dan tiga asam lemak, maka fosfolifid terdiri dari gliserol, dua buah asam lemak ditambah dengan gugus fosfat. molekul fosfolipid terdiri atas 2 bagian yakni bagian kepala dan bagian ekor.
bagian kepala yang terdiri atas gliserol dan fosfat bersifat hidrofilik yakni suka mendekati molekul air,sedangkan bagian ekor yang terdiri atas 2 buah asam lemak bersifat hidofobik (menjauhi molekul air).fosfolipid akan membentuk pola tertentu jika dimasukan ke dalam air. di air fosfolipid akan membentuk bulatan. bagian luarnya akan kontak langsung dengan air sedangkan bagian ekornya akan menghindari kontak dengan air. jika dalam jumlah besar fosfolipid dalam air akan membentuk struktur ganda dimana bagian kepalanya kontak dengan air dan Description: fosfolipid1.jpgekornya akan mejauhi air yang disebut “Lipid Bilayer
Description: images.jpg
Gambar Lipid Bilayer Gambar struktur Fosfolipid
Sumber : http://www.faktailmiah.com/2010/09/09/pembangkit-listrik-tenaga-surya.html
2.6 Steroid
Steroid adalah senyawa organik lemak sterol tidak terhidrolisis yang dapat dihasilreaksi penurunan dari terpena atau skualena. Steroid merupakan kelompok senyawa yang penting dengan struktur dasar sterana jenuh (bahasa Inggris: saturatedtetracyclichydrocarbon:1,2cyclopentanoperhydrophenanthrene) dengan 17 atom karbon dan 4 cincin.
Senyawa yang termasuk turunan steroid, misalnya kolesterol, ergosterol, progesteron, danestrogen. Pada umunya steroid berfungsi sebagai hormon. Steroid mempunyai struktur dasar yang terdiri dari 17 atom karbon yang membentuk tiga cincin sikloheksana dan satu cincinsiklopentana. Perbedaan jenis steroid yang satu dengan steroid yang lain terletak pada gugus fungsional yang diikat oleh ke-empat cincin ini dan tahap oksidasi tiap-tiap cincin. Lemak sterol adalah bentuk khusus dari steroid dengan rumus bangun diturunkan darikolestanadilengkapi gugus hidroksil pada atom C-3, banyak ditemukan pada tanaman, hewan dan fungsi.
Description: Struktur dasar steroid.png
sumber:http://pemula-awaliharimu.blogspot.com/2012/12/pengertian-saponin-makalah-saponin.html
Semua steroid dibuat di dalam sel dengan bahan baku berupa lemak sterol, baik berupa lanosterol pada hewan atau fungsi, maupun berupa sikloartenol pada tumbuhan.Kedua jenis lemak sterol di atas terbuat dari siklisasi squalena dari triterpena. Kolesterol adalah jenis lain lemak sterol yang umum dijumpai.
Description: steroids.gif
Gambar jenis-jenis turunan steroid
sumber : http://pemula-awaliharimu.blogspot.com/2012/12/pengertian-saponin-makalah- saponin.html
Beberapa steroid bersifat anabolik, antara lain testosteron, metandienon, nandrolondekanoat, 4-androstena-3 17-dion. Steroid anabolik dapat mengakibatkan sejumlah efek samping yang berbahaya, seperti menurunkan rasio lipoprotein densitas tinggi, yang berguna bagi jantung, menurunkan rasio lipoprotein densitas rendah, stimulasi tumor prostat, kelainan koagulasi dan gangguan hati.
2.6.1 Kolestrol
Kolesterol adalah metabolit yang mengandung lemak sterol (bahasa Inggris: waxy steroid) yang ditemukan pada membran sel dan disirkulasikan dalam plasma darah. Merupakan sejenis lipid yang merupakan molekul lemak atau yang menyerupainya. Kolesterol ialah jenis khusus lipid yang disebut steroid. Steroids ialah lipid yang memiliki struktur kimia khusus. Struktur ini terdiri atas 4 cincin atom karbon.
