Sunday, October 20, 2019

laporan praktikum mikrobiologi umum teknik isilasi mikroba

laporan praktikum mikrobiologi umum teknik isilasi mikroba




                                                                   ACARA III
TEKNIK ISOLASI MIKROBA
PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Isolasi mikroba adalah pemindahan mikroba tersebut dari lingkungannya di alam dan menumbuhkannya sebagai biakan murni dalam medium buatan. Suatu mikroba yang hidup di alam terbuka jarang dijumpai tumbuh sebagai biakan murni. Namun pada umumnya dalam populasi campuran dengan mikroba lain. Dalam mengisolasi mikroba, semua alat yangdigunakan harus steril agar media yang akan digunakan tidak akan terkontaminasi oleh mikroba lain yang tidak diinginkan. Mikroba tidak membutuhkan banyak tempat untuk perkembangannya, salah satu tempat perkembangan mikroba adalah media buatan yang dapat dimasukkan ke dalam tabung reaksi atau cawan petri. Hal-hal yang harus diperhatikan sebelum mengisolasi mikroba yaitu sifat dan jenismikroba yang akan diisolasi, tempat hidup dan asal mikroba, medium untuk pertumbuhan yang sesuai, faktor lingkungan tempat inkubasi, dan cara menanam mikroba (Dwidjoseputro, 2010). Oleh karena itu, praktikum ini dilakukan untuk mengetahui teknik-teknik isolasi mikroba seperti bakteri dan khamir.

Tujuan Praktikum
            Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui teknik-teknik isolasi mikroba dan cara mengisolasinya.

TINJAUAN PUSTAKA
Suatu mokroba yang hidup di alam terbuka jarang dijumpai tumbuh sebagai biakan murni, tetapi pada umumnya dalam populasi campuran dengan mikroba lainnya. Untuk mengidentifikasi mikroba, termasuk pengujian morfologi, fisiologi dan serologi, sebelumnya perlu dilakukan isolasi dari habitatnya. Jadi, isolasi suatu mikrobia adalah memindahkan mikroba tersebut dari lingkungannya di alam dan menumbuhkan sebagai biakan murnidalam media buatan (Nazaruddin, 2014).
Isolasi mikroba pada prinsipnya adalah memisahkan jenis mikroba dengan jenis mikroba lainnya dengan asal mikroba yang terdiri dari berbagai macam spesies. Hal ini dapat dilakukan dengan menumbuhkan biakan pada media padat. Pada medium padat, sel-sel akan membentuk suatu koloni sel yang tetap. Jika sel-sel tersebut tertangkap oleh media pada beberapa tempat yang terpisah maka setiap sel atau kumpulan sel yang hidup akan berkembang menjadi satu koloni sehingga mudah perpisahan selanjutnya (Schlegel, 2007).
Pemindahan bakteri dari medium lama ke medium yang baru atau dikenal dengan istilah inokulasi bakteri ini memerlukan banyak ketelitian. Terlebih dahulu kita harus mengusahakan agar semua alat-alat yang akan digunakan untuk pengerjaan medium dan pengerjaan inokulasi benar-benar steril. Hal ini untuk menghindari terjadinya kontaminasi, yaitu masuknya mikroba lain yang tidak diinginkan sehingga biakan yang tumbuh di dalam medium adalah benar-benar biakan murni (Dwijoseputro, 2010).
Dikenal beberapa metode untuk memperoleh biakan murni dari suatu biakan campuran. Dan diantaranya yang paling sering digunakan adalah metode cawan tuang. Yang didasarkan pada prinsip pengenceran dengan maksud untuk memperoleh spesies individu. Dengan anggapan bahwa setiap koloni dapat terpisah dari satu jenis sel yang dapat diamati. Kedua metode ini didasarkan pada prinsip yang sama yaitu mengencerkan organisme sedemikian rupa sehingga individu spesies dapat dipisahkan (Arifanto, 2009).
            Di alam bebas, tidak ada mikroba yang hidup sendiri atau terlepas dari spesies lain. Seringkali mikroba patogen kedapatan secara bersama-sama dengan mikroba aerob (saprobakteri). Dalam biakan murni tidak saja diperlukan bagaimana memperoleh suatu biakan murni, tetapi juga bagaimanamemelihara serta mencegah pencemaran dari luar. Medium untuk membiakkan mikroba haruslah steril sebelum digunakan. Kontaminasi dari luar terutama berasal dari udara yang mengandung banyak mikroorganisme. Teknik biakan murni untuk suatu spesies dikenal dengan beberapa cara yaitu cara pengenceran, cara penuangan, cara pengenceran (Waluyo, 2007).                            







PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat Praktikum
            Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, 11 November 2014 di Laboraturium Mikrobiologi Pangan Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Universitas Mataram.
Alat dan Bahan Praktikum
a.       Alat-alat Praktikum
Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum mikrobiologi yaitu tabung reaksi, mikropipet, cawan petri, jarum ose, drigalski, lampu bunsen, jarum ent, jarum preparat, dan incubator.
b.      Bahan-bahan Praktikum
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum mikrobiologi yaitu suspensi biakan murni (Bacillus sp.), medium Nutrient Agar (NA), medium Plate Count Agar (PCA), dan Nutrien Broth (NB).
Prosedur Kerja
a.       Metode gores
1.      Diambil kultur biakan dengan menggunakan jarum ose.
2.      Digoreskan ujung jarum ose diatas permukaan NA.
3.      Dilakukan metode diatas secara duplo (dua kali percobaan).
4.      Dibungkus cawan petri dengan plastik dan diberi label.
5.      Diinkubasi pada suhu 37oC didalam inkubator selama 2 hari.
6.      Diamati warna, bentuk, dan pola pertumbuhan koloni bakteri.
b.      Metode sebar
1.      Diambil kultur biakan (Bacillus sp.) dengan menggunakan pipet mikro sebanyak 0,5 ml.
2.      Dituang diataas permukaan medium NA.
3.      Diratakan kultur biakan diatas medium NA menggunakan drigalski.
4.      Dilakukan langkah 1 sampai 3 secara duplo (dua kali percobaan).
5.      Dibungkus cawan petri dengan plastik dan diberi label.
6.      Diinkubasi pada suhu 37oC di dalam inkubator selama 2 hari.
7.      Diamati warna, bentuk, dan pola pertumbuhan koloni bakteri hasil inkubasi.
c.       Metode tuang
1.      Diambil kultur biakan cair sebanyak 1 ml dengan menggunakan mikropipet.
2.      Dipindahkan ke cawan steril, dituangkan media.
3.      Digoyangkan dan diputar cawan petri di atas meja untuk meratakan penyebaran biakan dalam medium.
4.      Dilakukan langkah 1-3 secara duplo (2 kali percobaan).
5.      Dibungkus cawan petri dengan plastik dan diberi label.
6.      Diinkubasi dengan suhu 37oC di dalam inkubator selama 2 hari.
7.      Diamati warna, bentuk, dan pola pertumbuhan koloni bakteri hasil inkubasi.
d.      Metode tusuk
1.      Dicelupkan ujung jarum preparat ke dalam suspensi bakteri.
2.      Ditusukkan secara tegak ke dalam medium NA.
3.      Dilakukan langkah 1-2 secara duplo (dua kali percobaan).
4.      Dibungkus cawan petri dengan plastik dan diberi label.
5.      Diinkubasi dengan suhu 37oC didalam inkubator selama 2 hari.
6.      Diamati warna, bentuk, dan pola pertumbuhan koloni bakteri hasil inkubasi.
e.       Metode medium cair
1.      Diambil kultur biakan dengan menggunakan jarum ose.
2.      Dipindahkan biakan ke dalam media NB dan ditutup dengan kapas.
3.      Dilakukan langkah 1-2 secara duplo.
4.      Dibungkus tabung reaksi dengan plastik dan diberil label.
5.      Diinkubasi dengan suhu 37oC di dalam inkubator selama 2 hari.
6.      Diamati warna, bentuk dan pola pertumbuhan koloni bakteri hasil inkubasi.









HASIL PENGAMATAN
Tabel 3.1. Hasil Pengamatan Teknik Isolasi Mikroba
No
Metode
Kenampakan
Warna
Pola Pertumbuhan


U1
U2
U1
U2
U1
U2
1
Gores
Bergelombang
Bergelombang
Putih
Putih
Zig-zag
Zig-zag
2.
Sebar
Bergelombang
Bergelombang
Bening
Bening
Menyebar
Menyebar
3.
Tuang
Rata
rata
Putih
Putih
Menyebar
Menyebar
4.
Tusukan
Mengikuti tusukan
Mengikuti tusukan
Kuning keruh
Kuning keruh
Tersebar pada permukaan
Tersebar pada permukaan
5.
Cair
Spiral
Rata
Kuning bening
Kuning bening
Mengendap berbenang
Rapat













PEMBAHASAN
            Suatu mikroba yang hidup di alam terbuka jarang dijumpai tumbuh sebagai biakan murni, tapi pada umumnya dalam populasi campuran dengan mikroba lainnya. Untuk mengidentifikasi mikroba, termasuk pengujian morfologi, fisiologi, dan serologi, sebelumnya perlu dilakukan isolasi dari habitatnya. Jadi isolasi suatu mikroba adalah memindahkan mikroba tersebut dari lingkungannya di alam dan menumbuhkan sebagai biakan murni dalam medium buatan (Nazzarudin, 2014).
            Praktikum ini dilakukan untuk mengetahui dan melakukan beberapa cara untuk mengisolasi mikroba. Dalam praktikum ini dilakukan lima metode isolasi mikroba yaitu yaitu metode gores, metode sebar, metode tusuk, metode tuang dan metode medium cair. Kultur yang digunakan dalam praktikum ini adalah Bacillus sp. dan medium Nutrient Agar (NA).
            Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh kenampakan bergelombang untuk sampel satu dan dua. Warna yang diperoleh untuk kedua sampel adalah putih dengan pola pertumbuhan zig-zag. Metode gores bertujuan untuk menumbuhkan kultur pada media baru dan untuk mengisolasi mikroba. Pada metode gores, kultur digoreskan dengan menggunakan jarum ose pada permukaan medium dengan pola tertentu. Menurut Surbakti (2010), metode gores memerlukan keterampilan-keterampilan yang diperoleh dari latihan. Penggoresan yang sempurna akan menghasilkan koloni yang terpisah. Metode gores memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah koloni yang dihasilkan adalah koloni tunggal dan kelemahannya adalah proses pelaksanaannya cukup sulit karena membutuhkan ketelitian dan kehati-hatian yang tinggi. Contohnya pada saat menggoreskan kultur agar tidak merusak media.
            Berdasarkan metode sebar diperoleh hasil kenampakan bakteri bergelombang untuk sampel 1 dan 2. Berwarna bening dengan pola pertumbuhan menyebar. Kelebihan dari metode sebar adalah dapat digunakan untuk memisahkan mikroba aerob dengan mikroba lainnya. Sedangkan kelemahannya adalah sulit membedakan kontaminan karena sampel diratakan ke seluruh permukaan. Metode sebar bertujuan agar mikroba dapat tumbuh merata pada permukaan media. Sebelum isolasi, dilakukan pengenceran yang bertujuan agar populasi mikroba tidak terlalu padat. Menurut Razuna (2010), sumber mikroba harus diencerkan terlebih dahulu agar populasinya tidak terlalu padat. Apabila tidak dilakukan pengenceran, maka populasi mikroba yang tumbuh pada media tumbuh terlalu padat sehinngga akan sulit mengidentifikasinya.
            Metode tuang atau tebar dilakukan dengan cara menghomogenkan mikroba yang akan dibiakkan dengan media Nutrient Agar (NA) yang telah dicairkan diatas suhu 45oC  yang kemudian dibiarkan memadat. Dari hasil pengamatan diperoleh kenampakan yang rata dari bakteri untuk kedua sampel. Warna yang diperoleh adalah putih dengan pola menyebar. Menurut Volk (1993), menyatakan bahwa cara penuangan terdiri dari penginokulasian biakan campuran ke dalam tabung-tabung uji yang mengandung NA cair yang telah didinginkan, isinya diaduk untuk memencarkan bakteri ke seluruh medium. Kelemahan metode tuang adalah kontaminan sulit dibedakan sedangkan kelebihannya mudah dilakukan karena sampel dihomogenkan sehingga kemungkinan bakteri aerob dan bakteri anaerob dapat hidup. Metode tuang diinkubasi secara terbalik, hal ini dimaksudkan agar uap air yang berasal dari media tidak jatuh kembali ke atas media sehingga media dapat rusak.
            Berdasarkan hasil pengamatan, kenampakan yang muncul mengikuti pola tusukan, berwarna kuning keruh, dan pola pertumbuhan yaitu tersebar pada permukaan untuk kedua sampel yang diamati. Metode tusuk dilakukan dengan cara menusukkan kultur biakan dengan menggunakan jarum preparat  pada medium NA.
            Berdasarkan hasil pengamatan yang menggunakan medium cair diperoleh kenampakan spiral untuk sampel pertama dan rata untuk sampel kedua. Warna pada kedua sampel adalah kuning bening dengan pola pertumbuhan mengendap berbenang untuk sampel 1 dan rapat untuk sampel dua. Metode medium cair digunakan untuk menumbuhkan bakteri yang tidak dapat tumbuh di medium padat. Prinsip dari metode medium cair ini adalah untuk melarutkan  atau melepaskan mikroba ke dalam air. Pengenceran sangat diperlukan, karena semakin tinggi pengemceran maka peluang untuk mendapatkan satu sel semakin besar. Pada metode medium cair, kultur media dimasukkan ke dalam media NB menggunakan jarum ose. Menurut Winarni (1997), isolasi menggunakan medium cair dengan cara pengenceran. Kelebihan dari metode medium cair adalah dapat menunjukkan biakan yang banyak dan cepat. Sedangkan kelemahannya adalah tidak dapat membuat biakan murni dari bahan yang mengandung berbagai mikroorganisme (Dwidjoseputro, 2010).
            Setiap metode isolasi koloni mikroba dilakukan secara duplo. Yang dimaksud secara duplo yaitu dilakukan dengan dua kali percobaan yang sama. Hal ini dilakukan untuk membandingkan hasil biakan yang tumbuh pada metode isolasi yang sama. Dari setiap metode isolasi akan menghasilkan morfologi yang berbeda-beda walaupun bakteri yang digunakan sama. Hal ini disebabkan karena adanya perlakuan yang berbeda-beda pada setiap metode.

















KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan, dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain :
1.    Teknik isolasi bakteri digunakan untuk mendapatkan biakan murni atau kultur murni.
2.    Metode isolasi bakteri antara lain metode gores, metode sebar, metode tuang, metode tusuk dan metode medium cair.
3.    Metode gores menghasilkan kenampakan bergelombang, berwarna putih, dan pola pertumbuahn zig-zag.
4.    Inkubasi terbalik dilakukan agar uap air yang berasal dari media tidak jatuh kembali ke atas media sehingga dapat merusak  media itu sendiri.
5.    Semakin tinggi pengenceran, maka semakin tinggi kemungkinan mendapat satu sel mikroba.


sumber
http://tikagpravitri.blogspot.com/2015/09/praktikum-mikrobiologi-umum-teknik.html

Laporan praktikum ANALISIS PANGAN (ANALISIS TEKSTUR BAHAN PANGAN)

Laporan praktikum 10 ANALISIS PANGAN (ANALISIS TEKSTUR BAHAN PANGAN)
ANALISIS TEKSTUR BAHAN PANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN

Yoga Jati Pratama (240210140003)

Departemen Teknologi Industri Pangan Universitas Padjadjaran, Jatinangor
Jalan Raya Bandung-Sumedang Km. 21, Jatinangor, Sumedang 40600 Telp. (022) 7798844, 779570 Fax. (022) 7795780 Email: yoga.jpratama1@gmail.com

ABSTRAK
            Tekstur adalah karakter yang sangat penting dari setiap makanan yang kita makan. Produk pangan atau produk antara dalam proses pengolahan memiliki bentuk dan tekstur yang bermacam-macam. Ada yang teksturnya Garing,   kenyal,   renyah,   juicy,   empuk,   meler,   padat,   keras,   lunak. Produk pangan yang berbeda-beda tekstur tersebut memiliki respon yang berbeda apabila dikenakan gaya. Dengan perubahan sifat tersebut maka pengukuran mutu tekstur pun   akan   berbeda.   Parameter   penting   mutu   pada   produk   pangan   diantaranya kekenyalan, kelengketan, dan elastisitas. Perubahan bentuk (deformasi) suatu benda padat, semi padat, plastis atau cair dapat terjadi apabila ada gaya yang mengenainya.  Gaya yang diberikan dapat berupa gaya tekan (compression), gaya tarik (tensile) atau gaya geser (shearing). Pengujian tekstur bahan pangan yang dilakukan berdasarkan sifatnya yaitu dengan metode fundamental,imitative, dan empirik. Praktikum ini dilakukan di lab pendidikan 1 dan 2 gedung 4 FTIP UNPAD.

Kata kunci : Texture measurement, pengukuran tekstur, bahan pangan.





PENDAHULUAN

            Setiap makanan atau produk pangan pasti memiliki warna, bau dan rasa. Demikian pula mereka masing-masing memiliki sifat mekanis yang unik, bisa keras atau lunak, liat atau empuk, lembut atau kasar, rapuh, renyah, mudah dan tidak mudah mengalir, dan seterusnya.
Ada dua cara yang bisa dilakukan untuk menguji sifat mekanis produk pangan. Pertama, menggunakan indera manusia, dengan cara menyentuh, memijit, menggigit, mengunyah, dan sebagainya, selanjutnya kita sampaikan apa yang kita rasakan. Ini yang disebut dengan analisa sensori. Karena reaksi kita sebagai manusia yang menguji berbeda-beda, maka diperlukan analisa statistik untuk menyimpulkan skala perbedaan ataupun tingkat kesukaan penguji terhadap produk tersebut. Cara uji kedua dengan pendekatan fisik, menggunakan instrument atau peralatan tertentu, hasilnya dinyatakan dengan unit satuan meter (m), kilogram (kg) dan detik (dt).
Tekstur  merupakan aspek yang penting untuk penilaian mutu produk pangan. Tekstur termasuk dalam salah satu faktor yang mempengaruhi penerimaan konsumen terhadap produk pangan (Hellyer, 2004). Dalam mendapatkan tekstur makanan yang baik dapat digunakan turunan selulose dan pemakaian CMC dapat memperbaiki tekstur  dan mampu untuk mencegah terjadinya retrogadasi (Makfoeld dkk.,  2002).
Tekstur makanan dapat didefinisikan sebagai cara dimana berbagai kandungan dan unsur struktural disusun dan disatukan menjadi mikro dan makrostruktur dan perwujudan eksternal struktur ini dalam bentuk aliran dan deformasi. Terdapat hubungan langsung antara komposisi bahan kimia dari makanan, sifat fisik atau mekanis, dan hasil dari sifat fisik atau mekanis tersebut. Tekstur makanan dapat ditentukan melalui tes mekanik (instrumen) atau dengan analisis penginderaan. Selanjutnya, kita menggunakan alat indera manusia sebagai alat analisis (deMan, 2013).
              Menurut Ihekoronye dan Ngoddy (1985), Tekstur Analyzer adalah alat yang terkait dengan penilaian dari karakteristik mekanis suatu materi, di mana alat tersebut diperlakukan untuk menentukan kekuatan materi dalam bentuk kurva. Tekstur analizer digunakan untuk menentukan sifat fisik bahan yang berhubungan dengan daya tahan atau kekuatan suatu bahan terhadap tekanan.
Hal yang perlu diperhatikan saat akan melakukan analisis dengan texture analyzer adalah pemilihan trigger dan probe yang tepat. Trigger dan probe yang digunakan untuk menguji material harus disesuaikan dengan karakteristik material tersebut. Kurva hasil pembacaan texture analyzer tersebut akan merepresentasikan data-data yang diperlukan untuk mengetahui karakteristik fisikokimia produk akhir, sehingga kualitas tekstural produk dapat diketahui. Data – data yang didapatkan dalam kurva hasil teksture analyzer antara lain :
1. Hardness (tingkat kekerasan)
2. Crispiness (tingkat kerenyahan) merupakan hasil bagi antara nilai tingkat kekerasan dan nilai rata-rata dari semua titik (H1 / HAV).
3. Quantity and number of fractures (karakteristik saat dipatahkan atau tingkat kerapuhan)
Karakteristik fisik seperti kekerasan (hardness) dan fracturability termasuk ke dalam kajian reologi produk. Karakteristik ini perlu dipelajari karena dapat mempengaruhi bentuk fisik, tekstur, penampakan dan kerenyahan secara organoleptik produk biskuit yang dihasilkan. Hardness dan fracturability dipandang sebagai dua indikator penting dalam menganalisis tekstur makanan terutama dalam produk-produk baked seperti roti dan biskuit (Pratama dkk., 2014).

Metodologi

Bahan dan alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain texture analyzer mikrometer sekrup, penggaris, probe dan komputer atau laptop.
Sampel yang digunakan antara lain bakso, dodol. jelly, belimbing, tahu, kerupuk, roti, dan waffer.

Analisis Teksture Menggunakan Texture Analyzer

Sampel atau bahan disiapkan, dan ukur ketebalannya dengan menggunkan mikrometer sekrup atau penggaris. Kemudian sampel diletakkan pada meja objek texture analyzer. Pilih probe yang sesuai dengan sampel. Untuk sampel yang padat pilih probe yang silinder, untuk sampel liquid atau semi padat pilih probe yang plate. Pada komputer dipilih program “Texture ProLite”. Probe pada alat diturunkan sampai menyentuh sampel. Angka pada alat dinolkan terlebih dahulu. Alat instrumen dinyalakan dan kurva profil tekstur diperoleh. Sifat teksture yang didapatkan Hardness, cohesiveness, adhesiveness.




Hasil dan Pembahasan
         
      Faktor - faktor yang mempengaruhi pengukuran tekstur sendiri adalah kadar air yaitu semakin tinggi kadar air, maka sampel akan lebih lunak. Jika kadar air lebih rendah, maka sampel akan keras. Gula pereduksi yaitu semakin tinggi gula reduksi pada sampel, maka sampel akan lebih keras. Gas atau udara pada lingkungan sekitar yang mampu untuk mempengaruhi kerapuhan sampel seperti pada keripik kentang. Ciri-ciri tekstur dikelompokkan menjadi 3 golongan yang utama yaitu cirri mekanis, ciri geometris, dan ciri yang lain yang berhubungan dengan air dan lemak (Szczesniak dkk, 1963).
Salah satu faktor lain yang mempengaruhi tekstur bahan adalah porositas bahan. Porositas bahan dapat diperbesar dengan “puffing”. Inti dari pemakasan bertekanan (puffing) terhadap bahan yang dimasak adalah perubahan suhu dan tekanan yang terjadi tiba-tiba. Dengan adanya perubahan tekanan yang terjadi secara tiba-tiba maka akan terjadi pemekaran pada produk yang dimasak yang berarti juga bahan menjadi porus (Rahayoe, 2009).
Analisis Tekstur Bahan Pangan
Hasil yang didapat pada pengujian analisis tekstur bahan pangan adalah berbeda pada masing-masing kelompok, yaitu hasil menunjukkan adanya perbedaan nilai hardness, cohesiveness, viscosity, elastisity, dan adhesiveness. Hal tersebut dapat dilihat pada kurva hasil pengamatan berikut.
Kurva 1. Perbandingan antara Force dengan waktu pada Bakso


Bakso daging adalah produk yang diperoleh dari campuran daging ternak (kadar daging tidak kurang dari 50%) dan pati atau serealia dan bumbu-bumbu, dalam kondisi matang. Komponen utama dari daging yang digunakan untuk membuat bakso adalah protein. Protein berperan dalam pengikatan hancuran daging selama pemasakan dan pengemulsi lemak sehingga produk menjadi empuk, kompak, dan kenyal.
Pada percobaan yang dilakukan, diketahui bahwa tingkat kekerasan bakso sebesar 25.0612 N. Nilai hardness yang cukup tinggi menunjukkan bahwa bakso membutuhkan gaya yang cukup besar sampai mengalami deformasi atau perubahan bentuk.
Kurva Area 1 dan Area 2 dapat dilihat pada Kurva 2 dan Kurva 3.

Kurva 2. Luas Area 1 pada Bakso


Persamaan linear area 1 pada kurva diatas yaitu y = 12.055x-2.9364 didapatkan luas area 1 menggunakan integral, yaitu sebesar 19.529315.
Kurva 3. Luas Area 2 pada Bakso


Persamaan area 2 pada kurva diatas yaitu y = 10.969x-103.86 didapatkan luas area 2 menggunakan integral, yaitu sebesar 14.0367648. Sehingga didapatkan nilai cohesiveness bakso sebesar 0.7187, dan nilai springiness sebesar 0.9320. Springiness atau elastisity adalah laju suatu obyek untuk kembali ke bentuk semula setelah terjadi deformasi (perubahan bentuk). Cohesiveness adalah kekuatan dari ikatan – ikatan yang berada dalam suatu obyek yang menyusun ”body” dari obyek tersebut. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel bakso yang digunakan tergolong elastis karena nilai springiness mendekati 1. Nilai cohesiveness bakso cukup besar sehingga dapat disimpulkan bahwa bakso yang digunakan cukup padat penyusunnya.
Kurva 4. Perbandingan antara Force dengan waktu pada Dodol

Dodol merupakan salah satu produk olahan hasil pertanian yang termasuk dalam jenis makanan yang mempunyai sifat agak basah sehingga dapat langsung dimakan tanpa dibasahi terlebih dahulu (rehidrasi) dan cukup kering sehingga dapat stabil dalam penyimpanan. Dodol termasuk jenis makanan setengah basah (Intermediate Moisture Food) dengan bahan dasar tepung ketan yang sebagian besar terdiri dari amilopektin yang mempunyai kadar air 10-40 %; Aw 0,70-0,85; tekstur lunak; mempunyai sifat elastis, dapat langsung dimakan, tidak memerlukan pendinginan dan tahan lama selama penyimpanan. (Astawan dan Wahyuni dalam Irawati, 2001)
Jika dilihat dari literatur, dodol memiliki kadar air dan Aw yang cukup tinggi. Dodol memiliki indeks penyerapan air yang tinggi. Indeks penyerapan air yang tinggi dapat menurunkan tingkat kekerasan karena semakin banyak air yang diserap maka produk yang dihasilkan semakin lunak (Pitrawati, 2008).
Hasil pengujian terhadap tingkat hardness dodol dapat dilihat pada Kurva 4, menunjukkan bahwa nilai kekerasan dodol tertinggi berada pada 17.0658 N. Nilai hardness yang cukup tinggi namun masih dibawah bakso menunjukkan bahwa dodol membutuhkan gaya yang cukup besar sampai mengalami deformasi atau perubahan bentuk.
Kurva luas area 1 dan luas area 2 dapat dilihat pada Kurva 5 dan Kurva 6.

Kurva 5. Luas Area 1 pada Dodol


Kurva diatas menunjukkan persamaan linear area 1 yaitu y = 9.0632x-1.1551 didapatkan luas area 1 menggunakan integral, yaitu sebesar 18.49074.


