Thursday, October 17, 2019

LAPORAN PRAKTIKUM PERUBAHAN SUHU PANAS DAN DINGIN TERHADAP BUKAAN OPERCULUM IKAN

LAPORAN PRAKTIKUM PERUBAHAN SUHU PANAS DAN DINGIN TERHADAP BUKAAN OPERCULUM IKAN
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT sehingga laporan akhir praktikum ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Laporan akhir praktikum ini membahas mengenai “Pengaruh Perubahan Suhu Dingin dan Panas Media Air Terhadap Membuka dan Menutup Operculum Benih Ikan Mas”. Penyusunan laporan akhir prktikum ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Praktikum Fisiologi Hewan Air dan juga sebagai ilmu pengetahuan dalam bidang ilmu perikanan dan ilmu kelautan bagi mahasiswa maupun bagi masyarakat luas.
Penyusun ucapkan terima kasih kepada dosen pengajar dan assisten laboratorium mata kuliah Fisiologi Hewan Air yang telah membimbing penyusun, serta kepada seluruh pendukung yang membantu tersusunnya laporan akhir praktikum ini.
Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan laporan akhir praktikum ini masih banyak kekurangan, maka dari itu penyusun mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca sebagai perbaikan pada penyusunan selanjutnya.






Jatinangor, Oktober 2013

Penyusun




BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Ikan merupakan hewan yang bersifat poikilotermik, yaitu suhu tubuhnya mengikuti suhu lingkungan. Bagi hewan akuatik, suhu media air merupakan faktor pembatas. Oleh karena itu, perubahan suhu media air akan mempengauhi kandungan oksigen terlarut, yang akan berakibat pada laju pernafasan dan laju metabolisme hewan akuatik tersebut.
Ikan merupakan kelompok vertebrata yang paling beraneka ragam dengan jumlah spesies lebih dari 27,000 di seluruh dunia. Secara taksonomi, ikan tergolong kelompok paraphyletic yang hubungan kekerabatannya masih diperdebatkan; biasanya ikan dibagi menjadi ikan tanpa rahang (kelas Agnatha, 75 spesies termasuk lamprey dan ikan hag), ikan bertulang rawan (kelas Chondrichthyes, 800 spesies termasuk hiu dan pari), dan sisanya tergolong ikan bertulang keras (kelas Osteichthyes). Ikan dalam berbagai bahasa daerah disebut iwak, jukut.
Fisiologi ikan mencakup proses osmoregulasi, sistem sirkulasi, sistem respirasi, bioenergetik dan metabolisme, pencernaan, organ-organ sensor, sistem saraf, sistem endokrin dan reproduksi (Fujaya,1999).
Insang dimiliki oleh jenis ikan (pisces). Insang berbentuk lembaran-lembaran tipis berwarna merah muda dan selalu lembap. Bagian terluar dare insang berhubungan dengan air, sedangkan bagian dalam berhubungan erat dengan kapiler-kapiler darah. Tiap lembaran insang terdiri dare sepasang filamen, dan tiap filamen mengandung banyak lapisan tipis (lamela). Pada filamen terdapat pembuluh darah yang memiliki banyak kapiler sehingga memungkinkan OZ berdifusi masuk dan CO2 berdifusi keluar. Insang pada ikan bertulang sejati ditutupi oleh tutup insang yang disebut operkulum, sedangkan insang pada ikan bertulang rawan tidak ditutupi oleh operkulum.
1.2  Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui perubahan suhu dingin dan suhu panas media air terhadap membuka dan menutup operculum benih ikan mas yang secara tidak  langsung ingin mengetahui laju pernafasan ikan tersebut
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1  SUHU
Pengertian
Suhu merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyerapan organisme. Proses kehidupan vital yang sering disebut proses metabolisme. Hanya berfungsi dalam kisaran suhu yang relatif sempit. Biasanya 00C-40C (Nybakken 1992 dalam sembiring, 2008).
Menurut Handjojo dan Djoko Setianto (2005) dalam Irawan (2009), suhu air normal adalah suhu air yang memungkinkan makhluk hidup dapat melakukan metabolism dan berkembang biak. Suhu merupakan faktor fisik yang sangat penting di air.
Faktor-Faktor yang  Mempengaruhi Suhu
Pola temperature ekosistem air dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti intensitas cahaya matahari, pertukaran panas antara air dengan udara sekelilingnya, ketinggian geografis dan juga oleh faktor kanopii (penutup oleh vegetari) dari pepohonan yang tumbuh sel tepi (Brehm  dan Melfering, 1990, dalam Barus, 2010). Disamping itu pola temperature perairan dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor anthrcopogen (faktor yang diakibatkan oleh aktifitas manusia) seperti limbah panas yang berasal dari pendinginan pabrik. Pengunduran BAS yang menyebabkan hilangnya perlindungan sehingga badan air terkena cahaya matahari secara langsung. Hal ini terutama akan menyebabkan peningkatan temperatur suatu sistem perairan (Barus, 2001)
Faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi suhu dan salinitas di perairan ini adalah penyerapan panas (heat flux) curah hujan (prespiration) aliran sungai (Flux) dan pola sirkulasi air (Hadikusumah, 2008).
Air sebagai lingkungan hidup organisme air relatif tidak begitu banyak mengalami fluktuasi suhu dibandingkan dengan udara, hal ini disebabkan panas jenis air lebih tinggi daripada udara. Artinya untuk naik 1 C, setiap satuan volume air memerlukan sejumlah panas yang lebih banyak dari pada udara. Pada perairan dangkal akan menunjukkan fluktuasi suhu air yang lebih besar dari pada perairan yang dalam. Sedangkan organisme memerlukan suhu yang stabil atau fluktuasi suhu yang rendah. Agar suhu air suatu perairan berfluktuasi rendah maka perlu adanya penyebaran suhu. Hal tersebut tercapai secara sifat alam antara lain:
1. Penyerapan (absorbsi) panas matahari pada bagian permukaan air.
2. Angin, sebagai penggerak permindahan massa air.
3. Aliran vertikal dari air itu sendiri, terjadi bila disuatu perairan (danau) terdapat lapisan suhu air yaitu lapisan air yang bersuhu rendah akan turun mendesak lapisan air yang bersuhu tinggi naik kepermukaan perairan.
Selain itu suhu air sangat berpengaruh terhadap jumlah oksigen terlarut didalam air. Jika suhu tinggi, air akan lebih lekas jenuh dengan oksigen dibanding dengan suhunya rendah. Suhu air pada suatu perairan dapat dipengaruhi oleh musim, lintang (latitude), ketinggian dari permukaan laut (altitude), waktu dalam satu hari, penutupan awan, aliran dan kedalaman air. Peningkatan suhu air mengakibatkan peningkatan viskositas, reaksi kimia, evaporasi dan volatisasi serta penurunan kelarutan gas dalam air seperti O2, CO2, N2, CH4 dan sebagainya.
Kisaran suhu air yang sangat diperlukan agar pertumbuhan ikan pada perairan tropis dapat berlangsung berkisar antara 25oC – 32oC. Kisaran suhu tersebut biasanya berlaku di Indonesia sebagai salah satu negara tropis sehingga sangat menguntungkan untuk melakukan kegiatan budidaya ikan. Suhu air sangat berpengaruh terhadap proses kimia, fisika dan biologi di dalam perairan, sehingga dengan perubahan suhu pada suatu perairan akan mengakibatkan berubahnya semua proses didalam perairan. Hal ini dilihat dari peningkatan suhu air maka kelarutan oksigen akan berkurang. Dari hasil penelitian diketahui bahwa peningkatan 10oC suhu perairan mengakibatkan meningkatnya konsumsi oksigen oleh organisme akuatik sekitar 2 – 3 kali lipat, sehingga kebutuhan oksigen oleh organisme akuatik itu berkurang.
Keadaan suhu alami memberikan kesempatan bagi ekosistem untuk berfungsi secara optimum. Banyak kegiatan hewan air dikontrol oleh suhu, misalnya: migrasi, pemangsaan, kecepatan berenang, perkembangan embrio dan kecepatan proses metabolisme. Oleh sebab itu, perubahan suhu yang besar pada ekosistem perairan dianggap merugikan (Clark, 1974).
2.2 Ikan Mas (Cyprinus carpio)
Klasifikasi Ikan Mas
Kingdom : Animalia
Filum   : Chordata
Kelas   : Actinopterygii        
Ordo    : Cypriniformes
Family : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Spesies : Cyprinus carpio.
Ciri Morfologi Ikan Mas
Ikan mas termasuk famili Cyprinidae yang mempunyai ciri-ciri umum, badan ikan mas berbentuk memanjang dan sedikit pipih ke samping (Compresed) dan mulutnya terletak di ujung tengah (terminal) dan dapat di sembulkan, di bagian mulut di hiasi dua pasang sungut, yang kadang-kadang satu pasang di antaranya kurang sempurna dan warna badan sangat beragam. (Susanto,2007).
Tubuh ikan mas digolongkan menjadi tiga bagian yaitu kepala, badan, dan ekor. Pada kepala terdapat alat-alat seperti sepasang mata, sepasang cekung hidung yang tidak berhubungan dengan rongga mulut, celah-celah insang, sepasang tutup insang, alat pendengar dan keseimbangan yang tampak dari luar (Cahyono, 2000). Jaringan tulang atau tulang rawan yang disebut jari-jari. Sirip-sirip ikan ada yang berpasangan dan ada yang tunggal, sirip yang tunggal merupakan anggota gerak yang bebas.
Bentuk tubuh ikan mas agak memanjang dan memipih tegak (comprossed). Mulutnya terletak di bagian tengah ujung kepala (terminal) dan dapat disembulkan (protaktil). Di bagian anterior mulut terdapat dua pasang sungut. Di ujung dalam mulut terdapat gigi kerongkongan (pharyngeal teeth) yang terbentuk atas tiga baris gigi geraham. Secara umum hampir seluruh tubuh ikan mas ditutupi sisik kecuali pada beberapa varietas yang hanya memiliki sedikit sisik. sisik ikan mas berukuran besar dan digolongkan ke dalam sisik tipe sikloid (lingkaran).
Sirip punggungnya (dorsal) memanjang dengan bagian belakang berjari keras dan di bagian akhir (sirip ketiga dan keempat) bergerigi. Letak sirip punggung berseberangan dengan permukaan sisip perut (ventral). Sirip duburnya (anal) mempunyai ciri seperti sirip punggung, yaitu berjari keras dan bagian akhirnya bergerigi. Garis rusuknya (linea lateralis atau gurat sisi) tergolong lengkap, berada di pertengahan tubuh dengan bentuk melintang dari tutup insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor.