Adanya kolesterol dpat ditentukan dengan menggunakan beberapa reaksi warna. Salah satu diantaranya ialah reaksi salkowski. Apabila kolesterol dilarutkan dalam khloroform dan kelarutan ini dituangkan diatas larutan asam sulfat pekat dengan hati-hati, maka bagian asam berwarna kekuningan dengan fluoresensi hijau bila dikenai cahaya. Bagian khloroform akan berwarna biru dan yang berubah menjadi merah dan ungu. Larutan kolesterol dalam khloroform bila ditambah anhidrida asam asetat dan asam sulfat pekat, maka larutan tersebut mula-mula berwarna merah, kemudian biru dan hijau. Reaksi ini disebut reaksi Lieberman Burchard. Warna hijau yang terjadi ini ternyata sebanding dengan konsentrasi kolesterol. Karena reaksi Lieberman Burchard dapat digunakan untuk menentukan kolesterol secara kuantitatif.
Description: 0170940102002.png
Gambar struktur kimia kolestrol
sumber : http://iiasukses.blogspot.com/2010/11/tugas-biokimiaa.html
Steroid lain termasuk steroid hormon seperti kortisol, estrogen, dan testosteron. Nyatanya, semua hormon steroid terbuat dari perubahan struktur dasar kimia kolesterol. Saat tentang membuat sebuah molekul dari pengubahan molekul yang lebih mudah, para ilmuwan menyebutnya sintesis.Kolesterol dapat dibuat secara sintetik. Kolesterol sintetik saat ini mulai diterapkan dalam teknologi layar lebar (billboard) sebagai alternatif LCD.
Tingginya kadar kolestrol dalam tubuh menjadi pemicu munculnya berbagai penyakit. Pola makan sehat merupakan faktor utama untuk mengghindari hal ini. Akan tetapi, tidak semua kolestrol berdampak buruk bagi tubuh. Hanya kolestrol yang termasuk kategori LDL saja yang berakibat buruk sedangkan jenis kolestrol [ HDL] merupakan kolestrol yang dapat melarutkan kolestrol jahat dalam tubuh. Batas normal kolesterol dalam tubuh adalah 160-200 mg. Kadar kolesterol yang tinggi dapat diturunkan dengan simvastatin.
2.7 Lipid Kompleks
Yang termasuk dengan lipid kompleks ialah lipid yang terdapat dalam alam yang bergabung dengan senyawa lain, misalnya dengan protein atau dengan karbohidrat. gabungan antara lipid dengan protein disebut lipoprotein. lipoprotein terdapat dalam plasma darah. di dalam plasma darah, terdapat tiga kelas utama plasma lipoprotein yang mengandung 50-90% lipid. Pada protein konjugasi ini, tidak terdapat ikatan kovalen diantara molekul lipid yang terikat kuat dan bagian polipeptida molekul. Plasma lipoprotein mengandung kedua lipid polar dan triasilgliserol, serta kolesterol dan esternya. Triasilgliserol nonpolar dan kolesterol tersembunyi didalam lapisan sebelah luar dari bagian hidrofilik rantai polipeptida yang larut dalam air dan bagian kepala molekul pospogliserida polar yang bersifat hidrofilik. Lipoprotein plasma darah digolongkan berdasarkan densitasnya, yang sebaliknya merupakan gambaran kandungan lipid dari molekul yang bersangkutan.
Semakin besar kandungan lipid molekul ini, semakin rendah densitasnya, dan semakin besar kecenderungan molekul untuk bergerak keatas atau mengapung jika plasma darahnya di sentripusi pada kecepatan tinggi. Selain ketiga kelas lipoprotein, plasma darah juga mengandung khiomikron, terutama setelah mengkonsumsi makanan yang kaya akan lemak. Khilomikron merupakan tetes dari triasilgliserol yang hampir murni, dilapisi oleh lapisan protein yang amat tipis. Molekul ini berukuran jauh lebih besar dibandingkan dengan lipoprotein. Khilomikron membawa triasilgliserol dari usus kecil, menuju depot lemak.
Kombinasi tingkat plasma yang tinggi dari lipoprotein berdensitas sangat rendah (VLDL = very-low-density lipoprotein) dengan tingkat yang rendah dari lipoprotein berdensitas tinggi (HDL = high-density lipoprotein) merupakan faktor penting penyebab aterosklerosis, yaitu pembentukan deposit tebal dari kolesterol dan senyawa ester turunannya pada permukaan sebelah dalam dari pembuluh darah. Aterosklerosis menimbulkan kelumpuhan dan serangan infarksi koroner, yang diakibatkan oleh terganggunya aliran darah melalui pembuluh darah yang tersumbat pada otak dan jantung berturut-turut.