Kurva 6. Luas Area 2 pada Dodol


Persamaan area 2 pada kurva diatas yaitu y = 7.7987x-1.4593 didapatkan luas area 2 menggunakan integral, yaitu sebesar 130.9196. Sehingga didapatkan nilai cohesiveness dodol sebesar 7.08028, dan nilai springiness sebesar 0.8094. Dari nilai springiness atau elasticity yang sudah mendekati 1 dapat disimpulkan bahwa dodol yang digunakan sudah cukup elastis. Nilai cohesiveness dodol sangat besar  dapat disimpulkan bahwa dodol yang digunakan memiliki ikatan penyusun yang kuat.
Kurva 7. Perbandingan antara Force dengan waktu pada Jelly

Hasil pengujian terhadap tingkat hardness jelly dapat dilihat pada Kurva 7, menunjukkan bahwa nilai kekerasan jelly tertinggi berada pada 9.1676 N. Nilai hardness yang cukup menunjukkan bahwa jelly membutuhkan gaya yang sedikit sampai mengalami deformasi atau perubahan bentuk.
Kurva luas area 1 dan luas area 2 dapat dilihat pada Kurva 8 dan Kurva 9.
Kurva 8. Luas Area 1 pada Jelly

Kurva diatas menunjukkan persamaan linear area 1 yaitu y = 3.7461x-1.6657 didapatkan luas area 1 menggunakan integral, yaitu sebesar 7.756721.
Kurva 9. Luas Area 2 pada Jelly

Persamaan area 2 pada kurva diatas yaitu y = 2.5110x-24.0639 didapatkan luas area 2 menggunakan integral, yaitu sebesar 51.24182. Sehingga didapatkan nilai cohesiveness jelly sebesar 6.606118339, dan nilai springiness sebesar 0.995086. Dari nilai springiness atau elasticity yang hampir 1 dapat disimpulkan bahwa jelly yang digunakan sangat elastis atau kenyal. Nilai cohesiveness jelly yang besar  dapat disimpulkan bahwa dodol yang digunakan memiliki ikatan penyusun yang kuat.
Berdasarkan hasil praktikum, tingkat kekerasan paling tinggi terdapat pada dodol, kemudian jelly dan yang terakhir bakso. Hal ini dapat dilihat dari nilai cohesiveness jelly yang lebih tinggi dari pada bakso dan lebih rendah dari pada dodol. Sedangkan berdasarkan tingkat kekenyalan paling tinggi terdapat pada jelly, kemudian bakso dan yang terakhir dodol. Hal ini dapat dilihat dari nilai springiness jelly yang lebih tinggi dari pada bakso dan dodol. Hubungan antara waktu, tegangan, kerenyahan yaitu semakin banyak waktu yang dibutuhkan pada tekstur maka tingkat ketegangan sampel tersebut semakin tinggi dan juga tingkat kerenyahan sampel tersebut akan semakin tinggi pula, sehingga semakin baik untuk dikonsumsi.
Kurva 10. Perbandingan antara Force dengan waktu pada Tahu

Tahu merupakan salah satu jenis makanan yang dibuat dari kedelai dengan jalan memekatkan protein kedelai dan  mencetaknya melalui proses pengendapan protein pada titik isoelektriknya, dengan atau tanpa penambah unsure-unsur lainyang diizinkan (Suprapti, 2005).
Menurut Sundarsih (2009), protein merupakan komponen utama dari kedelai kering. Kedelai utuh mengandung 35 – 40% protein, paling tinggi dari segala jenis kacang – kacangan.
Hasil pengujian terhadap tingkat hardness tahu dapat dilihat pada Kurva 10, menunjukkan bahwa nilai kekerasan pada tahu 1 yaitu 2.3557 N. Sedangkan pada tahu 2 yaitu 1.3688 N. Tahu memiliki nilai hardness yang sangat rendah sehingga dapat disimpulkan bahwa tahu mudah terdeformasi atau mudah mengalami perubahan bentuk jika terkena gaya. hal ini dapat dikarenakan ikatan penyusunnya (cohesiveness) yang kurang kuat.
Hubungan antara waktu, tegangan, kerenyahan yaitu semakin banyak waktu yang dibutuhkan pada tekstur maka tingkat ketegangan sampel tersebut semakin tinggi dan juga tingkat kerenyahan sampel tersebut akan semakin tinggi pula, sehingga semakin baik untuk dikonsumsi.
Kurva 11. Perbandingan antara Force dengan waktu pada Belimbing

Hasil pengujian terhadap tingkat hardness belimbing dapat dilihat pada Kurva 11, menunjukkan bahwa nilai kekerasan belimbing tertinggi berada pada 10.1246 N. Belimbing memiliki nilai hardness sedikit lebih besar dari pada nilai hardness jelly.  Belimbing membutuhkan gaya yang cukup besar untuk mengalami deformasi atau perubahan bentuk.
Hubungan antara waktu, tegangan, kerenyahan yaitu semakin banyak waktu yang dibutuhkan pada tekstur maka tingkat ketegangan sampel tersebut semakin tinggi dan juga tingkat kerenyahan sampel tersebut akan semakin tinggi pula, sehingga semakin baik untuk dikonsumsi.

Kurva 12. Perbandingan antara Force dengan waktu pada Kerupuk

Kerupuk merupakan produk makanan kering hasil penggorengan dengan bahan dasar dari tapioka dengan atau tanpa bahan tambahan lain yang diijinkan. Kerupuk merupakan jenis makanan kecil yang mengalami pengembangan volume, membentuk produk yang berongga dan mempunyai densitas rendah selama penggorengan. Kerupuk pada umumnya terbuat dari bahan yang mengandung pati cukup tinggi (Astawan, 1988).
Hasil pengujian terhadap tingkat hardness kerupuk dapat dilihat pada Kurva 12, menunjukkan bahwa nilai kekerasan kerupuk tertinggi berada pada 20.0362 N. Nilai hardness kerupuk tergolong besar dan sudah melebihi hardness bakso. Dapat disimpulkan untuk membuat kerupuk terdeformasi dibutuhkan gaya yang besar. Hal ini dipengaruhi oleh indeks penyerapan air. Kerupuk memiliki kadar air yang rendah sehingga teksturnya pun renyah.
Hubungan antara waktu, tegangan, kerenyahan yaitu semakin banyak waktu yang dibutuhkan pada tekstur maka tingkat ketegangan sampel tersebut semakin tinggi dan juga tingkat kerenyahan sampel tersebut akan semakin tinggi pula, sehingga semakin baik untuk dikonsumsi.
Kurva 13. Perbandingan antara Force dengan waktu pada Roti


Hasil pengujian terhadap tingkat hardness roti dapat dilihat pada Kurva 13, menunjukkan bahwa nilai kekerasan roti tertinggi berada pada 19.3963 N. Nilai hardness roti hampir mendekati nilai hardness bakso. Dapat disimpulkan untuk membuat roti terdeformasi membutuhkan gaya yang besar.
Hubungan antara waktu, tegangan, kerenyahan yaitu semakin banyak waktu yang dibutuhkan pada tekstur maka tingkat ketegangan sampel tersebut semakin tinggi dan juga tingkat kerenyahan sampel tersebut akan semakin tinggi pula, sehingga semakin baik untuk dikonsumsi.

Kurva 14. Perbandingan antara Force dengan waktu pada Wafer


Hasil pengujian terhadap tingkat hardness wafer dapat dilihat pada Kurva 6, menunjukkan bahwa nilai kekerasan wafer tertinggi berada pada 64.0111 N.
Jika dibandingkan dengan nilai hardness pada kerupuk yaitu 20.0362 N, nilai hardness pada wafer jauh lebih tinggi. Nilai kekerasan yang semakin meningkat menggambarkan tekstur yang kurang renyah si bandingkan produk yang memiliki kekerasan lebih rendah. Tingkat kekerasan dipengaruhi oeh derajat gelatinisasi, derajat pengembangan, indeks kelarutan air dan indeks penyerapan air. Derajat gelatinisasi yang semakin tinggi akan menyebabkan derajat pengembangan semakin tinggi, sehingga nilai kekerasan menurun (Muchtadi dkk, 1988). Sehingga dapat disimpulkan bahwa kerupuk lebih renyah dari pada wafer.
Hubungan antara waktu, tegangan, kerenyahan yaitu semakin banyak waktu yang dibutuhkan pada tekstur maka tingkat ketegangan sampel tersebut semakin tinggi dan juga tingkat kerenyahan sampel tersebut akan semakin tinggi pula, sehingga semakin baik untuk dikonsumsi.
Hasil yang berbeda pada sampel yang digunakan (biskuit, buah mangga, jelly), disebabkan oleh beberapa faktor, seperti :
1. Kadar air, semakin tinggi kadar air, maka sampel akan lebih lunak. Jika kadar air lebih rendah, maka sampel akan keras.
2. Gula reduksi, semakin tingi gula reduksi pada sampel, maka sampel akan lebih keras.
3. Gas atau udara pada lingkungan sekitar dapat mempengaruhi kerapuhan sampel, seperti pada biskuit.
Dari hasil yang didapatkan setelah pengujian, nilai hardness dari bakso sebesar 1.173,50 g/mm2, biskuit Roma Malkist sebesar 2.441,00 g/mm2, buah melon madu sebesar 172,50 g/mm2, buah melon apel sebesar 219,00 g/mm2, tahu curah sebesar 383,50 g/mm2, dan tahu bermerk sebesar 566,50 g/mm2. Dapat dilihat bahwa nilai hardness paling tinggi terdapat pada kerupuk. Bila diurutkan dari nilai hardness tertinggi, maka makanan yang mempunyai tekstur paling keras adalah kerupuk, Hal ini disebabkan karena beberapa faktor, yaitu crackers tidak menggunakan telur sedangkan biskuit menggunakan telur sebagai bahan tambahan, serta tepung terigu yang digunakan pada pembuatan crackers adalah tepung terigu lunak yang mempunyai kandungan protein yang rendah.
Tepung terigu adalah bahan utama dalam pembuatan biskuit dan memengaruhi proses pembuatan adonan. Selama proses pengolahan biskuit menggunakan 100% tepung terigu. Jika menggunakan tepung terigu protein rendah (8-9%) akan menghasilkan kue yang rapuh dan kering merata. Crackers menggunakan tepung terigu berprotein rendah sehingga teksturnya lebih rapuh dan kering, sedangkan biskuit mempunyai tekstur yang lebih keras (Rohimah, 2014).
Telur yang dipakai pada pembuatan kue kering bisa kuning telur, putih telur atau keduanya. Kue yang menggunakan kuning telur saja akan lebih empuk, sebaliknya bila menggunakan putih telur untuk memberi kelembaban, nilai gizi sekaligus membangun struktur kue. Telur juga membuat produk lebih mengembang karena dapat menangkap udara selama pengocokan. Putih telur bersifat sebagai pengikat/pengeras. Kuning telur bersifat sebagai pengempuk (Rohimah, 2014). Karena biskuit menggunakan telur sebagai bahan tambahan sedangkan crackers tidak, maka dari itu teksturnya lebih keras daripada crackers.
Dapat dilihat pada nilai hardness tahu bermerk lebih tinggi daripada tahu curah. Hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu ada hubungan yang positif antara struktur jaringan dan tekstur tahu, yakni dengan pendinginan kedelai dihasilkan struktur tahu yang lebih rapat dan padat dan menunjukkan nilai parameter tekstur yang lebih tinggi. Kerapatan jaringan tahu berpengaruh dalam menentukan keras tidaknya tahu yang dihasilkan.
Tekstur pada makanan sangat ditentukan oleh kadar air, kandungan lemak, dan jenis karbohidrat serta protein penyusunnya. Kadar air juga dapat mempengaruhi tekstur jika kadar air tinggi tekstur juga menjadi lembek, selain itu kadar pati juga mempengaruhi jika kadar pati rendah juga akan menjadikan tekstur menjadi lembek. Daya patah dipengaruhi juga oleh viskositas adonan suatu bahan, jika viskositas rendah maka daya patahnya menurun. Kandungan lemak dalam bahan diduga berperan penting dalam menentukan daya patah. Komposisi unik dari tiap jenis lemak menentukan kemampuan spesifiknya dalam membentuk tekstur (Singgih dan Harijono, 2015).
Salah satu faktor lain yang mempengaruhi tekstur bahan adalah porositas bahan. Porositas bahan dapat diperbesar dengan “puffing”. Inti dari pemakasan bertekanan (puffing) terhadap bahan yang dimasak adalah perubahan suhu dan tekanan yang terjadi tiba-tiba. Dengan adanya perubahan tekanan yang terjadi secara tiba-tiba maka akan terjadi pemekaran pada produk yang dimasak yang berarti juga bahan menjadi porus (Rahayoe, 2009).
Secara fisik, bila dipegang sampel dodol, belimbing, kerupuk, wafer bertekstur keras sedangkan sampel bakso, jelly, tahu, roti, mie basah, yoghurt bertekstur kenyal dan agak lembek. Pengukuran tekstur dilakukan dengan alat texture analyzer jenis LFRA merk Brookefield yang berfungsi untuk menganalisis tekstur. Tekstur analizer ini dihubungkan dengan komputer, serta dijalankan dengan program Texture ProLite. Prinsip dari analisis tekstur adalah memberikan tekanan kepada sampel dengan menggunakan probe dengan berbagai tipe. Alat tekstur analizer ini akan merekam data hasil pengujian lalu hasil tersebut akan diubah ke bentuk kurva profil tekstur.
Berikut adalah komponen-komponen alat LFRA tekstur analyzer :
1.Scroll: komponen yang berfungsi untuk   mengubah posisi meja objek (menaikkan atau menurunkan) sesuai dengan tinggi sampel yang akan diukur teksturnya.
2.Tempat pemasang probe: komponen yang berfungsi sebagai tempat untuk memasang probe yang spesifik untuk setiap sampel.
3.Meja objek: komponen yang berfungsi untuk meletakkan sampel yang akan diukur teksturnya.
4.Tombol On / Off: komponen ini terletak di bagian belakang alat, yang berfungsi untuk mematikan atau menghidupkan alat.
5.Komputer: berfungsi untuk mencatat rekaman gaya deformasi yang mengenai sampel, hasil akhirnya berupa kurva profil tekstur.
Proses pengukuran tekstur melibatkan Texture Analyzer, komputer (program Texture ProLite), dan printer. Program Microsoft ExcelTM juga berperan dalam proses pengukuran tekstur. Mekanisme kerja Texture Analyzer adalah adanya pencatatan hasil pengukuran (profil tekstur) ke dalam grafik profil tekstur.
Menurut Johnson dan Szczesniak (2014) probe merupakan komponen yang berfungsi untuk memberikan gaya deformasi pada sampel yang akan diukur teksturnya. Macam-macam probe yaitu:
1.Ball probe: berperan dalam pengukuran kekenyalan sampel, dalam percobaan ini digunakan untuk tahu, contohnya TA 17.
2.Spherical/Round probe: berperan dalam pegukuran tekstur keras atau padat, dalam percobaan ini digunakan untuk crackers, contohnya TA 18.
3.General probe: berperan untuk pengukuran tekstur sampel yang bersifat keras namun hidroskopis (mengandung air), dalam percobaan ini digunakan untuk buah, contohnya TA 39.
Pengoperasian alat Texture Analyzer memiliki tahapan-tahapan, yaitu:
1.Alat Tekstur Analizer dan komputer dinyalakan.
Pertama, alat dinyalakan dengan cara menekan tombol on yang ada di bagian belakang alat setelah itu komputer juga dinyalakan.
2.Probe dipasang pada tempat probe sesuai sampel yang akan diukur.
3. Jarak antara meja objek dan probe diatur.
 Jarak diatur agar probe tidak sampai  mengenai objek. Sampel yang akan diukur diletakkan di meja objek, lalu diatur jaraknya dengan letak probe kira-kira ±0,5cm dari sampel. Setelah itu sampel diambil kembali, dan pada saat percobaan untuk mempercepat waktu maka pada meja objek ditambahkan pengganjal agar posisi sampel lebih tinggi.
  4. Program Texture ProLite dibuka.
  5. Diklik pada bagian define new test.
    6. Diisi bagian trigger point, test speed, target value, dan probe type.
Trigger point adalah besarnya gaya yang digunakan beban probe untuk menyentuh sampel, dan pada program diisi sebesar 20 g. Test speed adalah kecepatan probe menyentuh sampel (semakin cepat maka semakin rendah tingkat akurasinya), pada program diisi sebesar 0,5 mm/s. Target value adalah kedalaman probe menyentuh sampel sekitar setengah dari tebal sampel, dan diisi sesuai dengan ½ ketebalan sampel setelah dihitung dengan penggaris. Probe type diisi sesuai dengan tipe probe yang digunakan.
7.Ketebalan sampel diukur menggunakan   penggaris.
8. Diisi bagian target test.
Target test digunakan untuk menentukan tes yang dilakukan pada sampel. Bila bendanya keras, maka dipilih compression sedangkan bila bendanya kenyal dipilih TPA. Misalnya, pada uji pertama menggunakan crackers maka checklist di bagian compression.
9. Texture Results diisi sesuai parameter sampel.
Bagian primary calculation diklik semuanya kecuali area cycle 1 dan 2 (untuk pengukuran sampel crackers dan buah, namun jika sampelnya tahu maka area cycle 1 dan 2 juga diklik) lalu menu secondary calculation diklik pada bagian work done to hardness 1. Setelah itu, pada additional calculaltions diklik di bagian sample length.
10. Diisi bagian General Results.
Semua bagian standard results dalam tab general results diklik kecuali special results.
11. Probe dibiarkan berkalibrasi terlebih dahulu.
12. Sampel kembali diletakkan di meja objek.
13. Tombol Run Test diklik untuk menjalankan pengukuran tekstur.
14. Hasil kurva dicetak dengan printer.
Setelah alat berhenti bekerja, maka akan didapatkan kurva profil tekstur. Sebelum dapat melihat kurvanya, terlebih dahulu file di save di folder, kemudian tekan tombol view load/time chart untuk melihat keseluruhan hasil pengukuran beserta kurvanya

