LAPORAN PRAKTIKUM PERHITUNGAN HEMATOKRIT IKAN MAS
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA2.1 Ikan Mas (Cyprinus carpio)
Ikan mas termasuk famili cyprinidae yang mempunyari ciri-ciri umum, badan ikan mas berbentuk memanjang dan sedikit pipih ke samping (compresed) dan mulutnya terletak di ujung tengah (terminal), dibagian mulut dihiasi dua pasang sungut, yang kadang-kadang satu pasang di antaranya kurang sempurna dan warna badan sangat beragam.
Klasifikasi Ikan Mas
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Cypriniformes
Family : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Spesies : Cyprinus carpio.
2.2 Ciri Morfologi Ikan Mas
Ikan mas termasuk famili Cyprinidae yang mempunyai ciri-ciri umum, badan ikan mas berbentuk memanjang dan sedikit pipih ke samping (Compresed) dan mulutnya terletak di ujung tengah (terminal) dan dapat di sembulkan, di bagian mulut di hiasi dua pasang sungut, yang kadang-kadang satu pasang di antaranya kurang sempurna dan warna badan sangat beragam. (Susanto,2007).
Tubuh ikan mas digolongkan menjadi tiga bagian yaitu kepala, badan, dan ekor. Pada kepala terdapat alat-alat seperti sepasang mata, sepasang cekung hidung yang tidak berhubungan dengan rongga mulut, celah-celah insang, sepasang tutup insang, alat pendengar dan keseimbangan yang tampak dari luar (Cahyono, 2000). Jaringan tulang atau tulang rawan yang disebut jari-jari. Sirip-sirip ikan ada yang berpasangan dan ada yang tunggal, sirip yang tunggal merupakan anggota gerak yang bebas.
Bentuk tubuh ikan mas agak memanjang dan memipih tegak (comprossed). Mulutnya terletak di bagian tengah ujung kepala (terminal) dan dapat disembulkan (protaktil). Di bagian anterior mulut terdapat dua pasang sungut. Di ujung dalam mulut terdapat gigi kerongkongan (pharyngeal teeth) yang terbentuk atas tiga baris gigi geraham. Secara umum hampir seluruh tubuh ikan mas ditutupi sisik kecuali pada beberapa varietas yang hanya memiliki sedikit sisik. sisik ikan mas berukuran besar dan digolongkan ke dalam sisik tipe sikloid (lingkaran).
Sirip punggungnya (dorsal) memanjang dengan bagian belakang berjari keras dan di bagian akhir (sirip ketiga dan keempat) bergerigi. Letak sirip punggung berseberangan dengan permukaan sisip perut (ventral). Sirip duburnya (anal) mempunyai ciri seperti sirip punggung, yaitu berjari keras dan bagian akhirnya bergerigi. Garis rusuknya (linea lateralis atau gurat sisi) tergolong lengkap, berada di pertengahan tubuh dengan bentuk melintang dari tutup insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor.
Insang berjumlah tiga pasang dengan penutupnya (operculum). Hampir seluruh tubuh ikan mas ditutupi sisik dan hanya sebagian kecil saja yang tubuhnya tidak ditutupi sisik. Sisik ikan mas ini berukuran relatif besar dan merupakan tipe sisik sikloid. Ikan mas mempunyai 5 jenis sirip yaitu sepasang sirip dada (pectoral fin), sepasang sirip perut (abdominal fin), sirip dubur (anal fin), sirip punggung (dorsal fin) dan sirip ekor (caudal fin) yang tunggal. Selain itu ikan mas mempunyai gurat sisi atau linea lateralis yang memanjang dari belakang tutup insang sampai ekor yang berfungsi untuk mengetahui besarnya arus dalam air. Ekor pada ikan mas bertipe homocerk, yaitu simetris dorso-ventral dan luar sedangkan dilihat sebelah dalam dibangun oleh tulang-tulang yang asimetris di bagian dalam.
2.3. Definisi Darah
Darah merupakan salah satu komponen sistem transpor yang sangat vital keberadaannya. Fungsi vital darah di dalam tubuh antara lain sebagai pengangkut zat-zat kimia seperti hormon, pengangkut zat buangan hasil metabolisme tubuh, dan pengangkut oksigen dan karbondioksida. Selain itu, komponen darah seperti trombosit dan plasma darah memiliki peran penting sebagai pertahanan pertama dari serangan penyakit yang masuk ke dalam tubuh (Aria, 2008).