Ketika lipoprotein menyentuh membran sel jaringan target, protein ini tetap terlarut dan tidak bisa masuk ke dalam membran. Ada beberapa jenis protein yakni apoprotein: AI, AII, B48, B100, CI, CII, CIII, D, dan E. Urutan asam amino dari beberapa protein ini teah ditentukan, dan terlihat bahwa protein-protein tersebut memiliki sifat yang menunjukan bahwa bagian dari strukturnya kompatibel dengan hidrokarbon (misalnyaTAGs dan ekor fosfolipid).
BAB III
STUDI KASUS
3.1 Judul
Analisis Kualitatif dan Kuantitatif Asam Lemak Tak Jenuh Omega-3 dari Minyak Ikan Patin (Pangasius pangasius) denganMetoda Kromatografi Gas
3.2 Intisari :
telah dilakukan analisis kaulitatif dan kuantitatif asam lemak tak jenuh omega-3 pada minyak ikan patin (Pangasius pangasius) dengan menggunakan metode kromatografi gas. Kadar Omega-3 yang diperoleh dari minyak ikan patin yaitu berkisar antara 1,16-12,44%. Dari kadar Omega-3 yang diperoleh dari penelitian ini, ikan patin dapat digunakan sebagai sumber Omega-3 alternatif. Dalam pnelitian ini juga dilakukan karakterisasi minyak ikan patin yang meliputi kadar minyak, bilangan asam, bilangan penyabunan, dan bilangan peroksida dengan metode BadanStandarisasi Nasional. Dari hasil penelitian pada ikan patin dengan berat 650-870 gram diperoleh kadar minyak rata-rata 3,827%, bilangan asam berkisar antara 3,66719,521 mgKOH/gr, bilangan penyabunan berkisar antara 91,319-192,656 mg KOH/gr, dan bilangan peroksida berkisar antara 0,778-17,78 mek/kg.
3.3 METODOLOGI PENELITIAN
3.3.1 Alat dan Bahan
· Alat yang digunakan adalah:
Erlenmeyer, gelas kimia,gelas ukur, corong Buchner, pipet tetes, corong pisah,labu ukur, spatula buret, neraca analitik, hot plate,kertas saring, kain kasa, pengaduk magnit, panci stain-less steel , tabung gas nitrogen, lemari pendingin,statif dan klem, pendingin tegak, serta seperangkatalat kromatogra_ gas.
· Bahan yang dipakai adalah :
ikan patin(Pangasius pangasius) , n-heksan, akuades, NaCl,NaOH, etanol, methanol, bentonit, HCl, urea, EDTA,gas nitrogen, alcohol, KOH, kloroform, asam asetatglacial, KI, natrium tiosulfat dan indikator pp.
3.3.2 Prosedur kerja
1.Bahan baku yang digunakan berupa ikan patin dipotong-potong sehingga menjadi potongan kecil dengan berat lebih kurang 100 gramyang bertujuan untuk memudahkan proses eks-traksi.
2. Ekstraksi minyak ikan dilakukan dengan cara:bagian-bagian ikan yang telah dipotong-potong
kecil dimasukkan kedalam panci stainless steel,kemudian ditambahkan akuades sebanyak 500 ml,
3.ikan direbus sampai mendidih dan didiamkan selama 30 menit sambil diaduk perlahan. Rebusan ikan disaring untuk memisahkan antara minyak kasar dan padatan. Minyak kasar yangdiperoleh dimurnikan dengan penambahan NaCl2,5% dan dipanaskan pada temperatur 50C.
4.Lapisan minyak dan air dipisahkan dengan corongpisah. Diambil lapisan minyak, kemudian ditambahkan bentonit ke dalam lapisan minyak sambildiaduk. Setelah didiamkan beberapa saat, laludisaring untuk memperoleh minyak yang bersih.Minyak yang diperoleh disimpan di dalam wadahtertutup rapat serta terhindar dari kontaminasilangsung dengan sinar matahari dan udara.