KESIMPULAN
Dalam praktikum ini dapat disimpulkan bahwa Nilai hardness menunjukkan gaya yang dbutuhkan suatu sampel sampai mengalami deformasi atau perubahan bentuk. Nilai hardness terendah yaitu tahu dengan rata-rata sebesar 1.8622 N dan yang tertinggi yaitu wafer sebesar 64.0111 N. hardness bakso sebesar 25.0612 N, kerupuk sebesar 20.0362 N, roti sebesar  19.3963 N, dodol sebesar 17.0658 N, beliimbing sebesar 10.1246 N, dan jelly sebesar 9.1676 N.
Nilai cohesiveness menunjukkan kekuatan ikatan penyusun komponen bahan pangan. Nilai cohesiveness terbesar yaitu bakso sebesar 0.7187, diikuti dodol sebesar 7.08028, yang terkecil yaitu jelly sebesar 6.6061. Nilai springiness menyatakan keelastisan suatu bahan, laju bahan kembali ke keadaan semula setelah terdeformasi. Nilai springiness tertinggi yaitu jelly sebesar 0.995086, bakso sebesar 0.9320, dan yang terkecil yaitu dodol sebesar 0.8094.



DAFTAR PUSTAKA
Hellyer, J. 2004. Quality Testing with Instrumental Texture Analysis in Food Manufactering. http://www. Labplusinternational.com. (diakses 5 Juni 2016).

Ihekoronye,A.J., dan Ngoddy,P.O. 1985. Integrated  Food  Science  and
Technology for the Tropics. Macmillan Publs, Ltd.

Astawan, Wisnu. 1998. Kedelai: Khasiat dan Teknologi. Bumi Aksara. Jakarta.
Handoko, T. 2011. Pengaruh Jenis Daging, Jenis Tepung Beras, dan Rasio dalam Formulasi dan Rheologi Adonan Pakan Anjing.   http://journal.unpar.ac.id/index.php/rekayasa/article/viewFile/118/105. Diakses pada 12 Juni 2016.
Irawati, R,2001. Pembuatan Dodol Waluh (Kajian Penambahan Tepung Ketan dan Terigu Serta Gula Pasir) Tehadap Sifat Fisik, Kimia dan Organoleptik. Skripsi Fakulta Teknologi Pertanian. Universitas Brawijaya. Malang.
    Kim, S.K. 2014. Seafood Science: Advances in Chemistry, Technology, and Application. CRC Press, USA.
Muchtadi, D. N. dan Yuwono, S. S. 2014. Penentuan Atribut Mutu Tekstur Tahu
    untuk Direkomendasikan Sebagai Syarat    Tambahan dalam Standar Nasional Indonesia. Jurnal Pangan dan Agroindustri 2(4): 259–267.
Rohimah, I. 2014. Analisis Energi Dan protein Serta Uji Daya Terima Biskuit hTepung Labu Kuning dan Ikan Lele. http://repository.usu.ac.id/bitstream/
Makfoeld, D., Marseno, D., Hastuti, P., Anggrahini, S., Raharjo, S., Sastrosuwignyo, S., Suhardi., Martoharsono, S., Hadiwiyoto, S., dan Tranggono. 2002. Kamus Istilah Pangan dan Nutrisi. Kanisius, Yogyakarta.
Pratama, R. I., Rostini, I., dan Liviawaty, E. 2014. Karakteristik Biskuit dengan Penambahan Tepung Tulang Ikan Jangilus (Istiophorus sp.). Jurnal Akuatika 5(1): 30–39.
Rahayoe, S., Rahardjo, B., dan Wahid, A. 2009. Model Kinetika Perubahan Sifat Mekanis Ubi Kayu (Manihot esculenta Crantz) Selama Pemasakan


sumber
http://yejepe.blogspot.com/2017/03/laporan-praktikum-10-analisis-pangan_4.html

“PENGENALAN ALAT-ALAT LABORATORIUM”

LAPORAN PRAKTIKUM
“PENGENALAN ALAT-ALAT LABORATORIUM”










                                       OLEH:
NAMA              : MUHAMMAD AL FICHRY FALIHI
NIM                   : Q1A116031
KELOMPOK    : 2
KELAS              : A





JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI DAN INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016
I.     PENDAHULUAN
1.1.  Latar belakang
 Pengenalan alat-alat praktikum penting dilakukan guna untuk keselamatan kerja dalam melakukan proses penelitian. Selain itu juga pengenalan alat praktikum bertujuan agar mahasiswa mengetahui nama dan fungsi dari alat-alat tersebut. Alat-alat praktikum sangat di butuhkan dalam proses penilitian atau pun praktikum terutama dalam proses praktikum kimia. Ada banyak sekali alat-alat yang digunakan dan mempunyai fungsi masing-masing didalam bidang keilmuan atau pun proses penilitian tentu alat-alat ini sangat di butuhkan sekali. Alat-alat laboratorium juga dapat berbahaya jika terjadi kesalahan dalam prosedur pemakaiannya. Maka diperlukannya pengenalan alat-alat laboratorium agar penggunaan alat tersebut dapat dipergunakan dengan fungsi dan prosedur yang baik dan benar, sehingga kesalahan yang terjadi dapat diminimalisir sedikit mungkin. Hal ini penting agar mendapatkan hasil penelitian yang baik dan benar. Data-data yang tepat akan meningkatkan kualitas penelitian seseorang.
Dalam praktikum pengenalan alat-alat laboratorium dan alat-alat sterilisasi akan dijelaskan secara detail mengenai fungsi dan spesifikasi masing-masing alat tersebut. Sterilisasi adalah usaha untuk membebaskan bahan-bahan dari mikrobia yang tidak diinginkan. Jadi Alat-alat sterilisasi adalah alat yang digunakan untuk membebaskan suatu bahan atau alat lain dari mikrobia yang tidak diinginkan. Pada umumnya kegiatan praktek laboratorium diarahkan pada upaya agar mahasiswa dituntut untuk menguji, memverifikasi atau membuktikan hukum atau prinsip ilmiah yang sudah dijelaskan oleh dosen, asisten dosen atau buku teks.
1.2. Tujuan
Tujuan dari praktikum Pengenalan Alat-alat Laboratorium adalah sebagai berikut :
1.        Mahasiswa dapat mengetahui jenis dan fungsi beberapa peralatan  laboratorium yang dibutuhkan dalam pengujian mikrobiologis.
2.        Mahasiswa dapat mengoperasikan peralatan dan mengetahui cara penanganan agar dapat berfunsgsi dengan benar.











II.     TINJAUAN PUSTAKA
Pekerjaan dalam laboratorium biasanya sering menggunakan beberapa alat gelas. Penggunaan alat ini dengan tepat penting untuk diketahui agar pekerjaan tersebut dapat berjalan dengan baik. Keadaan yang aman dalam suatu laboratorium dapat kita ciptakan apabila ada kemauan dari para pekerja, pengguna, maupun kelompok pekerja laboratorium untuk menjaga dan melindungi diri, diperlukan kesadaran bahwa kecelakaan yang terjadi dapat berakibat pada dirinya sendiri maupun orang lain disekitarnya. Tujuan dari praktikum pengenalan alat ini adalah untuk mengenal beberapa macam alat gelas yang sering digunakan dalam laboratorium dan penggunaanya (Ginting, 2010).
Pengenalan alat- alat praktikum penting dilakukan guna untuk keselamatan kerja dalam melakukan proses penelitian. Selain itu juga pengenalan alat praktikum bertujuan agar mahasiswa mengetahui nama dan fungsi dari alat-alat tersebut. Alat-alat praktikum sangat dibutuhkan dalam proses penelitian ataupun praktikum terutama dalam proses praktikum kimia banyak sekali alat-alat yang digunakan dan mempunyai fungsi masing-masing didalam bidang keilmuan atau pun proses penelitian tentu alat-alat ini sangat dibutuhkan sekali alat-alat laboratorium juga dapat berbahasa jika terjadi kesalahan dalam prosedurpemakaiannya maka diperlukan pengenalan alat-alat laboratorium agar pengguanaan alat tersebut dapat dipergunakan dengan fungsi dan prosedur yang baik dan benar, sehingga kesalahan yang terjadi dapat diminimalisir sedikit  mungkin hal ini penting agar mendapatkan hasil penelitian yang baik dan benar, data–data yang tepat akan meningkatkan kualitas penelitian seseorang (Hokayuruke, 2013).
Secara umum fungsi setiap alat diberikan secara umum karena tidak mungkin semua fungsi diutarakan dalam melakukan kegiatan di laboratorium. Untuk memudahkan dalam memahami alat-alat laboratorium, penulisan alat-alat diurut sesuai dengan abjad. Agar supaya alat-alat laboratorium dapat digunakan dalam waktu relatif lama dalam keadaan baik, perlu pemeliharaan dan penyimpanan yang memadai (Koesmadja, 2006).
Saat melakukan pengamatan, terutama jika hasil yang diharapkan berupa data kuantitatif, dibutuhkan ketelitian yang sangat tinggi. Seringkali kita membutuhkan alat bantu untuk mendapatkan ketelitian yang diharapkan. Peralatan yang digunakan dalam pengamatan biasanya digunakan untuk mengukur atau mengamati objek-objek yang  ukurannya tidak dapat diamati langsung oleh indera manusia. Penggunaan alat-alat pengamatan harus dilakukan secara hati-hati agar dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama, terutama peralatan laboratorium. Dalam menggunakan peralatan laboratorium kamu harus memiliki keterampilan, kecermatan, dan ketelitian agar diperoleh data yang akurat. Untuk itu, kita perlu mengenali bagian-bagian dan cara kerja dari alat tersebut. Berikut akan disampaikan beberapa alat yang sering digunakan dalam pengamatan dan praktikum (Puspita,rohima 2009).
Eksperimen dan praktek laboratorium merupakan bagian dari pengajaran sains. Bekerja di laboratorium sains adalah suatu hal yang melibatkan benda nyata dan juga mengamati perubahan yang diamati. Ketika sains bergerak melampaui dunia pengalaman menuju generalisasi yang lebih abstrak yang memungkinkan penjelasan dan peramalan, pengalaman secara dekat adalah titik awal untuk generalisasi ilmiah dan pembuatan teori. Sehingga praktik laboratorium dan eksperimen merupakan bagian yang esensial dalam pengajaran sains sebagai produk ini (Wahyudi, 2011).
                                                                         
                                   











III.    METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1. Tempat Dan Waktu
        Praktikum Pengenalan Alat-alat Laboratorium di laksanakan di Laboratorium Agroteknologi Unit Fitopatologi Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo pada hari Rabu, tanggal 21 September 2016 Pukul 08.00-10.00 WITA.
 3.2. Bahan dan Alat
        Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu ,gelas kimia, gelas ukur, tabung reaksi, erlenmeyer, hot plate, pipet, sikat tabung, sentrifuse, loupe, cawan petri, cultur chamber, mikroskop cahaya, lampu Bunsen, jarum ose, timbangan analitik, autoclave, dan shaker water bath.
      3.3. Prosedur kerja
             Proses kerja pada praktikum Pengenalan Alat-alat laboratorium adalah adalah sebagai berikut :
1.    Menyiapkan dan mengenali alat-alat laboratorium mikrobiologi dasar.
2.    Mengenali fungsi dan kegunaan alat-alat laboratorium mikrobiologi dasar.
3.    Dokumentasi alat-alat laboratorium mikrobiogi dasar.