Darah merupakan gabungan dari cairan, sel-sel dan partikel yang menyerupai sel, yang mengalir dalam arteri, kapiler, dan vena, yang mengirimkan oksigen dan zat-zat gizi ke jaringan dan membawa karbondioksida serta hasil limbah lainnya (Mayhoneys, 2008).
2.4. Komponen Penyusun Darah
Menurut Isnaeni (2006), darah tersusun atas plasma dan tersusun atas sel darah. Sel darah mencakup eritrositk, leukosit, dan trombosit, plasma darah yang mengandung sekitar 90% air dan berbagai zat terlarut atau tersuspensi di dalamnya. Zat tersuspensi berikut mencakup beberapa jenis bahan berikut:
Protein plasma, yaitu albumin, glubolin, dan fibrinagen.
Sari makanan, yaitu glukosa, monosakurida, asam amino, lipid.
Bahan untuk dibuang dari tubuh, antara lain urea dan senyawa hidrogen.
Berbagai ion, misalnya natrium, kalium, ulur, fosfat, kalsium, sulfat, dan senyawa bikarbonat.
Menurut Pungky (2010), komponen penyusun darah dari plasma darah (cairan) dan sel-sel penyusun dairan darah.
1. Plasma darah
95% plasma darah terdiri dari air. Di dalam plasma darah terkandung salah satu faktor pembeku darah.
2. Eritrosit
- Bebentuk bulat gepeng, akung
- Tidak punya inti sel
3. Leukosit
- Bentuknya berubah-ubah
- Punya inti sel
4. Trombosit
Trombosit berperan dalam pembekuan darah.
2.5. Tahap Pembentukan Darah
Menurut Yustina, et.al (2005), dalam proses pembentukan sel darah merah terdapat tahapan-tahapan sebelum sampai terbentuknya sel darah merah matang. Ketika iosit adalah sel darah merah muda yang masih mengandung substansi basopilik dan akan berkembang menjadi sel darah merah matang. Setiap tahapan pembentukan sel darah merah melalui serangkaian proses yang melibatkan sintensis enzim. Wulangi (1993), dalam Yustina,et.al (2005) menyatakan apabila sintesis enzim pada retikulasit terhambat maka pembentukan retikulasit terganggu karena masuknya sulfida melalui darah ikan dan akan menghambat sintesis enzim katalose dan anhidrase karbonat yang terdapat pada retikulasit, akibatnya tidak akan ditemui sel darah merah matang.
Pembentukan sel darah merah (eritropoelsis) adalah subyek pengaturan “feed back” pembentukan ini dihambat oleh kenaikan sel darah merah dalam sirkulasi yang mencapai nilai diatas normal dan dirangsang oleh anemia. Eritropoelsis juga dirangsang oleh hipolsia dan kenaikan jumlah sel darah merah yang beredar adalah gambaran yang meninjol dari aklimatisasi pada dataran tinggi. Eritropoelsis diatur oleh suatu hormon glikoprotein yang beredar yang dinamakan eritropreikim yang dibentuk oleh kerja dari faktor ginjal pada globulin plasma. Hormon ini mempermudah diferensiasi sistem sel “commited” (sistem sel yang sensitif terhadap eritropoekim) menjadi proeritroblast (Ganong, 1981).
2.6. Fungsi Darah
Menurut Shahar (2010), fungsi darah sebagai alat pengangkut yaitu :
- Mengambil oksigen / zat pembakar dari paru-paru untuk diedarkan ke seluruh jaringan tubuh
- Mengangkut karbohidrat dari jaringan untuk dikeluarkan melalui paru-paru dibagikan ke seluruh jaringan /alat tubuh
- Mengangkat / mengeluarkan zat-zat yang tidk berguna bagi tubuh untuk dikeluarkan melalui ginjal
Darah memiliki fungsi utama yaitu menjaga keseimbangan pH. Fungsi utama yaitu menjaga keseimbengan pH tubuh. Fungsi utama sistem sirkulasi darah adalah sebagai mediatransport zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh juga untuk transport panas dari dan kejaringan tubuh dan untuk mempertahankan diri dari serangan penyakit (Komarudin, 2009).