5.Angka asam, angka penyabunan dan angka peroksida ditentukan sesuai dengan cara Badan Standarisasi Nasional
6.Isolasi asam lemak tak jenuh majemuk Omega-3, dilakukan melalui 2 tahap yaitu penyabunan
minyak ikan dan fraksinasi dengan urea, sesuaidengan metode Medina et al.
7.Analisis Omega-3 dengan kromatogra_ gas (GC)dilakukan secara berikut, sample minyak diam-bil 30-40 mg ditempatkan dalam tabung bertutup Teon dan ditambahkan 1 mL NaOH 0,5 N dalam metanol dan dipanaskan dalam penangas air selama 20 menit.Kemudian tambahkan 2 mL BF3 20% dipanaskan lagi selama 20 menit. Setelah dingin ditambahkan 2 mL NaCl jenuh dan 1 mLisooktan dan dikocok dengan baik. Lapisan isooktan dipisahkan dengan bantuan pipet tetes kedalam tabung yang berisi 0,1 g Na2SO4, dan dibiarkan selama 15 menit. Fasa cair dipisahkan dan selanjutnya diinjeksikan ke dalam kromatografigas. Untuk mengetahui waktu retensi EPA danDHA, disuntikkan terlebih dahulu ke dalam kromatografi gas ester asam lemak dari standar metilester asam lemak atau FAME yang mengandungEPA dan DHA sebagai standar, adanya EPA danDHA sampel dapat dilihat dengan menyamakan waktu retensi EPA dan DHA standart.
3.4 HASIL DAN PEMBAHASAN
§ Kadar minyak ikan patin
Kadar minyak ikan patin rata-ratadengan berat 650-879 gram adalah 3,827%. Hasil ini jauh lebih besar dibandingkan dengan kadar minyakikan Cod (Gadus morrhua) yaitu sebesar 0,4%. Akan tetapi kadar ini masih lebih rendah jika dibandingkan dengan kadar lemak ikan laut dalam yaitu sekitar 4,8 %.
§ Analisa angka asam
Angka asam dipergunakan untuk mengukur jumlah asam lemak bebas yang terdapat dalam minyak.Angka asam yang diperoleh dalam minyak ikan patin yang diteliti berkisar antara 3,667-19,521 mgKOH/gr(0,37%-1,95%), sementara dalam angka asam dari minyak ikan komersil adalah 3%. Angka asam yang besar menunjukkan terbentuknya asam lemak bebasyang besar dari hidrolisis minyak. Makin tinggi angka asam makin rendah kualitas minyaknya.
§ Analisis angka penyabunan
Angka penyabunan menunjukkan secara relative besar kecilnya molukul asam lemak yang terkandung dalam minyak. Minyak yang disusun oleh asam lemak berantai C pendek berarti mempunyai berat molukul relative kecil akan mempunyai angka penyabunan besar dan sebaliknya minyak dengan berat molukul besar mempunyai angka penyabunan yang relative kecil.
§ Analisis Angka Peroksida
Dalam penelitian ini angka peroksida ditentukan karena angka peroksida merupakan nilai terpenting untuk menentukan derajat kerusakan minyak. Asam lemak tak jenuh dapat mengikat oksigen pada ikatan rangkapnya sehingga membentuk peroksida. Semakin kecil angka peroksida berarti kualitas minyak semakin baik. Angka peroksida yang diperoleh adalah berkisar antara 0,778-17,78 mek/kg menunjukkan bahwa angka peroksida pada minyak ini besar, sementara dalam spesifikasi minyak ikan laut dalam adalah lebih kecil atau sama dengan 5 mek/kg.
Kerusakan pada lemak atau minyak dapat terjadi karena proses oksidasi oleh oksigen dari udara terhadap asam lemak tidak jenuh dalam lemak atau minyak yang terjadi selama proses pengolahan atau penyimpanan. Asam lemak tidak jenuh semakin reaktif terhadap oksigen dengan bertambah jumlah ikatan rangkap pada rantai molukul. Oksidasi spontan asam
lemak tidak jenuk didasarkan pada serangan oksigen terhadap ikatan rangkap sehingga terbentuk peroksida.