IV.    HASIL DAN PEMBAHASAN
   4.1. Hasil
Hasil praktikum pengenalan alat-alat laboratprium dapat di lihat pada table di bawah ini:
Tabel Hasil praktikum pengenalan alat-alat laboratorium.
NO
NAMA
GAMBAR
1.
Gelas kimia
     
2.
Gelas ukur



3.
Tabung reaksi



4.
Erlenmeyer
           
5.
Hot plate

6.
Pipet mikro

7.
Sikat tabung

8.
Sentrifuse

9.
Loupe

10.
Cawan petri

11.
Cultur chamber

12.
Mikroskop cahaya

13.
Lampu Bunsen

14.
Jarum ose

15.
Timbangan Analitik

16.
Autoclave

17.
Shaker water bath


3.2.  Pembahasan
Praktikum yang berjudul “Pengenalan Alat” ini membahas mengenai alat-alat yang akan di pergunakan pada praktikum mikrobiologi. Pada praktikum pertama ini, kami dikenalkan pada beberapa peralatan yang nantinya akan digunakan di praktikum mikrobiologi, diantaranya yaitu Gelas kimia, gelas ukur,tabung reaksi, erlenmeyer, hot plate, pipet, sikat tabung, sentrifuse, loupe, cawan petri, cultur chamber, mikroskop cahaya, lampu bunsen, jarum ose, timbangan analitik, autoclave, dan shaker water bath.
Gelas kimia berdiameter besar dengan skala sepanjang dindingnya, terbuat dari kaca borosilikat yang tahan panas, berfungsi untuk mengukur volume larutan yang tidak memerlukan tingkat ketelitian yang tinggi, menampung zat kimia, memanaskan cairan dan media pemanasan cairan. Cara menggunakannya yaitu dibersihkan, dikalibrasi, lalu dikeringkan dengan lap. Alat ini juga bisa digunakan untuk menyimpan koloni.
Gelas ukur berupa gelas tinggi dengan skala disepanjang dindingnya, terbuat dari kaca atau plastik yang tidak tahan panas, berfungsi untuk mengukur volume larutan tidak memerlukan  tingkat  ketelitian yang tinggi dalam jumlah tertentu. Selain itu juga gelas ukur memiliki fungsi untuk mengukur volume larutan.
Tabung raeksi berupa tabung yang terkadang dilengkapi tutup, terbuat dari kaca borosilikat tahan panas, berfungsi sebagai tempat untuk mereaksikan bahan kimia dan untuk melakukan reaksi kimia dalam skala kecil. Cara menggunakannya yaitu dibersihkan terlebih dahulu lalu dikalibrasi dengan aqua DM setelah itu lap dengan lap atau kertas isap. Kemudian sampel yang akan direaksikan dimasukkan ke dalam tabung reaksi.
Erlenmeyer berupa gelas yang diameternya semakin ke atas semakin  kecil dengan skala sepanjang dindingnya, berfungsi untuk menyimpan dan  memanaskan suatu koloni. Cara menggunakannya yaitu dibersihkan, dikalibrasi, lalu dikeringkan dengan lap. Kemudian suatu larutan dimasukkan lalu dititrasi, kemudian digoyangkan memutar labu erlenmeyernya larutan, menampung filtrate hasil  penyaringan, dan menampung titran ( larutan yang dititrasi) pada proses filtrasi. Selain itu juga labu erlenmeyer juga memiliki fungsi untuk menyimpan koloni pada saat pengamatan.
Hot plate, alat ini berfungsi untuk menghomogenisasikan suatu larutan yaitu dengan pengadukan. Dengan alat ini proses pengadukan akan lebih cepat, alat ini juga bisa digunakan untuk pembuatan media bakteri. Pipet berupa tabung kaca bergaris dan memiliki kran diujungnya, berfungsi untuk mengeluarkan larutan dengan volume tertentu, biasanya digunakan untuk titrasi. Cara menggunakannya yaitu dibersihkan, dikalibrasi, lalu dikeringkan dengan batang pengaduk yang ditutupi dengan kertas isap. Periksa keadaan kerannya dan tetesannya apakah bocor atau tidak. Lalu dikalibrasi dengan larutan yang akan dimasukkan ke dalam buret, periksa apakah ada gelembung atau tidak. Buka keran perlahan untuk mengeluarkan larutannya.
Sikat tabung, adalah alat yang  digunakan untuk membersihkan tabung reaksi yang dimana bulu sikatnya terbuat dari kawat halus. Sentrifuse, adalah alat yang berfungsi untuk memisahkan partikel padat pada cairan yang digerakan oleh motor listrik. Sentrifuse digunakan untuk menghomogenkan partikel-partikel yang ukurannya lebih ringan dari partikel-partikel yang ukuirannya lebih besar. Loupe digunakan untuk membesarkan objek serta untuk melihat sel yang berukuran mikroskopis.
Loupe adalah alat yang terdiri dari sebuah lensa cembung yang berguna untuk memperbesar benda-benda kecil sehingga Nampak lebih besar dan jelas. Cawan petri, adalah sebuah wadah yang berbentuk bundar dan terbentuk dari bahan plastic dan kaca, mempunnyai ukuran berbeda-beda, yang digunakan untuk membiakkan sel dan juga untuk mengkultur bakteri, spora atau biji-bijian. Cawan petri plastik di gunakan hannya satu kali saja.
Cawan petri yaitu wadah yang menyerupai mangkuk dengan dasar rata. Cawan ini digunakan sebagai wadah penyimpanan dan pembuatan kultur media. Prinsip kerjanya yaitu, medium diletakkan di dalam cawan petri kemudian ditutup dengan menggunakan penutup cawan. Culture chamber, adalah  alat untuk mengingkubasi atau memeram mikroba pada suhu yang terkontrol. Alat ini dilengkapi dengan pengatur suhu dan pengatur waktu. Didalam laboratorium mikrobiologi digunakan untuk menumbuhkan bakteri pada suhu tertentu,menumbuhkan ragi, dan jamur, menyimpan biakan murni mikroorganisme pada suhu rendah.
Mikroskop cahaya, berfungsi untuk memperbesar objek 4 hingga 24 kali sehingga mempermudakan pengamatan pada objek yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. Lampu Bunsen, adalah lampu berbahan bakar spiritus yang digunakan untuk sterilisasi panas dan mempertahankan sterilisasi ruang inokulasi, isolasi dan transfer mikroba.
Lampu Bunsen untuk pemijaran serta untuk mensterilisasikan mikroba dan mengamankan praktikan pada saat melakukan penanaman medium. Jarum ose, alat berupa kawat baja berujung  membulat yang digunakan untuk mengambil mikroba yang diinkubasi, diisolasi atau di transfer ke media kultur lain. Prinsip kerjanya Jarum Ose disentuhkan pada bagian mikroba kemudian menggosokkan pada kaca preparat untuk diamati.
Timbangan analitik, sebuah alat yang berfungsi untuk mengukur massa suatu benda dengan akurasi sampai ±0,0001 gram dan mempunyai penutup yang terbuat dari kaca. Autoclave, adalah pemanasan tertutup yang digunakan untuk mensterilisasi suatu benda menggunakan uap bersuhu dan bertegangan tinggi.        
Autoclave yaitu alat yang berfungsi untuk sterilisasi dengan uap panas bertekanan. Alat ini terdiri dari bejana tekanan tinggi yang dilengkapi manometer dan klep bahaya. Autoclave dipakai untuk sterilisasi medium atau larutan atau alat-alat yang tahan terhadap suhu tinggi. Shaker water bath digunakan untuk menghomogenkan suspensi bahan terlarut dan pelarut serta untuik menumbuhkan mikroba dan media cair dengan suhu tertentu dan hitunganya 134 permenit.










                                                                               



V. PENUTUP
5.1. Kesimpulan
       Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.        Alat yang di gunakan dalam melakukan pratikum ini adalah, gelas kimia ,gelas ukur ,tabung reaksi ,erlenmeyer ,hot plate ,pipet tetes, mikropipet ,sikat tabung ,sentrifuse ,loupe ,cawan petri,cultur chamber ,mikroskop cahaya ,lampu busen ,jarum ose ,timbangan analitik ,autoclave ,shaker water bath.
2.        Masing-masing alat pratikum memiliki fungsi dan pengguunaan yang berbeda-beda. Seperti gelas kimia berfungsi untuk mengukur volume larutan yang tidak memerlukan tingkat ketelitian yang tinggi, menampung zat kimia, memanaskan cairan dan media pemanasan cairan. Cara menggunakannya yaitu dibersihkan, dikalibrasi, lalu dikeringkan dengan lap. Gelas Ukur berfungsi untuk mengukur volume segala benda dengan ketelitian yang tinggi. Tabung reaksi berfungsi sebagai wadah untuk mereaksikan dua atau lebih larutan. Erlenmeyer berfungsi untuk menampung larutan yang akan dititrasi pada proses titras. Hot plate  berfungsi untuk menghomogenkan suatu larutan dengan pengadukan. Mikropipet mempunyai fungsi seperti pipet tetes, yaitu untuk memindahkan cairan atau larutan,mikropipet dapat menyerap cairan yang terukur. Sikat tabung berfungsi untuk membersihkan alat-alat laboratorium  seperti gelas kimia,tabung reaksi,dan gelas ukur berbentuk nya seperti sikat. Sentrifiuse berfungsi untuk menghomogenkan suatu zat dan juga untuk memisahkan cairan dengan padatan. Loupe atau kaca pembesar berfungsi sebagai pembesar suatu objek,berbentuk seperti bulatan kaca.Cawan petri digunakan untuk membiakan (kultivasi) mikroorganisme pada suatu medium yang dituangkan diatas cawan petri. Cultur chamber berfungsi untuk menyimpan alat-alat yang sudah di sterilka,berbentuk seperti oven. Mikroskop cahaya untuk melihat benda-benda yang sangat kecil seperti mokroorganisme. Lampu bunsen berfungsi untuk memanaskan suatu zat dan mengunakan spiritus sebagai bahan bakar nya. Jarum ose berfungsi untuk mengambil dan menyebar sample koloni mikroba pada medium padat atau cair. Timbangan analitik memiliki fungsi membantu untuk mengukur berat bahan secara terukur. Autoclave adalah alat pemanas tertutup yang digunakan untuk mensterilisasi  suatu benda menggunakan uap bersuhu dan bertekanan tinggi  selama kurang lebih 15 menit. Water bath berfungsi untuk menciptakan suhu yang konstan dan digunakan untuk inkubasi pada analisis mikrobiologi.
5.2. Saran
       Saran saya, Pengenalan alat-alat laboratrium merupakan suatu hal yang sangat penting karena merupakan suatu dasar dari praktikum agar tidak terjadi kesalahan dan diharapkan agar praktikan dalam perawatan alat-alat laboratorium lebih ditingkatkan lagi, sehingga alat-alat laboratorium bisa digunakan dalam waktu yang lebih lama. Praktikum pengenalan alat merupakan praktikum yang sangat penting karena alat-alat yang akan digunakan kita selaku praktikan wajib terlebih dahulu mengetahuinya, maka dari itu praktikan wajib memahami serta dapat menggunakan alat-alat yang ada di laboratorium mikrobiologi agar tidak ada kesalahan-kesalahan pada saat praktikum. dan diharapkan alat yang akan digunakan untuk praktikum pengenalan alat bisa lebih banyak lagi agar para praktikan tidak berdesakan hanya untuk melihat alat yang hanya ada satu atau ssedikit.

















DAFTAR PUSTAKA
Ginting. 2009. Kimia Universitas Asas dan Struktur, hlm 325 dan 331.  Binarupa Aksara. Jakarta.
Koesmadja, 2006.Kimia Dasar.  Erlangga. Jakarta.
Hokayuruke, 2013. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Industri. Fakultas Pertanian  Universitas Lambung Mangkurat. Banjarbaru.
Puspita, Rohima, 2009.  Alam Sekitar IPA Terpadu : untuk SMP/MTs Kelas
VII. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.
Wahyudi, 2011. Diktat Penuntun Praktikum Mikrobiologi Pangan.Universitas                    Padjajaran, Jatinangor.


sumber
https://alfichry.blogspot.com/2016/11/v-behaviorurldefaultvmlo.html

Saturday, October 19, 2019

LAPORAN MORFOLOGI KOLONI JAMUR

LAPORAN MORFOLOGI KOLONI JAMUR





                                                                       ACARA IV
MORFOLOGI KOLONI JAMUR
PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Jamur merupakan organisme yang sel-selnya berinti sejati atau eukariotik, berbentuk benang, bercabang-cabang, tidak berklorofil, dinding selnya mengandung selulosa, kitin atau keduanya, heterotrof dan sebagian besar tubuhnya terdiri dari bagian vegetatif berupa hifa dan generatif yaitu spora. Kebanyakan jamur masuk ke dalam kelompok kapang. Tubuh vegetatif kapang berbentuk filament panjang bercabang yang seperti benang disebut hifa. Hifa akan memanjang dan menyerap makanan dari permukaan substrat. Sedangkan jamur dalam kelompok khamir bersifat uniseluler (berinti satu), bentuknya bulat atau oval. Pengamatan morfologi sangat penting untuk identifikasi dan determinasi. Pengamatan morfologi dapat dilakukan pengamatan secara makroskopis dan mikroskopis (Coyne dalam Ardhy, 2013). Oleh karena itu, perlu dilakukan praktikum morfologi koloni jamur ini dilaksanakan.