Menurut Scherr (1959), darah berfungsi sebagai media transportasi dan memberikan kontribusi kepada pembentukan lingkungan.
2.7. Komponen Penyusun Sistem Peredaran Darah
Komponen penyusun sistem peredaran darah adalah jantung, darah, saluran darah dan limfa. Saluran pembuluh darah utama dalam tubuh ikan adalah arteri danvena yang terdapat disepanjang tubuh (Evand, 2009).
Sistem peredaran darah ikan termasuk yang paling sederhana. Komponen yang menyusun sistem peredaran darah utama pada ikan:
1) Jantung
2) Darah
3) Saluran darah
4) Limpa
(Frans, 2010)
2.8. Sistem Peredaran Darah Pada Ikan Mas
Darah terdiri dari cairan plasma dan sel-sel darah yaitu sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit) dan keping darah (trombosit). Plasma darah adalah suatu cairan jernih yang mengandung mineral-mineral terlarut, hasil absorbsi dari pencernaan makanan, buangan hasil metabolisme oleh jaringan, enzim, antibodi serta gas terlarut. Di dalam plasma darah terkandung garam-garam anorganik (natrium klorida, natrium bikarbonat dan natrium fosfat), protein (dalam bentuk albumin, globulin dan fibrinogen), lemak (dalam bentuk lesitin dan kolesterol), hormon, vitamin, enzim dan nutrient.
Sel darah ikan diproduksi di dalam jaringan hematopoietik yang terletak di ujung anterior ginjal dan limpa. Berbeda dengan mamalia, pada ikan tidak ada sumsum tulang. Namun demikian, ikan memiliki limfonodus. Pada ikan, darah dibentuk di dalam organ ginjal, limpa dan timus.
Berdasarkan warna dan fungsi, darah dikelompokkan menjadi sel darah merah (eritrosit) dan sel darah putih (leukosit). Sel darah putih dikelompokkan berdasarkan pada ada tidaknya butir-butir (granul) dalam sitoplasma, yaitu granulosit dan agranulosit. Kelompok granulosit meliputi neutrofil, eosinofil dan basofil. Jenis ini memiliki sifat reaksi terhadap zat tertentu yaitu leukosit eosinofil yang bersifat asidofil (berwarna merah oleh eosin), leukosit basofil berwarna basofil (ungu) dan leukosit netrofil bersifat tidak basofil maupun asidofil. Temasuk ke dalam kelompok agranulosit, yaitu monosit dan limfosit.
Eritrosit pada ikan merupakan sel dengan jumlah paling banyak, mencapai 4x106 sel/mm3. Jumlah eritrosit bervariasi pada tiap spesies dan biasanya dipengaruhi oleh stres dan suhu lingkungan. Jumlah eritrosit pada teleost berkisar antara 1.05 x 106 sel/mm3 dan 3.0 x 106 sel/mm3. Jumlah eritrosit pada ikan mas (Cyprinu carpio) adalah 1.43 x 106 sel/mm3. Menurut Alifuddin (1993), jumlah eritrosit pada ikan mas adalah 2 x 106 sel/mm3
Eritrosit mengandung haemoglobin yang berfungsi membawa oksigen dari insang ke jaringan tubuh. Kadar haemoglobin dalam darah berhubungan erat dengan jumlah sel darah merah (eritrosit). Konsentrasi haemoglobin diukur berdasarkan pada intensitas warna dan dinyatakan dalam satuan gram haemoglobin/100 ml darah (gr/100 ml)Konsentrasi haemoglobin ikan mas (Cyprinus carpio) adalah 6.40 % gr/dl dengan volume kapasitas oksigen sebesar 12.50 ml/dl.
Alat-alat peredaran darah ikan Mas terdiri dari :
· Cor (jantung), disebelah posterior dari insang, dibatasi dari ruang perut (cavum abdominalis) oleh septum transversum (sekat rongga badan). Cor terbungkus oleh selaput pericardium.
Cor terdiri dari :
a. sinus venosus, berdinding tipis
b. atrium, merah coklat
c. ventrikel, merah coklat.
· Bulbus arteriosus, warna putih.
· Arteria (pembuluh nadi )
· Vena (pembuluh balik)
· Lien, warna merah coklat, memanjang di daerah intestinum.