Insang berjumlah tiga pasang dengan penutupnya (operculum). Hampir seluruh tubuh ikan mas ditutupi sisik dan hanya sebagian kecil saja yang tubuhnya tidak ditutupi sisik. Sisik ikan mas ini berukuran relatif besar dan merupakan tipe sisik sikloid. Ikan mas mempunyai 5 jenis sirip yaitu sepasang sirip dada (pectoral fin), sepasang sirip perut (abdominal fin), sirip dubur (anal fin), sirip punggung (dorsal fin) dan sirip ekor (caudal fin) yang tunggal. Selain itu ikan mas mempunyai gurat sisi atau linea lateralis yang memanjang dari belakang tutup insang sampai ekor yang berfungsi untuk mengetahui besarnya arus dalam air. Ekor pada ikan mas bertipe homocerk, yaitu simetris dorso-ventral dan luar sedangkan dilihat sebelah dalam dibangun oleh tulang-tulang yang asimetris di bagian dalam.
Sistem Respirasi Ikan Mas
            Insang dimiliki oleh jenis ikan mas. Insang berbentuk lembaran-lembaran tipis berwarna merah muda dan selalu lembap. Bagian terluar dare insang berhubungan dengan air, sedangkan bagian dalam berhubungan erat dengan kapiler-kapiler darah. Tiap lembaran insang terdiri dare sepasang filamen, dan tiap filamen mengandung banyak lapisan tipis (lamela). Pada filamen terdapat pembuluh darah yang memiliki banyak kapiler sehingga memungkinkan O2 berdifusi masuk dan CO2 berdifusi keluar. Insang pada ikan bertulang sejati ditutupi oleh tutup insang yang disebut operkulum, sedangkan insang pada ikan bertulang rawan tidak ditutupi oleh operkulum.
            Insang tidak saja berfungsi sebagai alat pernapasan tetapi dapat pula berfungsi sebagai alat ekskresi garam-garam, penyaring makanan, alat pertukaran ion, dan osmoregulator. Beberapa jenis ikan mempunyai labrin yang merupakan perluasan ke atas dari insang dan membentuk lipatan-lipatan sehingga merupakan rongga-rongga tidak teratur. Labirin ini berfungsi menyimpan cadangan O2 sehingga ikan tahan pada kondisi yang kekurangan O2. Contoh ikan yang mempunyai labirin adalah: ikan gabus dan ikan lele. Untuk menyimpan cadangan O2, selain dengan labirin, ikan mempunyai gelembung renang yang terletak di dekat punggung.
            Mekanisme pernapasan pada ikan melalui 2 tahap, yakni inspirasi dan ekspirasi. Pada fase inspirasi, O2 dari air masuk ke dalam insang kemudian O2 diikat oleh kapiler darah untuk dibawa ke jaringan-jaringan yang membutuhkan. Sebaliknya pada fase ekspirasi, CO2 yang dibawa oleh darah dari jaringan akan bermuara ke insang dan dari insang diekskresikan keluar tubuh. Selain dimiliki oleh ikan, insang juga dimiliki oleh katak pada fase berudu, yaitu insang luar. Hewan yang memiliki insang luar sepanjang hidupnya adalah salamander.
Habitat Ikan Mas
Ikan mas menyukai tempat hidup (habitat) di perairan tawar yang airnya tidak terlalu dalam dan alirannya tidak terlalu deras, seperti di pinggiran sungai atau danau. Ikan mas dapat hidup baik di daerah dengan ketinggian 150--600 meter di atas permukaan air laut (dpl) dan pada suhu 25-30° C. Meskipun tergolong ikan air tawar, ikan mas kadang-kadang ditemukan di perairan payau atau muara sungai yang bersalinitas (kadar garam) 25-30%. Ikan mas tergolong jenis omnivora, yakni ikan yang dapat memangsa berbagai jenis makanan, baik yang berasal dari tumbuhan maupun binatang renik. Namun, makanan utamanya adalah tumbuhan dan binatang yang terdapat di dasar dan tepi perairan.
Ikan mas berasal dari daratan Asia dan telah lama dibudidayakan sebagai ikan konsumsi oleh bangsa Cina sejak 400 tahun SM. Penyebarannya merata di daratan Asia juga Eropa sebagian Amerika Utara dan Australia. Pembudidayaan ikan mas di Indonesia banyak ditemui di Jawa dan Sumatra dalam bentuk empang, balong maupun keramba terapung yang di letakan di danau atau waduk besar. Budidaya modern di Jawa Barat menggunakan sistem air deras untuk mempercepat pertumbuhannnya.
Habitat aslinya yang di alam meliputi sungai berarus tenang sampai sedang dan di area dangkal danau. Perairan yang disukai tentunya yang banyak menyediakan pakan alaminya. Ceruk atau area kecil yang terdalam pada suatu dasar perairan adalah tempat yang sangat ideal untuknya. Bagian-bagian sungai yang terlindungi rindangmya pepohonan dan tepi sungai dimana terdapat runtuhan pohon yang tumbang dapat menjadi tempat favoritnya. Di Indonesia sendiri untuk mencari tempat memancing ikan mas bukanlah hal yang sulit. Karena selain telah dibudidayakan banyak empang yang sengaja dibuat demi memanjakan para penggemar mancing ikan mas.