Tujuan Praktikum
            Praktikum ini bertujuan untuk mengamati pertumbuhan jamur, mengamati bentuk-bentuk koloni jamur.



TINJAUAN PUSTAKA
            Fungi (jamur) merupakan organism eukariot yang memiliki dinding sel yang tersusun dari kitin dan memiliki nukleat yang banyak. Fungi bersifat kemoorganotof, karena mendapatkan nutrisi dengan cara mensekresikan enzim ekstrakseluler yang dapat mencerna senyawa organik kompleks seperti polisakarida dan protein penyusun monomer, dan kemudian diserap ke dalam sul fungi. Fungi berperan di ekosistem sebagai decomposer, hidup dengan mencerna materi organik dsri sisa-sisa makhluk hidup seperti sampah daun, kayu tumbang serta jasad organisme yang sudah mati. Fungi juga bisa berperan sebagai parasit, hidup dengan menyerap nutrient dan sel hidup dari organisme inang yang mereka serang (Madigan, 2009).
            Fungi ada yang bersifat parasit dan ada pula yang bersifat saprofit. Parasit apabila dalam memenuhi kebutuhan makanannya dengan mengambil dari benda hidup yang ditumpanginya, sedangkan bersifat saprofit apabila memperoleh makanan dari benda mati dan tidak merugikan benda itu sendiri. Fungi dapat mensintesis protein dengan mengambil sumber karbon dari karbohidrat (misalnya sukrosa, glukosa, dan maltosa), sumber nitrogen dari bahan organik atau anorganik, dan mineral dari substranya (Dwidjoseputro, 2010).
            Jamur dibagi menjadi dua yaitu khamir (yeast) dan kapang (mold). Khamir adalah bentuk sel tunggal dengan pembelahan secara pertunasan. Khamir mempunyai sel yang lebih besar daripada kebanyakan bakteri, tetapi khamir yang paling kecil tidak sebesar bakteri yang terbesar. Biasanya berbentuk telur, tetapi ada beberapa yang memanjang atau berbentuk bola. Setiap spesies mempunyai bentuk yang khas. Khamir tidak dilengkapi flagellum atau organ-organ penggerak lainnya. Tubuh atau tallus suatu kapang pada dasarnya terdiri dari bagian miselium dan spora. Miselium merupakan kumpulan beberapa filamen yang dinamakan hifa. Setiap hifa lebarnya 5-10 um, dibandingkan dengan sel bakteri yang besarnya berdiameter 1 um (Coyne dalam Ardhy, 2013).
            Fungi dapat ditemukan pada arena substrat, baik di lingkungan darat, perairan, maupun udara. Tidaklah sulit menemukan fungi di alam karena bagian vegetatifnya yang umumnya berupa miselium berwarna putih  mudah terlihat pada substrat yang membusuk (kayu lapuk, buah-buahan, yang terlalu masak, makanan yang membusuk). Konidianya atau tubuh buahnya dapat mempunyai aneka warna (merah, hitam, jingga, putih) pada daun batang, kertas, tekstil, kulit dan lain-lain. Tubuh buah fungi langsung dapat dilihat dengan kasat mata, sedangkan miselium vegetatif yang menyerap makanan hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop (Waluyo, 2005).
            Pengamatan morfologi jamur sangat penting untuk identifikasi dan determinasi. Dalam pengamatan morfologi secara mikroskopis ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu hifa bersepta atau tidak, transparan atau keruh, berwarna atau tidak, atau bentuk, warna, ukuran dan sebagainya (Anonim, 2009).
            Khamir merupakan fungsi uniseluller tanpa misellium, hanya merupakan sel tunggal. Beberapa khamir berbentuk spheroidal,  elip, berbentuk lemon atau silinder. Reproduksi aseksualnya dengan bertunas atau berfusi. Beberapa khamir tidak memproduksi spora sehingga disebut asporogenous dan digolongkan kedalam fungi imporfekti. Adapun khamir yang memproduksi spora, khamir ini disebut sporagenous dan digolongkan ke dalam kelas ascomicetes dan basidiomycetes (Sumarsih, 2011).




















PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat Praktikum
            Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, 11 November 2014 di Laboratorium Mikrobiologi Pangan Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Universitas Mataram.

Alat dan Bahan Praktikum
a.         Alat-alat praktikum
Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah cawan petri, lampu Bunsen, jarum ose, incubator, vortex, tabung reaksi, yellow tip, mikropipet, blue tip.
b.                  Bahan-bahan praktikum
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah media Potato Dextrose Agar (PDA), media Nutrient Agar, alkohol, aquades, biakan Bacillus sp., Buffer Phospate.

Prosedur Kerja
1.    Diambil kultur dengan menggunakan jarum ent yang sudah diseterilkan.
2.    Dicelupkan jarum ent ke dalam Buffer Phospate pengenceran.
3.    Divortex.
4.    Dibuat pengenceran sampai Buffer Phospate.
5.    Diambil cairan  Buffer Phospatesebanyak 1 ml dengan pipet mikro setelah itu dicampurkan dengan larutan Buffer Phospate dan divortex.
6.    Diambil larutan Buffer Phospate dengan menggunakan pipet mikro sebanyak 1 ml.
7.    Dimasukkan ke dalam cawan petri yang berisi media PDA.
8.    Diratakan dengan menggunakan drigalski setalah itu diberi label PDA
9.    Dilakukan langkah 1 sampai 8 untuk membiakkan inokulum pada media PDA .
10. Diinkubasi selama 2 hari pada suhu 3C.
11. Diamati morfologi koloninya.
























HASIL PENGAMATAN
Tabel 4.1. Hasil Pengamatan Morfologi Jamur
No.
Medium PDA
Gambar Asli
Keterangan
1
U1

1.      Sporangium
2.      Spora
3.      Sporangiopora
4.      Germinating Spore
5.      Stolon
6.      Rhizoid
Dalam hasil pengamatan jamur berwarna kuning terdapat hifa dan tumbuh menyebar serta jamur tumbuh sedikit.
2
U2

1.      Sporangium
2.      Spora
3.      Sporangiospora
4.      Germinating Spore
5.      Stolon
6.      Rhizoid
Dalam hasil pengamatn jamur berwarna putih, terdapat hifa, tumbuh menyebar dan jamur tumbuh ebih banyak.









PEMBAHASAN
            Fungi (jamur) adalah mikroorganisme tidak berklorofil, berbentuk hifa atau sel tunggal, eukariotik, berdinding sel dari kitin atau selulosa, berproduksi seksual dan aseksual. Dalam dunia kehidupan fungi merupakan kingdom tersendiri, karena cara mendapatkannya berbeda dengan organism eukariotik lainnya yaitu melalui absorpsi. Sebagian besar tubuh fungi terdiri atas benang-benang yang disebut hifa, yang saling berhubungan menjalin semacam jala yaitu miselium. Miselium dapat dibedakan atas miselium vegetatif yang berfungsi menyerap nutrient dan lingkungannya dan miselium fertil yang berfungsi dalam reproduksi (Gandjar, 1999).
            Jamur memiliki arti yang khas yaitu berupa benang tunggal bercabang-cabang yang disebut miselium, atau berupa kumpulan benang-benang yang padat menjadi satu. Jamur tidak memiliki klorofil sehingga hidupnya heterotrof. Jamur berkembang biak secara vegetatif dan generatif dengan berbagai macam spora. Pembiakan jamur secara generatif dengan berbagai macam spora. Pembiakan jamur secara generatif atau aseksual dilakukan dengan isogamet atau heterogamete (Dwidjoseputro, 2010).
            Praktikum morfologi koloni jamur ini menggunakan medium Potato Dextrose Agar (PDA) yang merupakan medium organik semi alamiah. Berdasarkan konsistensinya merupakan medium padat karena mengandung agar, dan berdasarkan kegunaanya merupakan medium pertumbuhan jamur.
            Berdasarkan hasil pengamatan percobaan, pada media PDA 1 atau , jamur yang diperoleh mempunyai hifa, berwarna kuning, tumbuh meyebar pada permukaan dan jamur yang tumbuh hanya sedikit. Sedangkan pada media PDA 2 atau , jamur yang diperoleh mempunyai hifa, berwarna putih, tumbuhnya meyebar serta jamur yang tumbuh lebih banyak dari media PDA 1. Perbedaan yang terjadi pada warna jamur PDA 1 dan PDA 2 kemungkinan disebabkan kesalahan pada saat praktikum. Jamur yang seharusnya tumbuh berwarna putih, namun pada media PDA 1, jamur yang tumbuh berwarna kuning. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh adanya kontaminasi pada saat proses praktikum atau terjadi kesalahan pada saat meratakan media dengan drigalski sehingga media menjadi rusak.
Praktikum ini dilakukan pengenceran bertingkat. Pengeceran ini bertujuan untuk memperkecil atau mengurangi kepadatan mikroba yang tersuspensi dalam cairan. Pengenceran juga mempengaruhi jumlah pertumbuhan jamur. Penanaman dilakukan secara duplo agar apabila terjadi kesalahan atau kegagalan pada penanaman masih ada cadangan yang tersedia.
            Kemungkinan jamur yang tumbuh dilihat dari morfologinya adalah Rhizopus sp. Jenis Rhizopus oryzae yaitu jamur yang sering digunakan dalam pembuatan tempe. Ciri- ciri Rhizopus oryzae terdiri dari benang-benang hifa yang bercabang dan berjalinan membentuk miselium, hifa tidak bersekat (bersifat senositik), septa atau sekat antar hifa hanya ditemukan pada saat sel reproduksi terbentuk, dinding selnya tersusun dari kitin, koloni berwarna putih berangsur-angsur menjadi abu-abu, stolon halus atau sedikit kasar dan tidak berwarna hingga kuning kecoklatan, sporangiofora tumbuh dari stolon dan mengarah ke udara, baik tunggal atau dalam kelompok, rhizoid tumbuh berlawanan dan terletak pada posisi yang sama dengan sporangiosfora, sporangia berwarna coklat gelap sampai hitam bila telah masak, kolumela oval hingga bulat, dengan dinding halus atau sedikit kasar, spora bulat, oval atau berbentuk elips atau silinder (Waluyo, 2005).



















KESIMPULAN
      Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan, maka dapat ditarik kesimpulan anatara lain:
1.      Jamur merupakan sel organisme eukariotik, mikroorganisme tidak berklorofil, berbentuk hifa atau sel tunggal, berdinding sel kitin atau selulosa, bereprodukasi seksual dan aseksual.
2.      Potato Dextrose Agar (PDA) pada sampel  dan  mendapatkan hasil yang sama yaitu terdapat hifa, hanya pada sampel  lebih banyak sari .
3.      Pengenceran bertingkat bertujuan untuk memperkecil atau mengurangi kepadatan mikroba yang tersuspensi pada cairan.
4.      Pengenceran dilakukan agar memudahkan identifikasi jamur dan pengenceran mempengaruhi jumlah tumbuhnya jamur.
5.      Kemungkinan jamur yang tumbuh dalam praktikum ini diduga merupakan Rhizopus oryzae.
MORFOLOGI KOLONI JAMUR
PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Jamur merupakan organisme yang sel-selnya berinti sejati atau eukariotik, berbentuk benang, bercabang-cabang, tidak berklorofil, dinding selnya mengandung selulosa, kitin atau keduanya, heterotrof dan sebagian besar tubuhnya terdiri dari bagian vegetatif berupa hifa dan generatif yaitu spora. Kebanyakan jamur masuk ke dalam kelompok kapang. Tubuh vegetatif kapang berbentuk filament panjang bercabang yang seperti benang disebut hifa. Hifa akan memanjang dan menyerap makanan dari permukaan substrat. Sedangkan jamur dalam kelompok khamir bersifat uniseluler (berinti satu), bentuknya bulat atau oval. Pengamatan morfologi sangat penting untuk identifikasi dan determinasi. Pengamatan morfologi dapat dilakukan pengamatan secara makroskopis dan mikroskopis (Coyne dalam Ardhy, 2013). Oleh karena itu, perlu dilakukan praktikum morfologi koloni jamur ini dilaksanakan.

Tujuan Praktikum
            Praktikum ini bertujuan untuk mengamati pertumbuhan jamur, mengamati bentuk-bentuk koloni jamur.