· Arteria dan vena
Darah kotor dari seluruh tubuh berkumpul melalui ductus cuvieri, kemudian menuju sinus venosus – atrium – ventrikel – bulbus arteriosus dan aorta ventralis. Aorta ventralis bercabang-cabang sesuai dengan banyaknya insang, dan menuju insang, yaitu arteria branchialis afferent. Arteria ini bercabang-cabang lagi menjadi pembuluh-pembuluh yang lebih kecil (kapiler) pada hemibranchii (daun insang) untuk pengambilan oksigen. Kemudian berkumpul lagi menjadi arteria branchialis efferent. Yang menuju kepala bersatu membentuk aorta carotis, dan ke tubuh bagian belakang aorta dorsalis. Aorta dorsalis bercabang-cabang menuju organ-organ tubuh.
Darah yang kembali ke jantung mengalir kembali melalui :
· Vena cardialis posterior, dari tubuh bagian belakang.
· Vena cardialis anterior, dari tubuh bagian depan.
· Vena hepatica dari hepar (hati).
2.9. HEMATOKRIT
Hematokrit adalah istilah yang menunjukan besarnya volume sel-sel eritrosit seluruhnya didalam 100 mm3 darah dan dinyatakan dalam persen (%) (Hoffbrand dan Pettit, 1987). Nilai hematokrit atau “volume sel packed” adalah suatu istilah yang artinya prosentase berdasarkan volume dari darah, yang terdiri dari sel-sel darah merah. Mengukur kadar hematokrit darah hewan uji digunakan tabung mikrohematokrit yang berupa pipa kapiler berlapiskan EDTA (Etil Diamin Tetra Acetat) yang berfungsi sebagai bahan anti pembekuan darah. Nilai hematokrit standar adalah sekitar 45%, namun nilai ini dapat berbeda-beda tergantung species. Nilai hematokrit biasanya dianggap sama manfaatnya dengan hitungan sel darah merah total (Frandson, 1992).
Darah ikan tersusun atas cairan plasma dan sel-sel darah yang terdiri dari sel-sel darah merah (eritrosit), sel-sel darah putih (leukosit) dan keping darah (trombosit). Volume darah dari ikan teleostey, heleostey dan chondrostei adalah sekitar 3% dari bobot tubuh, sedangkan ikan chondrocthyes memiliki darah sebanyak 6,6% dari berat tubuhnya (Randall, 1970 dalam Affandi, 1999).
Hematokrit atau volume eritrosit yang dimampatkan (packed cell volume, PCV) adalah persentase volume eritrosit dalam darah yang dimampatkan dengan cara diputar pada kecepatan tertentu dan dalam waktu tertentu. Tujuan dilakukannya uji ini adalah untuk mengetahui konsentrasi eritrosit dalam darah. Nilai hematokrit atau PCV dapat ditetapkan secara automatik menggunakan hematology analyzer atau secara manual.
Prinsip pemeriksaan hematokrit cara manual yaitu darah yang mengandung antikoagulan disentrifuse dan total sel darah merah dapat dinyatakan sebagai persen atau pecahan desimal (Simmons A, 1989). Penetapan nilai hematokrit cara manual dapat dilakukan dengan metode makrohematokrit atau metode mikrohetokrit.
Metode makrohematokrit
Pada metode makro, sebanyak 1 ml sampel darah (darah EDTA atau heparin) dimasukkan dalam tabung Wintrobe yang berukuran panjang 110 mm dengan diameter 2.5-3.0 mm dan berskala 0-10 mm. Tabung kemudian disentrifus selama 30 menit dengan kecepatan 3.000 rpm. Tinggi kolom eritrosit adalah nilai hematokrit yang dinyatakan dalam %.
Metode mikrohematokrit
Pada metode mikro, sampel darah (darah kapiler, darah EDTA, darah heparin atau darah amonium-kalium-oksalat) dimasukkan dalam tabung kapiler yang mempunyai ukuran panjang 75 mm dengan diameter 1 mm. Tabung kapiler yang digunakan ada 2 macam, yaitu yang berisi heparin (bertanda merah) untuk sampel darah kapiler (langsung), dan yang tanpa antikoagulan (bertanda biru) untuk darah EDTA/heparin/amonium-kalium-oksalat.