BAB III
METODELOGI
3.2  Waktu dan Tempat
Praktikum dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal   : Kamis, 03 Oktober 2013
Pukul               : 10:00 s.d. selesai
Tempat            : Ruang laboratorium Fisiologi Hewan Air FPIK Unpad                
3.2  Alat Dan Bahan
Dalam pelaksanaan praktikum digunakan alat-alat dan bahan sebagai berikut:
1.      Alat
§  Beaker glass sebagai tempat untuk ikan yang diamati.
§  Wadah plastik sebagai tempat ikan sebelum dan setelah diamati.
§  Water bath sebagai penangas air.
§  Termometer Hg/alkohol untuk mengukur suhu air.
§  Hand counter untuk menghitung bukaan operculum ikan.
§  Timer/stopwatch untuk mengamati waktu.
2.      Bahan
§  Benih ikan mas sebanyak 3 ekor.
§  Stok es balok untuk mengubah suhu air sesuai perlakuan.
§  Stok air panas untuk mengubah suhu air sesuai perlakuan.
3.2 Prosedur
Dalam percobaan, langkah-langkah yang diperhatikan adalah sebagai berikut:
1.      Menyiapkan satu beaker glass 1000 ml sebagai wadah perlakuan dan dua wadah plastik sebagai tempat ikan yang belum dan yang sudah diamati.
2.      Mengambil sebanyak 3 ekor benih ikan mas dari akuarium stok, lalu memasukkan ke dalam salah satu wadah plastik yang telah diberi media air.
3.      Mengisi beaker glass dengan air secukupnya (± ½ volumenya), lalu mengukur suhunya dengan termometer dan mencatat hasilnya.
4.      Pengamatan dilakukan dengan lima perlakuan, yaitu:
a.       T1 = untuk suhu kamar (.... ± 0,5oC)
b.      T2 = untuk suhu 3oC di bawah suhu kamar.
c.       T3 = untuk suhu 6oC di bawah suhu kamar.
d.      T4 = untuk suhu 3oC di atas suhu kamar.
e.       T5 = untuk suhu 6oC di atas suhu kamar.
5.      Memasukan satu persatu ikan uji ke dalam beaker glass yang sedah diketahui suhunya (perlakuan a) kemudian menghitung banyaknya membuka dan menutupnya operculum ikan tersebut selama satu menit dengan menggunakan hand counter dan stopwatch sebagai penunjuk waktu dan mengulangnya sebanyak tiga kali untuk masing-masing ikan. Data yang diperoleh dicatat pada kertas lembar kerja yang telah tersedia.
6.      Setelah selesai dengan ikan uji pertama melanjutkan dengan ikan uji berikutya sampai ketiga ikan teramati. Ikan yang telah diamati dimasukkan ke dalam wadah plastik lain yang telah disediakan.
7.      Setelah selesai dengan perlakuan a, melanjutkan dengan perlakuan b dengan mengatur suhu air pada beaker glass supaya sesuai dengan suhu yang diinginkan dengan cara menambahkan es balok yang telah dipecahkan dengan palu sedikit demi sedikit. Mengusahakan saat pengamatan berlangsung suhu air naik pada kisaran toleransi ±0,5oC. Pengamatan selanjutnya sama seperti pada point 5.
8.      Setelah selesai dengan perlakuan b, melanjutkan dengan perlakuan c dengan mengatur suhu pada beaker glass  supaya sesuai dengan suhu yang diinginkan dengan cara menambahkan es balok yang telah dipecahkan dengan palu sedikit demi sedikit. Mengusahakan saat pengamatan berlangsung suhu air naik pada kisaran toleransi ±0,5oC. Pengamatan selanjutnya sama seperti pada point 5.
9.      Setelah selesai dengan perlakuan c, melanjutkan dengan perlakuan d dengan mengatur suhu pada beaker glass  supaya sesuai dengan suhu yang diinginkan dengan cara menambahkan air panas dari water bath sedikit demi sedikit. Mengusahakan saat pengamatan berlangsung suhu air turun pada kisaran toleransi ±0,5oC. Pengamatan selanjutnya sama seperti pada point 5.
10.  Setelah selesai dengan perlakuan d, melanjutkan dengan perlakuan e dengan mengatur suhu pada beaker glass  supaya sesuai dengan suhu yang diinginkan dengan cara menambahkan air panas dari water bath sedikit demi sedikit. Mengusahakan saat pengamatan berlangsung suhu air turun pada kisaran toleransi ±0,5oC. Pengamatan selanjutnya sama seperti pada point 5.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Data hasil dari pengamatan pada saat praktikum yaitu sebagai berikut:
Tabel 1. Banyaknya bukaan operculum benih ikan mas pada suhu kamar (T1 = 25oC)
Ikan ke:
Ulangan
Rata-rata
I
II
III
1
142
147
150
146,3
2
133
135
128
132
3
152
162
135
149