TINJAUAN PUSTAKA
            Fungi (jamur) merupakan organism eukariot yang memiliki dinding sel yang tersusun dari kitin dan memiliki nukleat yang banyak. Fungi bersifat kemoorganotof, karena mendapatkan nutrisi dengan cara mensekresikan enzim ekstrakseluler yang dapat mencerna senyawa organik kompleks seperti polisakarida dan protein penyusun monomer, dan kemudian diserap ke dalam sul fungi. Fungi berperan di ekosistem sebagai decomposer, hidup dengan mencerna materi organik dsri sisa-sisa makhluk hidup seperti sampah daun, kayu tumbang serta jasad organisme yang sudah mati. Fungi juga bisa berperan sebagai parasit, hidup dengan menyerap nutrient dan sel hidup dari organisme inang yang mereka serang (Madigan, 2009).
            Fungi ada yang bersifat parasit dan ada pula yang bersifat saprofit. Parasit apabila dalam memenuhi kebutuhan makanannya dengan mengambil dari benda hidup yang ditumpanginya, sedangkan bersifat saprofit apabila memperoleh makanan dari benda mati dan tidak merugikan benda itu sendiri. Fungi dapat mensintesis protein dengan mengambil sumber karbon dari karbohidrat (misalnya sukrosa, glukosa, dan maltosa), sumber nitrogen dari bahan organik atau anorganik, dan mineral dari substranya (Dwidjoseputro, 2010).
            Jamur dibagi menjadi dua yaitu khamir (yeast) dan kapang (mold). Khamir adalah bentuk sel tunggal dengan pembelahan secara pertunasan. Khamir mempunyai sel yang lebih besar daripada kebanyakan bakteri, tetapi khamir yang paling kecil tidak sebesar bakteri yang terbesar. Biasanya berbentuk telur, tetapi ada beberapa yang memanjang atau berbentuk bola. Setiap spesies mempunyai bentuk yang khas. Khamir tidak dilengkapi flagellum atau organ-organ penggerak lainnya. Tubuh atau tallus suatu kapang pada dasarnya terdiri dari bagian miselium dan spora. Miselium merupakan kumpulan beberapa filamen yang dinamakan hifa. Setiap hifa lebarnya 5-10 um, dibandingkan dengan sel bakteri yang besarnya berdiameter 1 um (Coyne dalam Ardhy, 2013).
            Fungi dapat ditemukan pada arena substrat, baik di lingkungan darat, perairan, maupun udara. Tidaklah sulit menemukan fungi di alam karena bagian vegetatifnya yang umumnya berupa miselium berwarna putih  mudah terlihat pada substrat yang membusuk (kayu lapuk, buah-buahan, yang terlalu masak, makanan yang membusuk). Konidianya atau tubuh buahnya dapat mempunyai aneka warna (merah, hitam, jingga, putih) pada daun batang, kertas, tekstil, kulit dan lain-lain. Tubuh buah fungi langsung dapat dilihat dengan kasat mata, sedangkan miselium vegetatif yang menyerap makanan hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop (Waluyo, 2005).
            Pengamatan morfologi jamur sangat penting untuk identifikasi dan determinasi. Dalam pengamatan morfologi secara mikroskopis ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu hifa bersepta atau tidak, transparan atau keruh, berwarna atau tidak, atau bentuk, warna, ukuran dan sebagainya (Anonim, 2009).
            Khamir merupakan fungsi uniseluller tanpa misellium, hanya merupakan sel tunggal. Beberapa khamir berbentuk spheroidal,  elip, berbentuk lemon atau silinder. Reproduksi aseksualnya dengan bertunas atau berfusi. Beberapa khamir tidak memproduksi spora sehingga disebut asporogenous dan digolongkan kedalam fungi imporfekti. Adapun khamir yang memproduksi spora, khamir ini disebut sporagenous dan digolongkan ke dalam kelas ascomicetes dan basidiomycetes (Sumarsih, 2011).




















PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat Praktikum
            Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, 11 November 2014 di Laboratorium Mikrobiologi Pangan Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Universitas Mataram.

Alat dan Bahan Praktikum
a.         Alat-alat praktikum
Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah cawan petri, lampu Bunsen, jarum ose, incubator, vortex, tabung reaksi, yellow tip, mikropipet, blue tip.
b.                  Bahan-bahan praktikum
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah media Potato Dextrose Agar (PDA), media Nutrient Agar, alkohol, aquades, biakan Bacillus sp., Buffer Phospate.

Prosedur Kerja
1.    Diambil kultur dengan menggunakan jarum ent yang sudah diseterilkan.
2.    Dicelupkan jarum ent ke dalam Buffer Phospate pengenceran.
3.    Divortex.
4.    Dibuat pengenceran sampai Buffer Phospate.
5.    Diambil cairan  Buffer Phospatesebanyak 1 ml dengan pipet mikro setelah itu dicampurkan dengan larutan Buffer Phospate dan divortex.
6.    Diambil larutan Buffer Phospate dengan menggunakan pipet mikro sebanyak 1 ml.
7.    Dimasukkan ke dalam cawan petri yang berisi media PDA.
8.    Diratakan dengan menggunakan drigalski setalah itu diberi label PDA
9.    Dilakukan langkah 1 sampai 8 untuk membiakkan inokulum pada media PDA .
10. Diinkubasi selama 2 hari pada suhu 3C.
11. Diamati morfologi koloninya.
























HASIL PENGAMATAN
Tabel 4.1. Hasil Pengamatan Morfologi Jamur
No.
Medium PDA
Gambar Asli
Keterangan
1
U1

1.      Sporangium
2.      Spora
3.      Sporangiopora
4.      Germinating Spore
5.      Stolon
6.      Rhizoid
Dalam hasil pengamatan jamur berwarna kuning terdapat hifa dan tumbuh menyebar serta jamur tumbuh sedikit.
2
U2

1.      Sporangium
2.      Spora
3.      Sporangiospora
4.      Germinating Spore
5.      Stolon
6.      Rhizoid
Dalam hasil pengamatn jamur berwarna putih, terdapat hifa, tumbuh menyebar dan jamur tumbuh ebih banyak.









PEMBAHASAN
            Fungi (jamur) adalah mikroorganisme tidak berklorofil, berbentuk hifa atau sel tunggal, eukariotik, berdinding sel dari kitin atau selulosa, berproduksi seksual dan aseksual. Dalam dunia kehidupan fungi merupakan kingdom tersendiri, karena cara mendapatkannya berbeda dengan organism eukariotik lainnya yaitu melalui absorpsi. Sebagian besar tubuh fungi terdiri atas benang-benang yang disebut hifa, yang saling berhubungan menjalin semacam jala yaitu miselium. Miselium dapat dibedakan atas miselium vegetatif yang berfungsi menyerap nutrient dan lingkungannya dan miselium fertil yang berfungsi dalam reproduksi (Gandjar, 1999).
            Jamur memiliki arti yang khas yaitu berupa benang tunggal bercabang-cabang yang disebut miselium, atau berupa kumpulan benang-benang yang padat menjadi satu. Jamur tidak memiliki klorofil sehingga hidupnya heterotrof. Jamur berkembang biak secara vegetatif dan generatif dengan berbagai macam spora. Pembiakan jamur secara generatif dengan berbagai macam spora. Pembiakan jamur secara generatif atau aseksual dilakukan dengan isogamet atau heterogamete (Dwidjoseputro, 2010).
            Praktikum morfologi koloni jamur ini menggunakan medium Potato Dextrose Agar (PDA) yang merupakan medium organik semi alamiah. Berdasarkan konsistensinya merupakan medium padat karena mengandung agar, dan berdasarkan kegunaanya merupakan medium pertumbuhan jamur.
            Berdasarkan hasil pengamatan percobaan, pada media PDA 1 atau , jamur yang diperoleh mempunyai hifa, berwarna kuning, tumbuh meyebar pada permukaan dan jamur yang tumbuh hanya sedikit. Sedangkan pada media PDA 2 atau , jamur yang diperoleh mempunyai hifa, berwarna putih, tumbuhnya meyebar serta jamur yang tumbuh lebih banyak dari media PDA 1. Perbedaan yang terjadi pada warna jamur PDA 1 dan PDA 2 kemungkinan disebabkan kesalahan pada saat praktikum. Jamur yang seharusnya tumbuh berwarna putih, namun pada media PDA 1, jamur yang tumbuh berwarna kuning. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh adanya kontaminasi pada saat proses praktikum atau terjadi kesalahan pada saat meratakan media dengan drigalski sehingga media menjadi rusak.
Praktikum ini dilakukan pengenceran bertingkat. Pengeceran ini bertujuan untuk memperkecil atau mengurangi kepadatan mikroba yang tersuspensi dalam cairan. Pengenceran juga mempengaruhi jumlah pertumbuhan jamur. Penanaman dilakukan secara duplo agar apabila terjadi kesalahan atau kegagalan pada penanaman masih ada cadangan yang tersedia.
            Kemungkinan jamur yang tumbuh dilihat dari morfologinya adalah Rhizopus sp. Jenis Rhizopus oryzae yaitu jamur yang sering digunakan dalam pembuatan tempe. Ciri- ciri Rhizopus oryzae terdiri dari benang-benang hifa yang bercabang dan berjalinan membentuk miselium, hifa tidak bersekat (bersifat senositik), septa atau sekat antar hifa hanya ditemukan pada saat sel reproduksi terbentuk, dinding selnya tersusun dari kitin, koloni berwarna putih berangsur-angsur menjadi abu-abu, stolon halus atau sedikit kasar dan tidak berwarna hingga kuning kecoklatan, sporangiofora tumbuh dari stolon dan mengarah ke udara, baik tunggal atau dalam kelompok, rhizoid tumbuh berlawanan dan terletak pada posisi yang sama dengan sporangiosfora, sporangia berwarna coklat gelap sampai hitam bila telah masak, kolumela oval hingga bulat, dengan dinding halus atau sedikit kasar, spora bulat, oval atau berbentuk elips atau silinder (Waluyo, 2005).



















KESIMPULAN
      Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan, maka dapat ditarik kesimpulan anatara lain:
1.      Jamur merupakan sel organisme eukariotik, mikroorganisme tidak berklorofil, berbentuk hifa atau sel tunggal, berdinding sel kitin atau selulosa, bereprodukasi seksual dan aseksual.
2.      Potato Dextrose Agar (PDA) pada sampel  dan  mendapatkan hasil yang sama yaitu terdapat hifa, hanya pada sampel  lebih banyak sari .
3.      Pengenceran bertingkat bertujuan untuk memperkecil atau mengurangi kepadatan mikroba yang tersuspensi pada cairan.
4.      Pengenceran dilakukan agar memudahkan identifikasi jamur dan pengenceran mempengaruhi jumlah tumbuhnya jamur.
5.      Kemungkinan jamur yang tumbuh dalam praktikum ini diduga merupakan Rhizopus oryzae.


sumber
http://tikagpravitri.blogspot.com/2015/09/morfologi-koloni-jamur.html

Laporan praktikum ANALISIS PANGAN (KADAR SERAT KASAR)

Laporan praktikum 5 ANALISIS PANGAN (KADAR SERAT KASAR)
ANALISIS PENENTUAN KADAR SERAT KASAR
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN

Yoga Jati Pratama (240210140003)

Departemen Teknologi Industri Pangan Universitas Padjadjaran, Jatinangor
Jalan Raya Bandung-Sumedang Km. 21, Jatinangor, Sumedang 40600 Telp. (022) 7798844, 779570 Fax. (022) 7795780 Email: yoga.jpratama1@gmail.com

ABSTRAK
            Serat kasar adalah bagian dari pangan yang tidak dapat dihidrolisis oleh bahan-bahan kimia yang digunakan untuk menentukan kadar serat kasar yaitu asam sulfat (H2SO4) dan natrium hidroksida (NaOH). Mutu serat dapat dilihat dari komposisi komponen serat makanan terdiri dari komponen yang larut dan komponen tidak larut.  Komponen dari serat kasar ini tidak mempunyai nilai gizi, akan tetapi serat ini sangat penting untuk proses memudahkan dalam pencernaan di dalam tubuh agar proses pencernaan tersebut lancar (Peristaltic). Tujuan dari praktikum kali ini yaitu untuk menentukan serat kasar pada bahan bayam, kangkung, papaya, daun papaya, dan wortel. Metode yang digunakan yaitu metode hidrolisis asam dan basa serta metode gravimetri. Praktikum ini dilakukan di Lab kimia pangan FTIP UNPAD pada hari Selasa tanggal 29 Maret 2016.

Kata kunci : Serat kasar, bayam, hidrolisis, gravimetri.






PENDAHULUAN

Serat adalah zat non gizi, ada dua jenis serat yaitu serat makanan (dietry fiber) dan serat kasar (crude fiber). Peran utama dari serat dalam makanan adalah pada kemampuannya mengikat air, selulosa dan pektin. Dengan adanya serat, membantu mempercepat sisa-sisa makanan melalui saluran pencernaan untuk disekresikan keluar. Tanpa bantuan serat, feses dengan kandungan air rendah akan lebih lama tinggal dalam saluran usus dan mengalami kesukaran melalui usus untuk dapat diekskresikan keluar karena gerakan-gerakan peristaltik usus besar menjadi lebih lamban.
Serat kasar adalah bagian dari pangan yang tidak dapat terhidrolisis oleh bahan-bahan kimia yang digunakan untuk menentukan kadar serat kasar yaitu asam sulfat (H2SO4 0,225N) dan natrium hidroksida (NaOH 0,313N). Serat kasar merupakan bagian dari karbohidrat dan didefinisikan sebagai fraksi yang tersisa setelah didigesti dengan larutan asam sulfat standar  dan natrium hidroksida pada kondisi yang terkontrol. Pengukuran serat kasar dapat dilakukan dengan menghilangkan semua  bahan yang larut dalam asam dengan pendidihan dalam asam sulfat (Hunter, 2002).
Bahan makanan yang mengandung banyak serat kasar lebih tinggi kecernaannya dibanding bahan makanan yang lebih banyak mengandung bahan ekstrak tanpa nitrogen (Arif, 2006). Prinsipnya  komponen dalam suatu bahan yang tidak dapat larut dalam pemasakan dengan asam encer dan basa encer selama 30 menit adalah serat kasar dan abu sebagaimana  pendapat Allend (1982) yang menyatakan bahwa serat kasar adalah karbohidrat yang tidak larut setelah dimasak berturut-turut dalam larutan asam sulfat dan NaOH. Untuk mendapatkan nilai serat kasar, maka bagian yang tidak larut tersebut (residu) dibakar sesuai dengan prosedur analisis abu. Selisih antara residu dengan abu adalah serat kasar (Ridwan, 2002).
Langkah pertama metode pengukuran kandungan serat kasar adalah menghilangkan semua bahan yang terlarut dalam asam dengan pendidihan dengan asam sulfat bahan yang larut dalam alkali dihilangkan dengan pendidihan dalam larutan sodium alkali. Residu yang tidak larut adalah serat kasar (Soejono, 1990).

Metodologi

            Alat yang digunakan pada praktikum kali ini untuk analisis kadar serat kasar yaitu erlemeyer, gelas ukur, kondensor, corong, pompa vakum, oven, desikator, kondensor, alat pemanas, klem dan statif, gelas kimia, timbangan analitis, labu didih, kaca arloji, kertas lakmus, dan kertas saring.
            Bahan yang digunakan pada  praktikum kali ini untuk analisis kadar serat kasar yaitu sampel bayam, kangkung, papaya, wortel, dan daun papaya. Kemudian bahannya yaitu H2SO4 0,225N, NaOH 0,313 N, kalium sulfat  (K2SO4 10%), aquades panas, 7,5 ml alcohol 95%.