§ Analisa kualitatif dan kuantitatif asam lemak Omega-3, DHA dan EPA
Analisis komposisi asam lemak ikan patin dilakukan secara kualitatif dan kuatitatif menggunakan instrument Kromatografi Gas (GC). Untuk mengidentifikasi komponen-komponen asam lemak ikan patin yaitu dengan menyamakan waktu retensi sampel dengan waktu retensi asam lemak standar dari SupelcoTM 37 Componen FAME Mix (Bellefonte, USA) yang telah
diketahui dengan pasti jenis asam lemaknya.
dari data dapat diidentifikasi bahwa secara kualitatif lemak ikan patin memiliki kandungan Omega-3, EPA dan DHA, hal ini terlihat adanya kesamaanwaktu retensinya.EPA, (C20:5 w-3) dapat juga ditulis (C20:5n3) atau dengan nama sistematis asam cis-5,8,11,14,17 eikosapentaenoat. Hasil asam lemak tak jenuh majemuk EPA dari minyak ikan patin yang diteliti adalah berkisar 0,21-2,48%, DHA, (C22:6 w-3) atau dapat ditulis juga (C22:6n3), dari minyak ikan patin yang diteliti adalah berkisar 0,95-9,96%. Nama sistematis DHA adalah asam cis-4,7,10,13,16,19-heksaenoat.
3.5 Kesimpulan Penelitian
ü Pada minyak ikan patin mengandung asam lemak tak jenuh majemuk Omega-3.
ü Lemak ikan patin mengandung EPA dan DHA untuk berat ikan berkisar antara 650-870 gram adalah , masing-masing 0,21-2,48% dan 0,95-9,96%.
ü Minyak ikan yang diproleh dari ikan patin dengan berat 650-870 gram mempunyai kadar minyak rata-rata 3,827%, angka asam berkisar 3,667-19,521 mgKOH/gr, angka penyabunan berkisar 91,707-192,207 mgKOH/gr, dan angka peroksida berkisar antara 0,778-17,78 mek/kg.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari uraian yang telah diuraikan dapat disimpulkan sebagai berikut :
ü Lipid merupakan senyawa yang tidak larut dalam air yang diekstrak dari organisme hidup menggunakan pelarut yang kepolarannya lemah atau pelarut nonpolar.
ü Lipid dapat digolongkan menjadi 3 golongan besar yakni : Lipid Sederhana, lipid Kompleks, dan derivat lipid.
ü Lipid memiliki berbagai fungsi yakni sebagai penyimpan cadangan energi, sebagai penyerap dan pembawa vitamin A,D,E,dan K dan lain sebagainya.
4.2 Saran
Sebaiknya penggunaaan makanan yang mengandung kadar lemak yang sangat tinggi sebaiknya dikurangi, hal ini dikarenakan ada beberapa jenis lemak tertentu seperti asam lemak jenuh, dan asam lemak tak jenuh-trans sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh.
DAFTAR PUSTAKA
Ngili,Yohanis.2010. Biokimia Dasar. Bandung:Rekayasa Sains
Panagan, Almunady T.dkk.2011.Analisis kualitatif dan kuantitatif asam lemak tak jenuh omega-3 dari minyak ikan patin (pangasisus pangasius) dengan metode kromotografi gas.J.Penelitian Sains.vol 14.no 4 (C).
Poedjiadi, Ana dkk. 2005. Dasar-Dasar Biokimia.Depok:Universitas Indonesia Press
Terjemaahan dari buku Principles of Biochemistry. Lehninger, Albert dkk. Dasar- Dasar Biokimia Jilid I. Jakarta:Erlangga
Yasin, Estid. dkk.2006.Penuntun Praktikum Biokimia untuk mahasiswa analisis. Yogyakarta:Penerbit Andi Yogyakarta
Anonim.2013 http://www.scribd.com/doc/56235872/Biokimia-Hormon-Steroid. diakses pada tanggal 24 September 2013 pukul 20:35 WIB
Anonim.http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_lemak. diakses pada tanggal 27 September 2013 pukul 17.10 WIB
sumber
https://sitiaminah2006.blogspot.com/2016/03/makalah-lipid.html
No comments:
Post a Comment