Prosedur pemeriksaannya adalah : sampel darah dimasukkan ke dalam tabung kapiler sampai 2/3 volume tabung. Salah satu ujung tabung ditutup dengan dempul (clay) lalu disentrifus selama 5 menit dengan kecepatan 15.000 rpm. Tinggi kolom eritrosit diukur dengan alat pembaca hematokrit, nilainya dinyatakan dalam %.
Faktor yang mempengaruhi hematokrit, yaitu:
Jumlah eritrosit
Apabila jumlah eritrosit dalam keadaan banyak (polisitemea) maka nilai hematokrit akan meningkat dan jika eritrosit sedikit (dalam keadaan anemi) maka nilai hematokrit akan turun. (Pusdik, 1989)
2. Ukuran eritrosit
Faktor terpenting dalam pengukuran hematokrit adalah ukuran sel darah merah dimana dapat mempengaruhi viskositas darah. Viskositas yang tinggi maka nilai hematokrit juga tinggi
3. Bentuk eritrosit
Apabila terjadi kelainan bentuk (poikilositosis) maka akan terjadi trapped plasma (plasma yang terperangkap) sehingga nilai hematokrit meningkat.
4. Perbandingan antikoagulan dengan darah
Jika antikoagulan berlebihan akan mengakibatkan eritrosit mengerut, sehingga nilai hematokrit menurun.( Ganda Soebrata, 1989)
5. Tempat penyimpanan
Tempat penyimpanan sebaiknya dilakukan pada suhu 4oC selama tidak lebih dari 6 jam.
6. Kurang homogen
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Data hasil praktikum adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Data hasil praktikum laboratorium Fisiologi Hewan Air
Kelompok
Bobot ikan (g)
Nilai Hematokrit (%)
Ikan mas
1
90
43%
2
94
38%
3
111
40%
4
109
10%
5
95
45%
6
107
15%
7
99
15%
8
102
40%
9
110
40%
Tabel 2. Data hasil praktikum laboratorium MSP
KELOMPOK
BOBOT IKAN (gr)
NILAI HEMATOKRIT (%)
19
30 %
20
105,36 gr
19 %
21
113,3 gr
25 %
22
92,5 gr
35%
23
121,91 gr
35 %
24
105,07 gr
43 %
25
106,13 gr
50 %
26
107,17 gr
35 %,
27
42 %
4.2. Pembahasan
Dapat dilihat dari hasil tabel data kelas di atas, menyatakan bahwa praktikum perhitungan nilai hematokrit pada ikan mas rata-rata ikan mas yang sehat, hanya beberapa ikan mas yang mengalami anemia atau kekurangan sel darah. Pengukuran hematokrit dapat dijadikan sebagai salah satu parameter untuk mengetahui kesahatan ikan. Kuswardani (2006) mengungkapkan bahwa kadar hematokrit ini dapat bervariasi tergantung pada faktor nutrisi, umur, jenis kelamin, ukuran tubuh, dan masa pemijahan.
Abdullah (2008) menyatakan bahwa kisaran nilai hematokrit ikan pada kondisi normal sebesar 30,8 - 45,5. Dari hasil praktikum didapatkan hanya dua Kelompok yang berhasil dalam praktikum tersebut dengan hasil nila Ha sebesar 35,7% dan 23%. Nilai 35,7% merupakan normal sedangkan 23% menunjukkan ikan tidak normal, hal tersebut bisa terjadi karena ikan stress atau terserang penyakit.
Nilai hematokrit yang kurang dari 22% menunjukan ikan mengalami anemia (Gallaugher et al, 1995 dalam Abdullah, 2008), sedangkan menurut Nabib dan Pasaribu (1989) dalam Prasetyo (2008) bahwa nilai hematokrit darah ikan berkisar 5 – 60%, hematokrit di bawah 30% menunjukan defisiensi eritrosit. Apabila ikan terkena penyakit atau nafsu makan menurun maka nilai hematokrit darah menjadi lebih rendah (Delman and Brown, 1989 dalam Prasetyo 2008). Maka dapat dinyatakan bahwa ikan mas kelompok 4, 6, 7, dan 20 mengalami anemia dan defisiensi eritrosit sesuai pernyataan di atas.