Prosedur analisis penentuan serat kasar metode gravimetri
Pertama yaitu timbang 1,25 gram sampel yang telah dihaluskan terlebih dulu kemudian masukan kedalah erlemneyer asah setelah itu tambahkan 100ml H2SO4 0,0225 N lakukan refluks selama 30 menit setelah itu saring endapan pada sampel yang masih panas kemudian cuci dengan akuades hingga netral setelah itu pindahkan residu ke dalam erenmeyer asah dan tambahkan NaOH 0,313 N lakukan refluks kembali yang bertujuan untuk mempercepat reaksi termal dengan melakukan hal itu pada suhu tinggi (yaitu titik didih pelarut itu) setelah itu saring dengan kertas saring setelah konstan cuci dengan 7,5 ml k2s04 10%, 50 ml aquades panas, 7,5 ml alcohol 95% kemudian keringkan di oven hingga konstan.

Hasil dan Pembahasan

Analisis penentuan serat kasar
Serat makanan hanya terdapat dalam bahan pangan nabati, dan kadarnya bervariasi menurut jenis bahan. Kadar serat dalam makanan dapat mengalami perubahan akibat pengolahan yang dilakukan terhadap bahan asalnya. Sebagai contoh, padi yang digiling menjadi beras putih mempunyai kadar serat yang lebih rendah daripada padi yang ditumbuk secara tradisional. Oleh karena itu beberapa waktu yang lalu muncul dedak padi di pasaran yang dikatakan sebagai obat berbagai macam penyakit.
Serat kasar sangat penting dalam penilaian kualitas bahan makanan karena angka ini merupakan indeks dan menentukan nilai gizi makanan tersebut. Selain itu, kandungan serat kasar dapat digunakan untuk mengevaluasi suatu proses pengolahan, misalnya proses penggilingan atau proses pemisahan antara kulit dan kotiledon, dengan demikian persentase serat dapat dipakai untuk menentukan kemurniaan bahan atau efisiensi suatu proses. Sedangkan serat makanan adalah bagian dari bahan yang tidak dapat dihidrolisis oleh enzim-enzim pencernaan. Serat makanan adalah serat yang tetap ada dalam kolon atau usus besar setelah proses pencernaan, baik yang berbentuk serat yang larut dalam air maupun yang tidak larut dalam air.
Pendidihan sampel menggunakan refluks karena refluks mencegah kehilangan senyawa dalam larutan dengan mengembunkan uap yang dihasilkan dari hasil pendidihan larutan dan tujuan dari refluks dalam pengujian ini mempercepat reaksi hidrolisis yang terjadi. Tujuan penambahan H2SO4 adalah menghidrolisis gula kompleks menjadi gula yang lebih sederhana. Saring dan cuci kertas saring tersebut dengan akuades panas karena untuk mempertahankan suhu yang terkontrol. Apabila digunakan akuades biasa, maka suhu akan menurun yang sebelumnya panas menjadi dingin sehingga tahap digestion tidak dapat berlangsung karena seperti pencernaan tubuh dimana suhunya stabil, tidak berubah maka percobaan ini dilakukan menyerupainya. Oleh karena itu, suhu harus dikontrol. Fungsi lain penambahan akuades panas ini adalah menetralkan residu supaya tidak asam untuk menghentikan proses hidrolisis. Apabila terus menerus dihidrolisis, maka serat pangan juga akan ikut terhidrolisis sehingga nilai yang didapatkan tidak akurat. Selain itu, fungsi dari menetralkan pH adalah untuk melancarkan dan memaksimalisasi reaksi yang terjadi sehingga mengurangi kesalahan yang mungkin terjadi. Untuk menguji kenetralan pH digunakan kertas lakmus yang diletakkan di bagian bawah corong karena indikasi residu normal adalah ketika dicuci dengan akuades tidak akan meninggalkan asam pada kertas lakmus dimana kertas lakmus merah akan berubah menjadi kebiruan Penyaringan harus dikerjakan secepat mungkin karena penundaan akan mengakibatkan rendahnya hasil analisisis. Ketika refluks sedang berlangsung, muncul gelembung di larutan yang menandakan terjadi reaksi basa dengan ester triasilgliserol dari lemak yang ada dalam bahan pangan yang disebut sebagai peristiwa saponifikasi sehingga lemak dalam bahan pangan dihidrolisis. Peristiwa ini disebut juga langkah defattening yaitu menghilangkan lemak yang terkandung dalam bahan pangan dengan pelarut lemak. Penambahan asam, basa, dan panas disini bertujuan untuk menghidrolisa bahan-bahan dalam sampel, serat kasar tidak akan terhidrolisa, sehingga ketika disaring akan menyisakan serat kasar. Namun serat kasar disini belum cukup murni, karena itu perlu adanya perlakuan defatting. Tabel hasil pengamatan penentuan kadar lemak antara lain :

Tabel 1. Hasil Analisis Kadar Serat Kasar
Sampel
W (g)
W1 (g)
W2 (g)
Kadar Serat (g)
Kadar Serat Kasar (%)
Daun Pepaya
1,2511
0,710
0,785
0,0746
5,96
1,2504
0,704
0,779
0,0749
5,99
Kangkung
1,2503
0,738
0,787
0,0488
3,90
1,2507
0,744
0,737
0,0246
1,97
Pepaya
1,2503
0,744
0,770
0,0260
2,08
1,2529
0,699
0,741
0,0420
3,35
Bayam
1,2502
0,736
0,777
0,0405
3,24
1,2513
0,745
0,784
0,0382
3,05
Wortel
1,2501
0,726
0,782
0,0564
4,51
1,2500
0,718
0,766
0,0473
3,78
Sumber : hasil perhitungan TPN A 2014

Berdasarkan tabel di atas sampel yang mempunyai kadar serat kasar paling tinggi adalah sampel daun pepaya dengan rata – rata sebesar 5,97 %. karena daun pepaya relatif tahan terhadap pencahayaan langsung sehingga walaupun daun pepaya terkena sinar matahari akan tetapi itu tidak mengurangi kualitasnya
 Sampel yang mempunyai kadar serat kasar paling rendah adalah sampel kangkung dengan rata- rata sebesar 2,93 %. hal ini mungkin dipengaruhi faktor penambahan larutan yang tidak sesuai, pencucian yang kurang netral dan penyaringan yang kurang pas,   oleh   karena   itu   terdapat   perbedaan   hasil   akhir   kadar   serat   dari kangkung tersebut. Menurut penelitian Clara tahun 2006, besar serat dalam daun pepaya ialah sebesar 2,1 %, bayam sebesar 0,8 %, wortel sebesar 1,1 %. Sedang kan menurut Nutrion Data (2013) serat kasar pada kangkung 2,0 %, bayam 2,2 %, wortel 2,8 %. Semua literatur menunjukan hasil yang berbeda hal ini disebabkan bisa karena berbagai hal yaitu karena berat saat serat kasar dalam sampel masih terdapat serat pangan yang tersisa kemudian bisa juga dari perbedaan sumber sampel yang di teliti dan bisa karena faktor lainnya.
Serat sangat berpengaruh terhadap kesehatan terutama serat yang diperuntukkan bagi diet. Menurut winarno, F.G. 1997, kira-kira hanya sekitar seper lima sampai setengah dari seluruh serat  kasar yang benar-benar berfungsi sebagai dietary fiber. Dietary fiber merupakan komponen dari jaringan tumbuhan  yang tahan terhadap proses hidrolisis  oleh enzim dalam lambung dan usus kecil.  Fungsi dietary fiber dalam hal ini melibatkan asam empedu dan pasien yang mengkonsumsi tinggi serat menghasilkan banyak asam empedu, sterol dan lemak yang dikeluarkan bersama feces dan serat tersebut berfungsi mencegah terjadinya penyerapan kembali asam empedu, lemak dan kolesterol. Dari penelitian klinis ternyata dietary  fiber khususnya pada serealia sangat efektif menanggulangi penyakit  diverticulitis.
Serat dapat berperanan menghalangi penyerapan zat-zat gizi lain seperti lemak, karbohidrat dan protein. Sehingga apabila makanan mengandung kadar serat yang rendah maka hampir semua zat-zat gizi tersebut dapat diserap oleh tubuh. Di samping itu serat makanan dapat mempercepat rasa kenyang. Hal ini disebabkan karena orang akan mengunyah lebih lama bila dalam makanan terkandung kadar serat yang tinggi, sehingga sekresi saliva dan cairan gastrik akan lebih banyak dikeluarkan, yang kemudian kelebihannya akan masuk ke dalam lambung.
Serat mempunyai peran yang penting bagi kesehatan tubuh. Almatsier (2009) menyatakan bahwa serat sangat penting dalam proses pencernaan makanan dalam tubuh. Kekurangan serat dapat menyebabkan konstipasi, apenaistis, alverculity, hemoroid, diabetes melitus, penyakit  jantung koroner dan batu ginjal. Kekurangan serat juga dihubungkan dengan berbagai  penyakit gastrointestinal. Wirjatmadi et al. (2002) menambahkan kebutuhan serat untuk manusia sangatlah bervariasi menurut pola makan dan tidak ada anjuran kebutuhan sehari secara khusus untuk serat makanan.
Namun kecukupan asupan serat kini dianjurkan semakin tinggi, mengingat banyak manfaat yang menguntungkan untuk kesehatan tubuh, adequate intake (AI) untuk serat makanan sebagai acuan untuk menjaga kesehatan saluran pencernaan serta kesehatan lainnya, kini telah dikeluarkan oleh Badan Kesehatan Internasional. AI untuk serat makanan  bagi orang dewasa adalah 20-35 g/hari (Fransisca, 2004). Sebelumnya menurut Southgate (1972) hanya 16-28 g/hari (Southgate, 1975) atau  1-4% dari crude intake British diets (Southgate, 1973). Serat makanan dalam American diets diperkirakan  sekitar 5-8 g/100 g crude fiber (Burkitt, 1972).   Menurut petunjuk Diet RSCM (1982), angka kecukupan serat yang dianjurkan 25g/1000 kal, dan menurut Hardinsyah dan Tambunan (2004) angka kecukupan serat bagi orang dewasa yaitu 19-30 g/kap/hari sedangkan bagi anak-anak adalah 10-14 g/1000 kkal. Speller et al. (1975), dan Stasse et al. (1989) menyarankan intik ideal dari dietary fiber untuk memperoleh  berat feses 140 – 150 g/hari dan transit time kurang dari 3 hari. (Clara, 2006). Namun, beberapa peneliti mengemukakan adanya keragaman di dalam respon tubuh untuk meningkatkan intik serat makanan, karena komponen serat yang berbeda akan memberikan efek fisiologis  yang berbeda pula.
Mutu serat dapat dilihat dari komposisi komponen serat makanan, dimana komponen serat makanan terdiri dari komponen yang larut (Solube Dietary Fiber), dan komponen yang tidak larut (Insoluble Dietary Fiber). Serat yang tidak larut dalam air ada 3 macam, yaitu selulosa, hemiselulosa dan lignin. Serat tersebut banyak terdapat pada sayuran, buah-buahan dan kacang-kacangan. Sedangkan serat yang larut dalam air adalah pectin, musilase, dan gum. Serat ini juga banyak terdapat pada buah-buahan, sayuran, dan sereal. Sedangkan gum banyak terdapat pada akasia.

KESIMPULAN & SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Serat kasar merupakan bahan makanan pertanian yang merupakan sisa-sisa sel tumbuhan yang tahan terhadap reaksi hidrolis enzim-enzim saluran pencernaan kemudian sampel yang mempunyai kadar serat kasar paling tinggi adalah sampel daun pepaya dengan rata – rata sebesar 5,97 %. Sampel yang mempunyai kadar serat kasar paling rendah adalah sampel kangkung dengan rata- rata sebesar 2,93 %. Menurut semua literatur dari hasil penelitian  menunjukan hasil yang berbeda hal ini disebabkan bisa karena berbagai hal yaitu karena berat saat serat kasar dalam sampel masih terdapat serat pangan yang tersisa kemudian bisa juga dari perbedaan sumber sampel yang di teliti dan bisa karena faktor lainnya juga.

Saran
harus lebih teliti dan hati-hati dalam melakukan praktikum, Pada saat proses praktikum berlangsung hendaklah lebih memahami cara kerja, praktikum tersebut dipahami dengan baik agar praktikum tersebut berjalan dengan baik. Kemudian jagalah alat-alat yang ada dalam praktikum karena alat-alat tersebut juga sangat menentukan terlaksana atau tidaknya praktikum.




DAFTAR PUSTAKA
AACC. 2001. The Definition of Dietary Fiber.
Anna Poedjiadi, 1994.Dasar-Dasar Biokimia. Penerbit UI-Press: Jakarta

Setiasih, 2009 Pengantar Teknologi Pangan. PT Bumi Akasa. Jakarta

Sudarmadji,Slamet dkk. 2010.  Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Liberty Yogyakarta. Yogyakarta

Andarwulan, N., Feri K., dan Dian H. 2011. Analisis Pangan. PT. Dian Rakyat : Jakarta
Winarno, F.G. 1997. Kima Pangan dan Gizi. PT Gramedia Pustaka, Jakarta.
Clara M. Kusharto. 2006. Serat makanan dan peranannya bagi kesehatan  (Dietary Fiber and Its Role for Health). Jurnal Gizi dan Pangan, November 2006 1(2): 45-54.

Hardinsyah & Tambunan V. 2004. Angka Kecukupan Energi, Protein dan Serat Makanan. Dalam Soekirman et al.  (Eds.), Ketahanan Pangan dan Gizi di Era Otonomi Daerah dan Globalisasi. Pro- siding Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII (hlm. 317-330), 17-19 Mei. LIPI, Jakarta.


sumber
http://yejepe.blogspot.com/2017/03/laporan-praktikum-5-analisis-pangan.html