Tabel 2. Banyaknya bukaan operculum benih ikan mas pada suhu 3oC di bawah suhu kamar (T2 = 22oC)
Ikan ke:
Ulangan
Rata-rata
I
II
III
1
124
130
135
129,7
2
128
129
123
126,7
3
126
117
120
121

Tabel 3. Banyaknya bukaan operculum benih ikan mas pada suhu 6oC di bawah suhu kamar (T3 = 19oC)
Ikan ke:
Ulangan
Rata-rata
I
II
III
1
111
106
109
108,7
2
124
120
109
117,7
3
101
111
115
109

Tabel 4. Banyaknya bukaan operculum benih ikan mas pada suhu 3oC di atas suhu kamar (T4 = 28oC)
Ikan ke:
Ulangan
Rata-rata
I
II
III
1
138
153
140
143,7
2
141
140
150
143,7
3
144
158
163
146
Tabel 5. Banyaknya bukaan operculum benih ikan mas pada suhu 6oC di atas suhu kamar (T5 = 31oC)
Ikan ke:
Ulangan
Rata-rata
I
II
III
1
161
176
157
164,7
2
145
160
156
153,7
3
149
148
155
150,7

4.2  Pembahasan
            Pada praktikum yang telah dilakukan dengan merubah suhu media air ikan sesuai dengan yang diinginkan hal tersebut tentu berpengaruh terhadap pernafasan dan metabolisme ikan tersebut. Hewan air akan memberikan respon fisiologis terhadap perubahan lingkungannya sebagai tempat hidupnya. Dalam keadaan suhu normal metabolisme maupun tingkah laku ikan akan berjalan dengan normal juga. Namun bila terjadi perubahan suhu, respon yang diberikan oleh ikan akan menunjukan penyesuaian metabolisme tubuhnya terhadap lingkungan untuk mempertahankan hidupnya.
Suhu di perairan dapat mempengaruhi kelarutan dari oksigen. Apabila suhu meningkat maka kelarutan oksigen berkurang. Oksigen sebagai bahan pernafasan dibutuhkan oleh sel untuk berbagai reaksi metabolisme. Oleh sebab itu kelangsungan hidup ikan ditentukan oleh kemampuannya memperoleh oksigen yang cukup dari lingkungannya. Berkurangnya oksigen terlarut sudah tentu akan berpengaruh terhadap fisiologi respirasi ikan.
Kebutuhan oksigen pada ikan sangat dipengaruhi oleh umur, aktivitas, serta kondisi perairan. Semakin tua suatu organisme, maka laju metabolismenya semakin rendah. Selain itu umur mempengaruhi ukuran ikan, sedangkan ukuran ikan yang berbeda, membutuhkan oksigen yang berbeda pula. Ikan akan mengalami stres ketika berbeda media air saat dipindahkan dari wadahnya. Ikan kadang mengalami perbedaan lingkungan yang drastis sehingga menjadi stres. Oleh sebab itu biasanya dilakukan aklimatisasi sehingga ikan dapat beradaptasi perlahan-lahan terhadap kodisi lingkungan barunya.
Ketika kadar oksigen berkurang dalam suatu perairan maka ikan akan berusaha mengambil atau memanfaatkan oksigen dalam jumlah volume yang banyak. Hal ini dilakukan ikan dengan meningkatkan aktifitas pernafasannya sehingga oksigen yang dipompa lebih banyak daripada keadaan normal. Ketika ada peningkatan suhu maka ada penurunan oksigen terlarut, maka akan terjadi peningkatan metabolisme dalam tubuh ikan. Metabolime yang meningkat dikarenakan oleh meningkatnya aktivitas respirasi. Respirasi ikan akan turut mengatur pH tubuhnya.
a.       Membuka dan menutup operculum benih ikan mas pada suhu 25oC
Pada percobaan atau perlakuan pertama yaitu pada suhu 25oC membuka dan menutupnya operculum benih ikan mas antara ikan satu dengan yang lainnya sangat bervariasi. Hal tersebut mungkin diakibatkan karena perbedaan ukuran dan keadaan ikan tersebut, serta dapat disebabkan karena ikan mengalami stress pada saat dipindahkan ke media air yang berbeda. Sehingga membuka dan menutup oprculumnya belum stabil.
b.      Membuka dan menutup operculum benih ikan mas pada suhu 22oC