Robert (1978) dalam Mulyani (2006) mengungkapkan bahwa darah merupakan cairan yang membawa nutrien, transportasi oksigen dan karbondioksida, menjaga keseimbangan suhu tubuh dan berperan penting dalam sistem pertahanan tubuh dan berperan penting dalam sistem pertahanan tubuh. Darah ada yang berupa padatan maupun cairan, yang termasuk kedalam padatan adalah sel darah merah (eritrosit) dan sel darah putih (leukosit) sedangkan yang berbentuk cairan ialah plasma darah. Jumlah sel darah merah sangat menentukan fungsi peredaran oksigen. Jumlah sel darah ikan pada ikan teleost berkisar antara 1.05×106 sel/mm3 dan 3.0x 106 sel/mm3. Jika dibandingkan dengan hasil dari praktikum maka Sel darah merah secara keseluruhan termasuk dalam kisaran normal. Sel darah merah sering disebut juga eritrosit. Eritrosit yang terlalu rendah akan menimbulkan terjadinya anemia, sedangkan jika terlalu tinggi menandakan ikan tersebut dalam keaadaan yang stres (Wademeyer dan Yasutake, 1977 dalam Purwanto, 2006).
Kadar hematokrit ini bervariasi tergantung pada faktor nutrisi, umur ikan, jenis kelamin, ukuran tubuh dan masa pemijahan . Pada hematokrit, kadar eritrosit yang rendah menunjukkan terjadinya anemia. Sedangkan kadar tinggi menandakan bahwa ikan dalam keadaan stress. Peningkatan hemotokrit dapat disebabkan sel membengkak pada keadaan ikan yang mengalami hipoksia.
Adapun faktor yang mempengaruhi lainnya ialah jumlah eritrosit; apabila jumlah eritrosit dalam keadaan banyak, maka nilai hematokrit akan meningkat. Ukuran eritrosit pun berpengaruh pada viskositas darah. Semakin tinggi viskositas darah maka akan semakin tinggi nilai hematokrit. Kelainan bentuk pada eritrosit juga berpengaruh; apabila terjadi kelainan bentuk (poikilositosis) maka akan terjadi trapped plasma (plasma terperangkap) sehingga nilai hematokrit akan meningkat.
Faktor yang mempengaruhi kegagalan dalam perhitungan nilai hematokrit diantaranya tidak sempurnanya penutupan ujung pipa kapiler dengan malam/wax sehingga terjadi hilangnya dari pipa kapiler setelah dilakukan sentrifugasi. Kenudian saat sentrifugasi tersebut peletakan pipa kapiler tidak seimbang mengakibatkan pipa kapiler pecah. Selain itu pada saat pengisian darah ke pipa terjadi gelembung udara di pipa kapiler dan kurangnya pasokan darah yang harusnya diisi ¾ nyatanya kurang dari ¾ nya.
Dapat dilihat dari data ternyata perhitungan Hematokrit pada masing-masing kelompok itu berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh ukuran ikan dan jenis kelamin pada ikan. Nilai hematokrit yang di atas 22 % membuktikan bahwa keadaan ikan tersebut sehat. Sedangkan ikan dengan nilai hematokrit kurang dari 22% menunjukan keadaan ikan yang tidak sehat, dapat dikatakan bahwa ikan tersebut mengalami anemia.
Pada kelompok kami, yaitu kelompok 2, pada saat sentripugasi kami memasukan 2 pipa kapiler, keduanya berhasil terbentuk atau terbaca dengan nilai hematocrit 27% dan 38%, hal tersebut menunjukan bahwa ikan mas kami sehat, atau tidak mengalami anemia. Walaupun pada saat penjepitan aorta ventralis darah ikan mas kami keluar darah terlebih dahulu. Namun, kami segera mengambil sampel darah yang keluar tersebut. Darah yang keluar terlebih dahulu tersebut diakibatkan karena pada saat pembedahan mungkin ada saluran darah yang tergunting.
Syifakatoo. 2011. Darah Ikan. http://syifakatoo.blogspot.com/ diakses pada tanggal 07 November 2013
Anonim,2012.Ikan Mas dan Ikan Lele. http://percobaandanpraktikum.blogspot.com/ Diakses tanggal 02 Oktober 2013
Aminah,Siti dkk. 2013. Laporan Akhir Praktikum Ikhtiologi. Bandung: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran.
Lili,Walim dkk. 2013. MODUL Petunjuk Praktikum Fisiologi Hewan Air. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran.
sumber
https://sitiaminah2006.blogspot.com/2016/03/laporan-praktikum-perhitungan.html
No comments:
Post a Comment