Pada perlakuan kedua dengan perubahan suhu dari 25oC menurun menjadi 22oC, membuka dan menutupnya operculum ketiga ikan mengalami penurunan dari suhu sebelumnya. Penurunan suhu berpengaruh terhadap membuka dan menutupnya operculum ikan yang disebabkan suhu yang dingin membuat metabolisme dan pernafasan ikan menjadi rendah.
c.       Membuka dan menutup operculum benih ikan mas pada suhu 19oC
Pada perlakuan ketiga suhu air diturunkan kembali menjadi lebih dingin dari suhu sebelumnya, dan ketika satu persatu ikan dimasukan kedalam media air tersebut, jelas terlihat bahwa membuka dan menutupnya operculum ketiga ikan pada waktu satu menit mengalami penurunan. Hal tersebut menunjukan bahwa semakin rendah suhu air maka semakin rendah pula laju pernapasan dari benih ikan mas tersebut. Kemudian suhu yang rendah pula akan menghambat laju metabolisme dari ikan tersebut.
d.      Membuka dan menutup operculum benih ikan mas pada suhu 28oC
Pada perlakuan yang keempat  yaitu menaikan suhu air menjadi 28oC. Namun, benih ikan mas tidak langsung di masukan pada media air yang suhunya lebih tinggi, ikan diaklimatisasi selama 2 menit untuk pengkondisian ikan dari suhu air yang dingin. Hal tersebut dilakukan supaya ikan dapat mengkondisikan suhu tnubuhnya dari media air yang dingin ke media yang sebelumnya. Setalah 2 menit satu persatu ikan di masukan pada media air dengan suhu 28oC setelah diamati ternyata membuka dan menutupnya operculum ikan kembali mengalami peningkatan dari yang tadinya suhu rendah ke suhu yang tinggi, akan tetapi perbandingannya tidak begitu jauh dari suhu kamar awal (T1), hal tersebut mungkin disebabkan oleh ikan yang stres dipindahkankan terus-menerus dari media air yang suhunya berubah-berubah.
e.       Membuka dan menutup operculum benih ikan mas pada suhu 31oC
Pada perlakuan yang terakhir suhu dinaikan kembali menjadi 6 kali lebih tinggi dari suhu kamar awal (T1). Setelah dihitung membuka dan menutup operculumnya selama satu menit, ketiga benih ikan mas mengalami peningkatan pernafasan. Ketika suhu air meningkat maka oksigen terlarut dalam air akan berkurang, sehingga ikan akan berusaha mengambil atau memanfaatkan oksigen dalam jumlah volume yang banyak. Hal ini dilakukan ikan dengan meningkatkan aktifitas pernafasannya sehingga oksigen yang dipompa lebih banyak daripada keadaan normal. Ketika ada peningkatan suhu maka ada penurunan oksigen terlarut, maka akan terjadi peningkatan metabolisme dalam tubuh ikan. Metabolime yang meningkat dikarenakan oleh meningkatnya aktivitas respirasi pada ikan tersebut.








Perbandingan dengan data hasil pengamatan dari kelompok 27
Tabel 6 : Banyaknya bukaan operculum benih ikan mas pada suhu kamar 26⁰C
IKAN KE :
ULANGAN
RATA-RATA
I
II
III
Belang
164
144
159
156
Orange
168
143
155
155
Hitam
192
198
151
180,3
Tabel  7: Banyaknya bukaan operculum benih ikan mas pada suhu 26-3⁰C = 23⁰C
IKAN KE :
ULANGAN
RATA-RATA
I
II
III
Belang
192
186
222
200
Orange
180
186
174
180
Hitam
168
174
159
167
Tabel 8: Banyaknya bukaan operculum benih ikan mas pada suhu 26-6⁰C= 20⁰C
IKAN KE :
ULANGAN
RATA-RATA
I
II
III
Belang
120
120
96
272
Orange
132
131
120
303
Hitam
138
132
120
310
Tabel 9: Banyaknya bukaan operculum benih ikan mas pada suhu 3⁰ dibawah suhu kamar
IKAN KE :
ULANGAN
RATA-RATA
I
II
III
Belang
233
240
259
244
Orange
243
281
242
255,3
Hitam
257
286
271
271,3
Tabel 10: Banyaknya bukaan operculum benih ikan mas pada suhu 6⁰C dibawah suhu kamar
IKAN KE :
ULANGAN
RATA-RATA
I
II
III
Belang
302
305
303
303,3
Orange
251
258
243
250,6
Hitam
267
269
280
272

Dari data tabel di atas terdapat perbedaan hasil dengan hasil data dari kelompok kami. Dari data kelompok 27 di atas menunjukan adanya peningkatan membuka dan menutup operculum ketika suhu air diturunkan dan dinaikkan, sedangkan pada hasil pengamatan kami bukaan operculum ikan terus menurun seiring dengan diturunkannya suhu dan mengalami peningkatan bukaan operculum pada saat suhu air dinaikkan, begitu pula dengan beberapa data kelompok yang lain, seperti pada data kelompok 4, kelompok 5, dan kelompok 23  (terlampir) selain dari kel 27 mengalami penurunan bukaan operculum setelah penurunan suhu dan mengalami peningkatan bukaan opercullum setelah suhu dinaikkan. Padahal semua ikan yang diamati oleh semua kelompok dari stok ikan yang sama. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh perbedaan ukuran ikan, dan keadaan ikan pada saat dipindahkan ke media air yang berbeda dari sebelumnya, mungkin ada ikan yang sulit mengkondisikan diri dengan lingkungan yang baru. Ikan akan mengalami stress ketika dipindahkan pada media air yang baru. Kemudian ketelitian dalam perhitungan bukaan operculum dalam waktu tertentu juga dapat mempengaruhi perbedaan hasil pengamatan antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya.






BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Suhu merupakan salah satu faktor fisik lingkungan perairan yang paling jelas. Mudah diukur dan sangat beragam. Suhu tersebut mempunyai peranan yang peting dalam megatur aktivitas biologis hewan air di perairan. Ini terutama disebabkan karena suhu mempengaruhi kecepatan reaksi  kimiawi dalam tubuh dan sekaligus menentukan kegiatan metabolik, misalnya dalam hal respirasi. Dalam keadaan suhu normal metabolisme maupun tingkah laku ikan akan berjalan dengan normal juga. Namun bila terjadi perubahan suhu, respon yang diberikan oleh ikan akan menunjukan penyesuaian metabolisme tubuhnya terhadap lingkungan untuk mempertahankan hidupnya. Perubahan suhu yang terjadi akan sangat berpengaruh terhadap pernafasan ikan, karena ketika ada peningkatan suhu maka ada penurunan oksigen terlarut, maka akan terjadi peningkatan metabolisme dalam tubuh ikan. Metabolime yang meningkat dikarenakan oleh meningkatnya aktivitas respirasi.
Apabila suhu meningkat maka kelarutan oksigen berkurang. Oksigen sebagai bahan pernafasan dibutuhkan oleh sel untuk berbagai reaksi metabolisme. Oleh sebab itu kelangsungan hidup ikan ditentukan oleh kemampuannya memperoleh oksigen yang cukup dari lingkungannya. Ketika kadar oksigen berkurang dalam suatu perairan maka ikan akan berusaha mengambil atau memanfaatkan oksigen dalam jumlah volume yang banyak. Hal ini dilakukan ikan dengan meningkatkan aktifitas pernafasannya sehingga oksigen yang dipompa lebih banyak daripada keadaan normal.
5.2 Saran
Dari hasil praktikum yang telah kami lakukan, kami dapat mengetahui bahwa perubahan suhu sangat berpengaruh terhadap membuka dan menutupnya operculum benih ikan mas. Ketika suhu menurun, bukaan operculum ikan pun menurun pula, begitu juga seebaliknya ketika suhu naik maka bukaan operculum ikan meningkat. Namun, ketelitian dalam perhitungan bukaan operculum pada setiap setiap menitnya harus diperhatikan oleh semua praktikan. Karena hal tersebut akan berpengaruh terhadap pembahasan dan kevalidan dari data hasil pengamatan. Praktikan juga seharusnya memperhatikan faktor-faktor yang menyebabkan ikan menjadi stres pada saat diamati. Kmudian praktikan seharusnya memperhatikan dengan baik setiap arahan dari laboran.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim,2012.Suhu dan Kekeruhan Air. http://www.kajianpustaka.com/
Anonim,2011.Pengaruh Suhu Air Pada Makhluk Hidup. http://www.sentra-edukasi.com/
Anonim,2012.Ikan Mas dan Ikan Lele. http://percobaandanpraktikum.blogspot.com/ Diakses tanggal 02 Oktober 2013
Aminah,Siti dkk. 2013. Laporan Akhir Praktikum Ikhtiologi. Jatinangor Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran
















LAMPIRAN
Data hasil pengamatan kelompok 4
Tabel 1. : Banyaknya bukaan operkulum benih ikan mas pada suhu Kamar (26oC)
Ikan ke :
Ulangan
Rata-rata
I
II
III
1 (hitam)
152
138
143
144,3
2 (putih)
142
128
123
131
3(oranye)
145
149
297
149

Tabel 2. : Banyaknya bukaan operkulum benih ikan mas pada suhu -3O suhu Kamar (23oC)
Ikan ke :
Ulangan
Rata-rata
I
II
III
1 (hitam)
157
61
117
112
2 (putih)
121
76
95
97,3
3(oranye)
135
135
153
141

Tabel 3. : Banyaknya bukaan operkulum benih ikan mas pada suhu -6O suhu Kamar (20oC)
Ikan ke :
Ulangan
Rata-rata
I
II
III
1 (hitam)
111
95
96
100,7
2 (putih)
87
95
120
100,7
3(oranye)
106
127
114
115,7

Tabel 4. : Banyaknya bukaan operkulum benih ikan mas pada suhu +3O suhu Kamar (29oC)
Ikan ke :
Ulangan
Rata-rata
I
II
III
1 (hitam)
183
160
175
172,7
2 (putih)
165
144
157
155,3
3(oranye)
169
164
156
163

Tabel 5. : Banyaknya bukaan operkulum benih ikan mas pada suhu +6O suhu Kamar (32oC)
Ikan ke :
Ulangan
Rata-rata
I
II
III
1 (hitam)
200
195
192
195,7
2 (putih)
192
200
200
197,3
3(oranye)
220
210
226
218,7

Data hasil pengamatan kelompok 5
Tabel 1. : Banyaknya bukaan operculum benih ikan mas Pada suhu Kamar (26 º C)
Ikan ke :
Ulangan
Rata-rata
I
II
III
1.Kuning
87
85
73
81,6
2.Merah
105
119
129
117,6
3.Hitam
121
132
134
129

Tabel 2. : Banyaknya bukaan operculum benih ikan mas Pada suhu 3 º C di atas
                Suhu Kamar (29 ºC)
Ikan ke :
Ulangan
Rata-rata
I
II
III
1.Kuning
158
154
163
158,3
2.Merah
99
102
83
94,6
3.Hitam
168
140
139
149

   Tabel 3. : Banyaknya bukaan operculum benih ikan mas 6 º C di atas
                Suhu Kamar (32 ºC)
Ikan ke :
Ulangan
Rata-rata
I
II
III
1.Kuning
150
135
132
139
2.Merah
164
151
156
157
3.Hitam
168
158
154
160

    Tabel 4. : Banyaknya bukaan operculum benih ikan mas Pada suhu 3 º C di bawah
                Suhu Kamar (23 º C)
Ikan ke :
Ulangan
Rata-rata
I
II
III
1.Kuning
84
59
69
70,6
2.Merah
103
112
116
110,3
3.Hitam
157
130
147
144,6


Tabel 5. : Banyaknya bukaan operculum benih ikan mas Pada suhu 6 º C di bawah
                Suhu Kamar (19,5 ºC)
Ikan ke :
Ulangan
Rata-rata
I
II
III
1.Kuning
115
82
103
100
2.Merah
87
91
105
94,3
3.Hitam
127
109
128
121,3

Data Hasil Pengamatan Kelompok 23
Tabel 1. : banyaknya bukaan operculum benih ikan mas pada suhu kamar (26oC)
Ikan ke- :

Ulangan

Rata – rata

I
II
III

1
103
87
101
97
2
115
110
120
115
3
102
105
116
107,67

Tabel 2. : banyaknya bukaan operculum benih ikan mas pada suhu 3oC dibawah suhu kamar (23oC)
Ikan ke- :

Ulangan

Rata – rata

I
II
III

1
119
102
91
104
2
99
92
89
93,33
3
95
92
70
85,67

Tabel 3. : banyaknya banyaknya bukaan operculum benih ikan mas pada suhu 6oC dibawah suhu kamar (20oC)
Ikan ke- :

Ulangan

Rata – rata

I
II
III

1
108
85
82
91,67
2
87
87
87
87
3
94
67
59
73,33

Tabel 4. : banyaknya bukaan operculum benih ikan mas pada suhu 3oC diatas suhu kamar (29oC)
Ikan ke- :

Ulangan

Rata – rata

I
II
III

1
138
136
134
136
2
129
128
121
126
3
121
115
108
114,67

Tabel 5. : banyaknya bukaan operculum benih ikan mas pada suhu 6oC diatas suhu kamar (32oC)
Ikan ke- :

Ulangan

Rata – rata

I
II
III

1
140
133
132
135
2
133
130
129
130,67
3
125
120
118
121

Keterangan :
Ikan 1 = orange putih
Ikan 2 = hitam
Ikan 3 = orange full


sumber
https://sitiaminah2006.blogspot.com/2016/03/laporan-praktikum-perubahan-suhu-panas.html

No comments:

Post a Comment